Arah Dasar KAS

Umat Allah Menegaskan Arah

Thursday, September 01, 2005

rdas KAS 1996-2000 lingkungