Arah Dasar KAS

Umat Allah Menegaskan Arah

Friday, September 02, 2005

Ardas KAS 1996-2000 penjelasan

PROSES TERJADINYA RUMUSAN ARDAS-KAS 1996-2000

Sejauh mungkin pembuatan Ardas-KAS 1996-2000 dilandaskan pada evaluasi pelaksanaan Ardas-KAS 1990-1995 dan situasi penggembalaan Keuskupan Agung Semarang sebagai salah satu kenyataan Gereja universal. Usaha ini melibatkan beberapa pihak. Pihak pertama adalah Dewan Paroki Inti di Paroki-paroki Keuskupan Agung Semarang. Dewan ini adalah aparat Dewan Paroki yang terdiri dari: Para Rama, ketua, sekretaris, bendahara, koordinator wilayah (Klaau ada), ketua wilayah/stasi, dan ketua-ketua seksi. Disamping itu barangkali ada Paroki-paroki tertentu yang menambahkan pihak/unsur lain. Pihak kedua adalah Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP-KAS). Ini terdiri dari: Kuria (Uskup Agung, Vikaris Jendral, Sekretaris Jendaral, Ekonom atau penanggungjawab keuangan), Konsul (para Provinsial SJ, MSF, wakil para Rama Praja serta Rama lain yang ditunjuk), para Vikaris Episkopalis (Vikep), dan para ketua Komisi (ketua karya Keuskupan seperti Liturgi, Kateketik, Kerawam). Pihak ketiga adalah Temu Pastoral (Tepas). Ini adalah forum pertemuan para Rama Paroki yang biasanya ditambah dengan beberapa Rama yang menjadi moderator karya tingkat Kevikepan seperti Rama Karya Mahasiswa. Pihak keempat adalah Panitia inti untuk DKP-KAS dan Tepas. Ini adalah kelompok kerja yang dipimpin oleh Vikjen untuk kepentingan DKP-KAS dan Tepas. Pihak kelima adalah Dewan Konsul yang terdiri dari Kuria dan Konsul Keuskupan Agung Semarang.

Sebelum Usulan Rumusan

Sebelum usaha usulan pertama tentang rumusan Ardas dalam Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP-KAS) bulan November 1995, ada beberapa forum pertemuan. Pertemuan pertama adalah rapat dewan Paroki inti sekitar Maret-Mei 1995. Berdasarkan beberapa pertanyaan, yang dikirim oleh Panitia Inti DKP-KAS ke seluruh Dewan Paroki Keuskupan Agung Semarang (yang berjumlah 80), mereka membicarakan jalannya Ardas-KAS 1990-1995 di Parokinya masing-masing. Dalam hal ini Panitia Inti DKP-KAS menerima laporan tertulis dari 58 Paroki. Hasil pembicaraan ini dibawa ke pertemuan kedua dalam rapat pleno DKP-KAS 26-29 Juni 1995. Di sini DKP-KAS berdasarkan pengalaman mereka juga membuat evaluasi jalannya Ardas-KAS 1990-1995, membahas hasil rapat 58 Dewan Paroki Inti tadi serta melihat K3T (Kekuatan, Kelemahan, Kesempatan, Tantangan) yang ada dalam penggembalaan umat Katolik Keuskupan Agung Semarang sejauh diketahui. Dari proses ini DKP-KAS kemudian menyampaikan usul pokok-pokok yang perlu dimasukkan dalam Ardas-KAS 1996-2000. Pertemuan ketiga terjadi di dalam rapat Panitia Inti DKP-KAS 5 September 1995. Berdasarkan laporan 58 Dewan Paroki Inti dan rapat pleno DKP-KAS tadi, Panitia Inti DKP-KAS juga membuat usulan pokok-pokok Ardas-KAS 1996-2000. Hasil tiga pertemuan ini oleh Panitia Inti DKP-KAS dibawa ke pertemuan keempat, yaitu pertemuan rama-rama dari 4 Kevikepan (yang biasa disebut dengan istilah Kolasi Rama-rama Kevikepan). Ini terjadi pada tahun 1995: 1 Oktober (Surakarta), 6 November (Semarang, 7 November (Kedu) dan 8 November (DIY). Dari empat Kolasi Rama-Rama Kevikepan ini juga muncul usulan pokok-pokok untuk Ardas-KAS 1996-2000

Usulan Rumusan

Sebelum rumusan definitif, ada dua usulan rumusan. Usulan pertama dibuat oleh DKP-KAS dalam rapat plenonya pada 13-16 November 1995. Rumusan ini dibuat berdasarkan hasil empat pertemuan di atas. Namun DKP-KAS dalam usulan rumusan Ardas-KAS 1996-2000 juga menggunakan terang iman yang muncul dari hasil Sidang Agung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan wakil-wakil Umat Katolik Indonesia pada tanggal 28 Oktober sampai dengan 2 November 1995. Rumusan yang muncul dari rapat pleno DKP-KAS ini adalah sebagai berikut:

1. Cita-cita
Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat (Lumen Gentium 1.9); Gaudium et Spes 1) bercita-cita
untuk semakin setia mengikuti Yesus Kristus dengan: beriman dewasa, beriman
misioner dan beriman memasyarakat.

2. Tekanan Khusus
Untuk keterlibatan kita dalam hidup ini (band. Ciri beriman memasyarakat), mengingat
situasi kongkret masyarakat kita, cita-cita tersebut diwujudkan dengan usaha
MENJUNJUNG TINGGI MARTABAT MANUSIA.

3. Kepemimpinan
Pelaksanaan cita-cita tersebut hanya bisa dilakukan dengan kepemimpinan partisipatif-transformatif.

Semoga Ia yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).


Usulan kedua datang dari Temu Pastoral (Tepas) pada bulan Januari 1996. Di sini usulan rumusan Ardas-KAS 1996-2000 DKP-KAS disajikan. Tepas membahas dan mengusulkan perubahan-perubahan. Berdasarkan usulan Tepas ini (dan ditambah usulan lain yang muncul di luar Tepas seperti umat Paroki dan Rama yang tidak ikut rapat dewan paroki Inti, DKP-KAS dan Tepat) muncul usulan rumusan berikut yang dibuat oleh Panitia Inti Tepas 1996.

    • Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dalam perkembangan situasi hidup dan budaya
      setempat bercita-cita untuk semakin setia mengikuti Yesus Kristus yang memaklumkan Kerajaan Allah, dengan beriman dewasa, mendalam, misioner dan memasyarakat.
    • Cita-cita tersebut terutama diwujudkan dengan membela kehidupan dan menjunjung tinggi martabat manusia.
    • Pelaksanaan cita-cita tersebut didukung dengan tata-kerja yang mengikutsertakan dan mengembangkan Gereja.
    • Ia yang memulai pekerjaan baik, akan menyelesaikannya (bdk. Flp
      1:6).
Rumusan Definitif

Dua usulan di atas diserahkan dalam pertemuan Dewan Konsul oleh Vikjen pada bulan Februari 1996. Forum inilah yang menentukan rumusan definitif dari Ardas-KAS sekarang yang disebut ARAH DASAR UMAT ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 1996-2000. Dalam rumusan definitif ini ada perubahan beberapa hal dan penambahan pengertian beriman. Naskah selengkapnya yang idmaklumkan dengan tanda tangan Uskup Agung Semarang adalah sebagai berikut:


Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, dalam perkembangan situasi hidup dan
budaya setempat, bercita-cita untuk semakin setia mengikuti Yesus Kristus yang
memaklumkan Kerajaan Allah, dengan beriman dewasa, mendalam, misioner dan
memasyarakat. Dalam hal ini beriman berarti membuka diri untuk menerima Allah, mengalami kehadiranNya baik dalam doa, karya maupun peristiwa. Iman sebagai pengalaman akan Allah mendorong orang untuk mengungkapkan dan mengamalkannya.

Terutama untuk masa kini, cita-cita tersebut terutama diwujudkan dengan
membela kehidupan dan menjunjung tinggi martabat manusia.

Pelaksanaan cita-cita tersebut diperlancar dengan tata penggembalaan
yang mengikutsertakan dan mengembangkan seluruh warga Gereja.

Ia yang memulai pekerjaan baik di antara kita, akan menyelesaikannya
(bdk. Flp 1:6).


Semarang, 18 Februari 1996

Julius Kardinal Darmaatmadja SJ
Uskup Agung Semarang



Yang Dominan adalah Hirarki

Barangkali ada yang berpikir bahwa dari proses pembuatan Ardas-KAS itu, pihak yang dominan adalah mereka yang menjadi kelompok Hirarki. Dalam pandangan Gereja Katolik hal ini dapat dimaklumi. Secara keseluruhan (umum/universal) Gereja dipimpin oleh pengganti para Rasul yang disebut para Uskup. Maka, sejauh mencakup unsur keseluruhan Gereja (yang biasa disebut Keuskupan) yang paling bertanggungjawab dalam penggembalaan atau pengembangan Jemaat adalah Uskup. Di dalam karyanya, Uskup dibantu oleh para imam dan diakon yang diangkat dengan pentahbisan. Dengan demikian, karena Ardas menjadi arah penggembalaan untuk Jemaat Keuskupan, yang paling menonjol terlibat dalam pembuatan Ardas-KAS adalah pihak hirarki (Uskup dengan imam dan diakonnya).

CITA-CITA

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat, bercita-cita untuk semakin setia mengikuti Yesus Kristus yang memaklumkan Kerajaan Allah, dengan beriman dewasa, mendalam, misioner dan memasyarakat. Dalam hal ini beriman berarti membuka diri untuk menerima Allah, mengalami kehadiranNya baik dalam doa, karya maupun peristiwa. Iman sebagai pengalaman akan Allah mendorong orang untuk mengungkapkan dan mengamalkannya.

Terjadinya Rumusan

Rumusan dalam bagian cita-cita terdiri dari dua bagian. Yang pertama berisi cita-cita itu sendiri, dan yang kedua berisi arti dari kata beriman.
Rumusan cita-cita dalam Ardas KAS 1996-2000 merupakan penggabungan rumusan dua Ardas-KAS sebelumnya (Periode 1984-1990 dan 1990-1995). Rumusan cita-cita kekdua Ardas-KAS itu adalah sebagai berikut.

Keuskupan Agung Semarang ingin mewujudkan diri sebagai Umat Allah yang
Beriman mendalam, sesuai dengan kebudayaan setempat;
Beriman dewasa, semua turut bertanggungjawab dan terlibat, mandiri;
Beriman misioner, terbuka kepada yang terbuka, siap mewartakan Yesus/Injil; kepada yang tertutup, siap mewartakan yang benar, baik dan suci; kepada yang keyakinan agamanya kuat, mencoba meningkatkan menjadi orang yang betul-betul baik;
Beriman memasyarakat: meresapi segala tata kehidupan bermasyarakat dengan semangat/nilai kristen, (Ardas KAS 1984-1990)
Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat, bercita-cita untuk semakin mengikuti Yesus Kristus secara penuh dalam menjawab dan memaklumkan kabar gembira penyelamatanNya (Ardas-KAS 1990-1995).

Dalam dua kutipan itu jelaslah bahwa yang menjadi pokok rumusan cita-cita Ardas-KAS 1996-2000 adalah Ardas-KAS 1990-1995. Dari Ardas-KAS 1984-1990 yang diambil adalah rincian dari rumusan beriman (mendalam, dewasa, misioner dan memasyarakat). Di situ beriman dewasa didahulukan. Kalau orang sudah beirman dewasa, dengan sendirinya dia akan menghayati lainnya (beriman mendalam, misioner dan memasyarakat). Namun karena pada umumnya umat Katolik Keuskupan Agung Semarang (paling tidak sebagian besar tokoh-tokohnya) sudah biasa dengan rumusan empat kata itu, maka rincian itu dipertahankan.
Yang baru dalam Ardas-KAS 1996-2000 adalah penjelasan arti beriman. Ada beberapa kata yang bisa dicatat: "membuka diri untuk menerima Allah", yang sama artinya dengan "mengalami kehadiran Allah". Kata-kata ini menunjukkan bahwa beirman adalah suasana dinamika diri seseorang bergaul dengan Allah. Beriman menjadi suatu gerakan batin seseorang dalam menerima Allah. Di situ orang akan mengalami Allah yang selalu dekat dengan orang itu. Pengalaman itu terjadi baik dalam kegiatan keagamaan (doa) maupun yang bukan keagamaan (karya dan peristiwa). Dengan demikian dinamika batin ini akan menjadi dorongan dalam diri seseorang untuk menjalankan hidup keagamaan (ungkapan iman) dan hidup sehari-hari dalam keluarga, lingkungan kerja dan pergaulan lainnya (pengalaman iman).

Kata "Umat Allah"

Secara resmi kata Umat Allah tidak mendapatkan penjelasan. Namun di dalam naskah usulan hasil rapat pleno Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP-KAS), istilah Umat Allah diberi penjelasan dalam catatan kaki. Naskah ini memberikan penjelasan: "Dengan menyebut Umat Allah, Keuskupan Agung Semarang ingin meninggalkan mentalitas gambaran Gereja yang hirarkal-piramidal," Gambaran Gereja hirarkal-piramidal berasal dari pandangan bahwa Gereja itu tertama merupakan organisasi yang dilandasi oleh struktur tingkat-tingkat kekuasaan. Tingkat kekuasaan tertinggi adalah Paus dan yang terendah adalah kaum awam. Gambaran Gereja dengan struktur tingkat-tingkat kekuasan ini mau diganti dengan gambaran Gereja sebagai Umat Allah. Ini adalah gambaran Gereja yang dominan dari Konsili Vatikan II. Di dalam gambaran Umat Allah ini yang ditekankan adalah bahwa Gereja merupakan persekutuan orang-orang yang beriman kepada Allah Tritunggal dan yang menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang (bdk. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia dewasa ini No 1). Di dalam Gereja seperti ini yang menjadi pemimpin hanya Kristus dan semua warga Gereja termasuk para imam, suster dan bruder adalah sesama saudara (bdk. Mat 23:8-12). Di sini kehidupan beriman akan tampak dalam kegiatan-kegiatan peribadatan, pewartaan (pengajaran agama, pendalaman iman), paguyuban, keorganisasian dan kemasyarakatan (Kesaksian iman dalam pergaulan dan karya). Dengan demikian gambaran Gereja sebagai Umat Allah juga tidak alergi terhadap unsur keorganisasian. Namun organisasi bukan sebagai struktur tingkat-tingkat kekuasaan. Organisasi adalah tata pengembangan jemaat. Kalau di situ ada berbagai macam bentuk kepengurusan, itu adalah bentuk dari pembagian tugas sebagai ungkapan keikutsertaan sebanyak mungkin warga Gereja dalam pengembangan jemaat.

Kata "Dalam Perkembangan Situasi Hidup dan Budaya Setempat"

Dengan pernyataan ini umat Katolik Keuskupan Agung Semarang di dalam beriman diajak untuk selalu berpijak di dalam kenyatan hidup yang dialami. Di dalam hidup nyata, situasi dan budaya umat Katolik selalu berkembang atau bahkan berubah. Ini menjadi kenyataan sosial bahwa masyarakat tempat umat Katolik hidup selalu berubah. Kenyataan ini meuntut agar iman umat Kaotlik selalu dinamis. Dinamika iman ini juga menjadi corak Gereja yang diutarakan Konsili Vatikan II (bdk. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja No 8C).
Sebagai ancar-ancar umum, barangkali kita perlu mempertimbangkan kenyataan umat beriman sebagai pribadi dan sebagai salah satu bagian dalam kebersamaan masyarakat. Masyarakat dalam kurun zaman selalu mengalami perubahan. Pada umumnya tahap awal masyarakat disebut sebagai masyarakat agraris. Masyarakat yang didominasi dengan pola hidup pertanian dan menggantungkan diri pada alam sekitarnya (termasuk bentuk dan sikap orang-orang di sekitarnya). Kehidupan alamiah, yang membuat corak kolektif dalam kehidupan orang, akan membawa orang pada corak keagamaan yang bersifat mitis (agama yang mendasarkan diri pada ajaran hdiup yang disampaikan dalam kisah-kisah yang mengagumkan). Tahapan berikutnya adalah masyarakat industri. Pola kehidupan industrialisasi (yang ditandai dengan adanya pabrik-pabrik) membawa kehidupan yang diwarnai oleh lembaga-lembaga struktural yang kerap diwarnai keseragaman dalam bagian-bagian tertentu. Di sini pola keagamaan menjadi seperti situasi persekolahan (agama mendasarkan diri pada ajaran pengetahuan). Bentuk masyarakat lain adalah masyarakat informasi. Di sini kehidupan orang sangat diwarnai oleh jalinan hubungan yang memanfaatkan alat-alat komunikasi yang mempergunakan satelit-satelit ruang angkasa. Orang akan dihadapkan oleh adanya ledakan aneka macam ragam pilihan dan pola kehidupan. Di sini orang harus mampu menentukan kehidupannya sendiri. "Yang penting adalah kemampuan memainkan pandangannya sendiri untuk membimbing kerja, cita-cita, hubungan dan bantuannya kepada masyarakat" (Naisbitt, 1990:3). Kehidupan keagamaan dalam masyarakat seperti ini mempunyai sifat fungsional (agama yang mendasarkan diri pada kesadaran kegunaan untuk pengembangkan kehidupan baik pribadi maupun bersama).
Secara pribadi orang atau kelompok tertentu bisa bercorak agraris atau industri atau informasi. Namun dalam kaitannya dengan keseluruhan masyarakat dunia ini, corak informasi, yang ditandai dengan alat-alat informasi yang amat canggih, sangat mewarnai. Masyarakat ini menuju ke kecenderungan satu ekonomi dan satu pasar. Di sini orang masuk ke dalam proses kehidupan ekonomi yang bergerak menuju ketergantungan ekonomi pada kelompok kuasa ekonomi tertentu. Maka secara pribadi orang harus pandai-pandai memainkan pandangannya sendiri untuk kesejahteraan hidupnya. Pola hidup ini, sebagai pribadi dan sebagai bagian dari masyarakat luas, menuntut pola tertentu untuk semakin setia mengikuti Kristus. Kenyataan yang dinamis (mudah berubah atau berkembang) ini membuat tidak ada pola mengikuti Yesus Kristus yang sama untuk segala jaman.

Kata "Yesus Kristus yang Memaklumkan Kerajaan Allah"

Kalimat "yang memaklumkan Kerajaan Allah" dimasukkan sesudah terjadi usulan tentang semangat korban. Dari masukan yang ada disinyalir bahwa sekarang semangat kemartiran memudar. Padahal kalau orang setia mengikuti Yesus Kristus, dia akan mengikuti Yesus Kristus yang berani masuk dalam berbagai resiko hidup bahkan wafat di salib. Kehidupan Yesus Kristus yang seperti itu terjadi karena segala kata dan perbuatanNya terjadi dalam rangka "memaklumkan Kerajaan Allah", yaitu perjuangan demi keselamatan sesama manusia secara utuh. Inilah latar belakang masuknya kalimat "yang memaklumkan Kerajaan Allah". Dengan demikian Ardas-KAS 1996-2000 juga memasukkan semangat berani berkorban sebagai konsekuensi mengikuti Yesus Kristus.

Kata "Beriman Dewasa"

Beriman dewasa:
Sikap mandiri dan mantap dalam keyakinan imannya, turut bertanggungjawab dan terlibat dalam kebersamaan.

Di sini ada penjelasan resmi. Beriman dewasa menunjuk pada dua sikap:
1. Sikap mandiri dan mantap dalam keyakinan imannya
2. Turut bertanggungjawab dan terlibat dalam kebersamaan.

Dua hal tersebut (mandiri dan kebersamaan) merupakan salah satu sikap yang diperlukan untuk membangun Gereja Umat Allah di Indonesia. Bapak Uskup Agung Semarang, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ, ketika mengadakan temuwicara di empat Kevikepan menjelaskan hal tersebut dalam tulisannya Dari Sidang Agung KWI-Umat 28 Oktober - 2 Nopember 1995 yang ditulis di Semarang 1 Februari 1996: "Gereja dan Umat Allah yang lebih mandiri dalam hal personalia dan dana; dalam hal personalia membuka peran lebih besar bagi kaum wanita. Sekaligus semakin kuat dalam kebersamaan antar kelompok, golongan, lingkungan, paroki, Kevikepan dan Keuskupan-keuskupan" (No. 5.3.)

Kata "Beriman Mendalam"

Beriman mendalam:
Bersumber pada Yesus Kristus, meresapi seluruh aspek kehidupan, terbuka dan dapat menerima kebudayaan setempat tanpa mengesampingkan sikap kritis terhadap kebudayaan tersebut.


Untuk kata ini juga ada penjelasan resmi. Beriman mendalam dijelaskan demikian:
1. Bersumber pada Yesus Kristus
2. Meresapi seluruh aspek kehidupan
3. Terbuka dan dapat menerima kebudayaan setempat tanpa mengesampingkan sikap kritis terhadap kebudayaan tersebut.

Yesus Kristus menjadi sumber kemendalaman iman Umat Allah. Karena hanya dalam Kristus Gereja mendapatkan dasar hakikinya (bdk. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja No. 1 ). Di situ Gereja menjadi tanda dan sarana relasi manusia dengan Allah dan dengan sesamanya. Demikian Gereja yang mendalam imannya akan meresapi seluruh aspek kehidupan. Selain daripada itu sikap dan perilaku seseorang juga sangat diwarnai oleh kebudayaannya. Dengan demikian orang beriman harus mau terbuka dan menerima kebudayaannya. Namun penerimaan ini harus terjadi sebagai pengikut Yesus Kristus. Maka dalam hubungannya dengan kebudayaan di mana orang beriman hidup, dia harus bersikap kritis, artinya selalu harus dengan pertimbangan. Pegangan untuk pertimbangan ini adalah hal-hal baik yang berasal dari Injil. (Bdk. Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini No.4).

Kata "Beriman Misioner"

Beriman misioner:
Sadar akan tugas perutusannya mewartakan Injil, yang diwujudkan dalam hidup dan karya sebagai kesaksian iman, serta terbuka terhadap nilai-nilai yang benar dan baik yang ada dalam agama dan kepercayaan lain, dan juga mempunyai komitmen untuk melaksanakannya.

Penjelasan resmi yang diberikan adalah demikian:
1. Sadar akan tugas perutusannya mewartakan Injil, yang diwujudkan dalam hidup dan karya sebagai kesaksian iman.
2. Terbuka terhadap nilai-nilai yang benar dan baik yang ada dalam agama dan kepercayaan lain, dan juga mempunyai komitmen untuk melaksanakannya.

Beriman misioner terutama adalah hidup menjadi saksi iman (bdk. Kis 1:8). Disini orang dituntut menyadari diri sebagai utusan Tuhan di dunia untuk mewartakan Injil. Injil bukan pertama-tama sebagai sebuah buku dalam Kitab Suci. Injil di sini adalah kabar gembira yang disampaikan oleh Yesus Kristus. Di dalam rapat pleno Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP-KAS) 13-16 Juli 1987, Bapa Uskup Julius Kardinal Darmaatmadja SJ menjelaskan hal ini dengan istilah yang menarik dan menggugah setiap umat Katolik, yaitu merasul. Ada tiga bentuk kerasulan 1) mengajar agama; 2) berusaha mengembangkan yang benar, baik dan suci di kalangan orang yang sangat kuat keyakinan agamanya; dan 3) usaha dan tindakan untuk mempengaruhi lingkungan hidupnya sehingga tumbuh suasana, cara hidup bersama yang makin manusiawi, makin bersaudara, lebih ditandai kasih satu sama lain, makin bekerja sama, bergotong royong, dll
Bentuk merasul kedua dan ketiga tentu saja menuntut umat Katolik untuk terbuka pada nilai-nilai yang benar dan baik dari agama dan kepercayaan lain. Bapak Uskup Agung Semarang dalam tulisannya Dari Sidang Agung KWI-Umat di atas mengatakan dalam hubungannya dengan umat/kepercayaan lain: "Kita perlu mengimani bahwa Allah berkenan menyelamatkan mereka. Itu berarti bahwa tidak dapat lain kecuali lewat cara beragama mereka juga. Maka kita dengan tulus menghormati agama-agama lain sebagai cara kehadiran Allah dalam bangsa Indonesia" (1.2.2.). Dalam Ardas sifat terbuka ini tidak hanya mengakui bahwa ada nilai yang benar dan baik dalam agama dan kepercayaan lain. Kalau sudah tahu dan mengerti serta menerima nilai-nilai yang benar dan baik itu, umat Katolik sebagai utusan Tuhan juga dituntut untuk bersedia melaksanakannya. Pegangan tindakan yang benar dan baik bukan hanya dari agama Katolik saja, namun juga dapat dari agama dan kepercayaan bukan Katolik.

Kata "Beriman Memasyarakat"

Beriman memasyarakat:
Memperjuangakan kehidupan bersama yang bercirikan kasih, persaudaraan sejati dan keadilan, bersama siapa pun tanpa pamrih; mengembangkan keikutsertaan secara kritis dalam membangun tatanan kehidupan yang terbuka terhadap usaha pembangunan alternatif sesuai dengan perkembangan jaman.

Penjelasan yang secara resmi diberikan adalah sebagai berikut:
1. Memperjuangkan kehidupan bersama yang bercirikan kasih, persaudaran sejati dan keadilan, bersama siapa pun tanpa pamrih.
2. Mengembangkan keikutsertaan secara kritis dalam membangun tatanan kehidupan yang terbuka terhadap usaha pembangunan alternatif sesuai dengan perkembangan jaman.

Beriman memasyarakat berkaitan dengan keikutsertaan dalam kehidupan bersama antara umat Katolik dan yang bukan Katolik. Ada tiga ciri yang disampaikan untuk perjuangan kemasyarakatan: 1) kasih, 2) persaudaraan sejati dan keadilan, dan 3) dalam kebersamaan dengan yang bukan Katolik tanpa pamrih. Kasih adalah sikap memperhatikan kepentingan orang lain (bdk. Kisah orang Samaria dalam Luk 10:25-37) tanpa memikirkan kesamaan kelompok atau ikatan lainnya. Sikap ini akan menjadikan umat menjadi Gereja yang terbuka dalam semangat persaudaraan sejati yang sekaligus juga memperjuangkan keadilan. Semua ini akan membuat umat Katolik mampu bekerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik tanpa memikirkan keuntungan kelompok Katolik. Semua ini sesuai dengan tekanan khusus Ardas-KAS 1990-1995 yang menekankan hubungan antar umat beragama dan kepercayaan serta keterlibatan dalam kegembiraan dan kecemasan masyarakat.
Sebagai warganegara Indonesia, sekarang Umat Katolik masuk dalam jaman yang bercirikan pembangunan. Keikutsertaan dalam pembangunan harus terjadi, namun semua dilandasi dengan sikap yang kritis. Hal ini menuntut keterbukaan terhadap model-model atau cara-cara pembangunan yang beraneka ragam. Yang menentukan cara dan model sesuai dengan perkembangan jaman dapat berasal dari berbagai lapisan dan bukan hanya dari orang atau kelompok tertentu. Di sini yang penting adalah pembangunan tatanan kehidupan. Yang pokok, sesuai Ardas-KAS 1990-1995, adalah tatanan hidup yang perlu diperjuangkan demi kesejahteraan umum dengan mengutamakan saudara-saudara yang terlupakan dan menderita.


TEKANAN KHUSUS



Terutama untuk masa kini, cita-cita tersebut diwujudkan dengan membela kehidupan dan menjunjung tinggi martabat manusia.

Terjadinya Tekanan Khusus

Dalam pembicaraan terjadinya Ardas-KAS 1996-2000 telah disebutkan peran hasil Sidang Agung KWI-Umat 28 Oktober - 2 Nopember 1995 (lih. Hlm 2). Sidang Agung ini secara umum menghasilkan pemikiran-pemikiran untuk pengembangan iman umat Katolik di Indonesia. Semua pemikiran ini terungkap dalam enam pokok bidang:

1. Bidang kehidupan keluarga
2. Bidang pendidikan angkatan muda
3. Bidang keadilan sosial
4. Bidang kehidupan sosial politik
5. Bidang membela kehidupan
6. Bidang pembangunan Jemaat yang memasyarakat

Dalam proses terjadinya tekanan khusus Ardas-KAS 1996-2000, bidang MEMBELA KEHIDUPAN memberi warna khusus yang menerangi pembicaraan tekanan khusus Ardas-KAS ini. Kalau kehidupan dibela dan manusia dijunjung tinggi martabatnya, bidang dan segi lain dalam kehidupan konkret akan tersentuh secara langsung atau tidak langsung. Ada beberapa hal yang muncul dalam keterangan resmi Keuskupan Agung Semarang sehubungan dengan tekanan khusus ini sebagaimana diuraikan di bawah ini.

Perjuangan Membela Kehidupan

Penjelasan pertama tekanan khusus ini berbunyi demikian:
Membela kehidupan diwujudkan dengan memperjuangkan nilai kehidupan manusia yang banyak mengalami tantangan serta ancaman kemajuan jaman, kesenjangan sosial, ekonomi dan politik, dan juga adanya disorientasi sosial dan kultural, karena pengaruh kemajuan IPTEK dan arus globalisasi.

Membela kehidupan akan ditampakkan dalam membela nilai-nilai kehidupan (yaitu dasar-dasar baik yang dihayati orang/masyarakat untuk menghadapi dunia sehari-hari). Keuskupan memandang ada tantangan kemajuan dunia/masyarakat akibat kemajuan IPTEK dan globalisasi. Dengan demikian, Keuskupan mau mengajak umat Katolik Keuskupan Agung Semarang untuk secara serius mempertimbangkan berkembangnya arus bentuk masyarakat informasi yang diwarnai oleh IPTEK dan globalisasi. Bentuk masyarakat ini memang sangat diwarnai makin dekatnya manusia antar benua karena majunya alat komunikasi akibatnya majunya ilmu pengetahuan. Namun ke-erat-an internasional ini bisa membuat orang dipaksa terlalu menanggung hidupnya sendiri-sendiri yang akhirnya bisa menjadi individualistis. Kesenjangan kehidupan mudah terjadi. Hal ini akan bisa sangat membingungkan masyarakat yang mayoritas masih terikat oleh tata kehidupan yang tradisional. Tata kehidupan ini masih membuat orang tergantung pada lingkungannya dan masih sulit untuk bersikap mandiri. Maka tidak mengherankan kalau akan muncul banyak orang yang mengalami kebingungan jiwani karena adanya disorientasi sosial dan kultural. Disorientasi (kekacauan pegangan hidup) ini terjadi karena penghayatan pribadi yang sanga tbebreda dnegan yang terjadi dalam kenyataan sekitarnya.

Merosotnya Penghargaan Martabat Manusia

Penjelasan kedua dalam tekanan khusus adalah:
Penghargaan terhadap martabat manusia mengalami kemerosotan karena kuasa dosa yang terbentuk: mental feodalisme, patriarki yang dominan, hedonisme, konsumerisme, tatanan yang tidak adil, dan primordialisme.

Di dalam agama Katolik, yang memerosotkan penghargaan martabat mansuia disebut kuasa dosa. Untuk jaman sekarang bentuk-bentuk dosa yang memerosotkan penghargaan itu adalah: feodalisme (sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan atau pangkat dan bukan prestasi kerja), patriarki (secara tradisional adalah sistem kekeluargaan yang sangat mementingkan garis keturunan bapak, namun kini dapat diartikan sebagai sistem sosial yang terlalu menjunjung tinggi peran golongan jenis kelamin pria), hedonisme (pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidup), konsumerisme (paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang sebagai ukuran kebahagiaan), tatanan yang tidak adil (tidak menekankan kesejahteraan umum dengan mengutamakan yang kecil dan tidak berdaya), dan primordialisme (gaya hidup yang berdasarkan ikatan yang paling dasar seperti suku, agama, ras dan golongan sehingga merupakan sikap yang memandang ikatan kelompoknya sendiri sebagai yang paling baik dan benar dan kemudian memandang dan menilai kelompok lain dengan gaya kelompoknya.

Hubungannya dengan Hak-Hak Azasi Manusia (HAM)

Keterangan ketiga adalah:
Dalam menghadapi hal-hal yang berlawanan dengan Hak-Hak Asasi Manusia (HAM), perlu diperjuangkan bersama dan dikembangkan nilai-nilai keadilan sosial, persaudaraan sejati, dan menjadikan nilai kehidupan manusia sebagai tujuan dari segala kegiatan.

Pembelaan kehidupan dan penjunjungan tinggi martabat manusia berarti menghadapi hal-hal yang berlawanan dengan HAM. Yang diperlukan di sini adalah perjuangan bersama dan pengembangan nilai-nilai keadilan sosial, persaudaraan sejati, dan menjadikan nilai kehidupan manusia sebagai tujuan dari segala kegiatan. Di sini kebersamaan mendapatkan tempat, karena tanpa partisipasi dengan sebanyak mungkin orang, terutama yang diperjuangkan, semua usaha bisa berantakan. Selain itu keadilan (tatanan untuk kesejahteraan umum dengan mengutamakan yang kecil dan tidak berdaya), persaudaraan sejati (sikap terbuka terhadap kelompok/golongan yang berbeda), dan kehidupan manusia sebagai tujuan kegiatan-kegiatan (manusia bukan obyek kegiatan) …. Semua ini akan mendukung terciptanya pengembangan HAM.

Pendidikan Nilai dan Keutamaan

Penjelasan keempat berbunyi demikian:
Usaha-usaha membela kehidupan dan menjunjung tinggi martabat manusia ini dilakukan dengan keyakinan nilai dan keutamaan hidup di jaman yang berubah ini. Pendidikan ini pertama-tama harus terjadi dalam keluarga.

Usaha melaksanakan perjuangan membela kehidupan dan menjunjung tinggi martabat manusia ini harus disertai keyakinan nilai dan keutamaan hidup di dalam kehidupan masyarakat yang selalu berubah-ubah. Bagi para pengikut Kristus, nilai dan keutamaan ini didapat dengan tuntunan yang ada dari warta keselamatan yang secara tertulis bisa diketemukan dalam dasar Kitab Suci. Dengan terang warta keselamatan ini orang selalu ditantang untuk membuat pertimbangan. Pertimbangan ini dilakukan dalam mencari pegangan dan kebaikan sebagai pengikut Yesus di tengah masyarakat/dunia yang selalu berubah.
Secara resmi Keuskupan Agung Semarang berpendapat bahwa pendampingan penemuan pegangan dan kebaikan kristen itu dilakukan pertama-tama dalam keluarga. Pandangan ini sebenarnya diwarnai oleh latarbelakang pandangan hidup tertentu. Yang pertama adalah pandangan yang menganggap bahwa semua orang kristen dibaptis sejak kecil. Bagi para baptisan bayi tentu saja pendidikan nilai dan keutamaan kristen pertama-tama terjadi dalam keluarganya. Yang kedua pandangan yang berkaitan dengan bentuk masyarakat yang diwarnai oleh industrialisasi. Dalam masyarakat industri gambaran tentang keluarga adalah rumah yang didiami terutama oleh bapak, ibu dan anak. Nilai dan keutamaan hidup dalam masyarakat industri terutama terjadi dalam relasi yang terjadi di dalam rumah, sehingga peranan orang tua akan menjadi sumber nilai dan keutamaan. Hal ini tidak terjadi di dalam masyarakat agraris. Dalam masyarakat agraris nilai dan keutamaan sudah ditentukan oleh tradisi dengan tuntunan masyarakat orang yang bersangkutan. Di sini gambaran keluarga dilihat trutama secara luas dalam kaitannya dengan sanak saudara yang lain. Untuk masa kini, dalam kehidupan yang lebih dipengaruhi oleh bentuk masyarakat informasi, gambaran keluarga diwarnai oleh kehidupan nyata ikatan antara bapak, ibu dan anak. Keluarga terutama adalah ikatan tiga pihak tersebut. Namun bisa terjadi bahwa mereka tidak selalu bisa tinggal bersama. Bahkan bagi yang tinggal bersama dalam satu rumah juga dapat mempunyai kesibukan sehari-hari yang berbeda, sehingga untuk makan bersama sekali seminggu pun sulit. Setiap orang bisa lebih terikat oleh kelompok tugas dan/atau minatnya masing-masing. Kelompok inilah yang kini pertama-tama akan membentuk nilai dan keutamaan dalam diri seseorang. Memang bisa dipertimbangkan bahwa bagaimanapun bayi tetap akan terikat oleh orangtuanya. Namun dari gejala sekarang, tampaklah bahwa bayi tidak selalu diasuh terutama oleh orangtuanya. Sekarang banyak muncul peran babysitter dan lembaga penitipan anak untuk mengasuh atau paling tidak menjaga anak dari orangtua yang sibuk sekali. Padahal makin hari kesibukan seseorang akan makin banyak dan makin menekan. Dari sini jelaslah bahwa pendidikan pertama nilai dan keutamaan, terutama yang berdasarkan iman kristen, bisa terjadi di banyak kemungkinan kelompok.

Sumber Inspirasi Sabda Tuhan

Penjelasan kelima menunjuk pada ayat-ayat Kutipan Kitab Suci
Usaha-usaha tersebut dilakukan dengan dasar keyakinan akan Sabda Tuhan, bahwa:

  • manusia laki-laki dan perempuan adalah citra Allah yang erat berhubungan dengan pelestarian lingkungan (bdk. Kej Bab 1 dan 2)
  • rahmat Allah selalu membaharui struktur manusia dalam hidup bersama (bdk. Luk 4:18-19)
  • kehadiran Kristus ada dalam sesama yang papa dan menderita (bdk Mat 25:31-36)

Sebagai utusan Tuhan dalam dunia ini, mau tidak mau Gereja sebagai umat Allah harus berpegang pada kehendakNya yang dapat dilihat secara dasariah dalam pengajaran para rasul yang menjadi pegangan Gereja pertama. Yang diyakini oleh Gereja pertama secara tertulis bisa dilacak dalam Kitab Suci. Dalam rangka pembelaan kehidupan dan penjunjungan tinggi martabat manusia, Keuskupan mengetengahkan inspirasi dari tiga kutipan.
Dengan mengambil Kitab Kejadian bab 1 dan 2, Keuskupan Agung Semarang mau mendudukkan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama (terutama bdk 1:26) dan untuk pemenuhan hidupnya dibutuhkan alam lingkungan (tanah, tumbuhan, binatang, dsb). Kedudukan sejajar laki-laki dan perempuan tidak mengesampingkan perbedaan-perbedaan kemampuan unutk ikut berperan dalam pengembangan kemanusiaan. Alam lingkungan juga harus dilindungi, karena rusaknya lingkungan akan membawa akibat yang sangat tidak baik bagi manusia.
Penghargaan terhadap manusia dan martabatnya di dalam kehidupan masyarakat tidak akan mudah kalau tidak didukung oleh pola struktural yang cocok. Dengan mengutip Injil Lukas 4:19-19, Keuskupan Agung Semarang mau menunjukkan bahwa akibat dari karya Allah adalah struktur masyarakat selalu dibaharui dari jaman ke jaman demi kesejahteraan umum terutama bagi yang miskin dan tidak berdaya. Umat Allah Israel mempunyai Tahun yubile yang terjadi selama setahun dalam hitungan tahun ke lima puluh. Dalam tahun ke lima puluh selalu diadakan restrukturasi tatanan masyarakat agar tidak ada seorang warga pun yang mengalami penderitaan. Maka kutipan ini diharapkan menjadi inspirasi mendinamisasi tatanan struktural dalam kehidupan demi kesejahteraan umum dengan mengutamakan yang miskin dan tidak berdaya.
Kutipan terakhir adalah Injil Matius 25:31-35. Di sini diwartakan bahwa secara nyata dalam kehidupan sehari-hari ternyata Yesus bisa dilihat sebagai mereka yang paling hina. Maka kalau mau semakin setia mengikuti Yesus Kristus, perwujudannya adalah melakukan kebaikan bagi mereka yang miskin dan tidak berdaya.

STRATEGI PELAKSANAAN

Terwujudnya cita-cita tersebut diperlancar dengan tata penggembalaan yang mengikutsertakan dan mengembangkan seluruh warga Gereja

Bagian ini berbicara cara untuk melaksanakan cita-cita dengan tekanan khusus di atas. Terhadap rumusan bagian ini, Keuskupan Agung Semarang memberikan penjelasan sebagai berikut:
- Tata penggembalaan diwujudkan dalam proses musyawarah
- Pengambilan keputusan dilakukan dalam rangka mencari kehendak Allah.

Proses Musyawarah

Proses musyawarah dalam mengelola umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang dipandang sebagai yang memperlancar perwujudan cita-cita Ardas-KAS 1996-2000. Hal ini ada hubungannya dengan gambaran Gereja yang mau dihayati oleh Keuskupan Agung Semarang, yaitu Gereja Umat Allah. Untuk lebih memahami yang dimaksud dengan proses musyawarah dalam tata penggembalaan umat, barangkali uraian Rama Dr. P. van Hooijdonk bisa dijadikan rujukan. Rama Hooijdonk menyebut tata penggembalaan ini dengan istilah kepemimpinan pastoral (bdk. Seri Pastoral 100 hal 17-230. Dalam Gereja sebagai Umat Allah kepemimpinan gerejawi mengandung tiga dasar: partisipasi, pengembangan dan dukungan pada yang bawah.
Partisipasi menjadi dasar pertama, karena Gereja sebagai Umat Allah menuntut keterlibatan dari semua warga untuk kepentingan semua warga. Memang, melibatkan semua untuk kepentingan semua adalah sangat idealistis. Maka sesuai dengan penjelasan Rama Hooijdonk, dasar partisipasi berarti melibatkan sebanyak mungkin orang. Dalam hal ini Gereja Umat Allah menghayati diri sebagai pejiarah di bawah bimbingan Roh Kudus di tengah-tengah dunia. Di sini ada unsur historis yang menuntut agar Gereja selalu baru dan diperbaharui. Dengan demikian perlu dasar lain yang disebut pengembangan. Pengembangan umat ini menuntut tiga unsur: arah, target konkret dan gerakan kegiatan untuk mencapai target sesuai arah yang dituju. Namun sebagai Gereja Umat Allah, kepentingan semua warga (termasuk masyarakat luas) terutama yang miskin dan tidak berdaya harus menjadi pegangan. Inilah dasar ketiga yang disebut dukungan. Dukungan adalah usaha untuk selalu terbuka pada kenyataan yang terjadi dalam kehidupan umat pada umumnya (yaitu harapan dan usulan mereka). Kalau struktur kepemimpinan/penggembalaan masih digambarkan sebagai yang atas dan yang bawah, maka dukungan adalah dukungan untuk usulan dan harapan yang datang dari yang bawah.

Pengambilan Keputusan

Yang sering menjadi ganjalan dalam kepengurusan/kepemimpinan/penggembalaan adalah soal pengambilan keputusan. Kalau keputusan yang diambil tidak memuaskan beberapa pihak, ini bisa menjadi perkara kehidupan bersama warga Gereja.

Sebagai Gereja umat Allah yang harus disadari adalah bahwa pemimpin/gembalanya adalah Yesus Kristus sendiri. Yesus dalam hidupNya mengutamakan kehendak Allah (bdk doa Yesus di taman Getsemani, mis Mat 26:36-46). Sikap Yesus ini akan menjadi ciri dari semua yang menjadi keluarga Yesus, yaitu melakukan kehendak Allah (bdk. Mat 12:46-50). Sehubungan dengan mengikuti kehendak Allah, dalam kepengurusan Gereja, barangkali pengambilan keputusan dimengerti harus disetujui oleh semua warga. Namun kalau pengambilan keputusan secara musyawarah berarti disetujui oleh semua warga (bahkan semua yang terlibat misalnya dalam rapat), hal ini dapat menjadi sangat ideal. Maka pemungutan suara dalam pengambilan keputusan juga dapat mengungkapkan usaha mencari kehendak Allah. Bahkan dalam Kitab Suci juga dimungkinkan dengan cara undian (bdk. Pemilihan pengganti Yudas dalam Kis 1:15-26). Disamping itu semua, seringkali umat dihadapkan dengan situasi darurat. Situasi ini mungkin terjadi karena sungguh tidak ada saling kecocokan antar warga Gereja dan mungkin pula terjadi karena waktu yang sangat mendesak sehingga tidak dapat mengumpulkan aparat pengurus dan warga lainnya. Dalam situasi seperti ini, pengambilan keputusan oleh seseorang (ketua atau tokoh penggerak lainnya) dapat pula menjadi salah satu bentuk pelaksanaan kehendak Allah.
Yang perlu dicatat adalah istilah seluruh warga Gereja. Ini menunjukkan pada semua umat baik yang disebut awam, suster, bruder maupun imam. Yang sering terjadi kalau disebut umat, pengertiannya adalah hanya awam. Maka seakan-akan Ardas-KAS hanya untuk umat awam (paling-paling termasuk suster dan bruder). Padahal ini adalah arah dasar untuk penggembalaan Umat Allah Keuskupan Agung Semarang. Yang pertama-tama bertanggungjawab (termasuk menghayatinya) adalah mereka yang masuk dalam fungsi hirarki.

PENUTUP

"Ia yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya" (Flp 1:6)

Satu hal kecil barangkali perlu mendapatkan catatan. Rumusan untuk bagian ini ditulis dengan tanda kutip yang menunjukkan bahwa itu adalah kutipan dari Surat Paulus kepada jemaat di Filipi bab 1 ayat 6. Sebenarnya itu tidak benar. Yang tertulis dalam Flp 1:6 adalah "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus". Rumusan dalam Ardas-KAS 1996-2000 tersebut tidak mengutip langsung Flp 1:6. Di sini Ardas mendapat inspirasi dari Flp 1:6. Oleh karena itu, sesuai dengan rumusan usulan baik dari DKP-KAS dan pokok-pokok Tepas (lih. Hal 2-3), pernyataan Flp 1:6 mempunyai fungsi sebagai rujukan pembanding.
Dengan mengambil bagian surat Paulus kepada umat di Filipi, Keuskupan Agung Semarang menutup dokumen Ardas-KAS 1996-2000. Di sini mau diingatkan bahwa semua usaha, program, kegiatan Gereja selalu dalam kerangka karya Allah sendiri. Peringatan ini penting sekali, sebab orang sering lupa pada penyelenggaraan ilahi dalam segala hal yang dilakukan. Dalam hal ini perlu diingat arti beriman sesuai dengan penjelasan Ardas ini (lihat bagian cita-cita). Secara operasional beriman berarti mengalami kehadiran Allah baik dalam doa, karya maupun peristiwa. Yang perlu ditumbuhkembangkan adalah usaha agar semua program dan kegiatan umat Katolik menjadi tanda dan sarana hidup beriman. Ini semua menuntut ketekunan warga Gereja untuk makin hari makin mengembangkan diri (lewat usaha dalam keheningan batin untuk merenungkan dan merasakan doa, karya maupun peristiwa) untuk mengalami Allah dalam kehidupan pribadi dan bersama.

DAFTAR BACAAN

  • Darmaatmadja SJ, Julius, 1984, Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang Jangka Kerja 1984-1990
  • Darmaatmadja SJ, Julius, 1987, Pedoman Dasar Dewan Paroki Keuskupan Agung Semarang
  • Darmaatmadja SJ, Julius, 1990, Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 1990-1995
  • Darmaatmadja SJ, Julius, 1991, Kebijakan-Kebijakan Dasar Keuskupan Agung Semarang tentang Pastoral Lingkungan
  • Darmaatmadja SJ, Julius, 1996, Dari Sidang Agung KWI-Umat 28 Oktober - 2 Nopember 1995
  • Darmaatmadja SJ, Julius, 1990, Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 1996-2000
  • Dewan Karya Pastoral KAS, 1987, Pastoral Fungsional/Profesional. Singkatan pengarahan Mgr. J. Darmaatmadja SJ dalam rapat pleno DKP-KAS 13-16 Juli 1987
  • Dewan Karya Pastoral KAS, 1987, Rapat pleno DKP-KAS 26-29 Juni 1995
  • Dewan Karya Pastoral KAS, 1987, Rapat pleno DKP-KAS 13-16 Nopember 1995
  • Dulles, Avery, 1984, A Church To Belive In Discipleship and Dynamics of Freedom. Crossroad: New York.
  • Hardawiryana SJ, R (penterjemah), 1993, Dokumen Konsili Vatikan II. Obor: Jakarta
  • Hooijdonk van, P, 1984, Kepemimpinan Pastoral. Seri Pastoral 100. Pusat Pastoral: Yogyakarta
  • Naisbitt, John and Aburdene, Patricia, 1990, Megatrends 2000. Binarupa Aksara: Jakarta.
  • Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Tim Penyusun Kamus), 1990, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta
  • Rosado Caleb, 1993, Corak Masyarakat dan Tantangannya bagi Misi Gereja. Terjemahan oleh P3J-KAS.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home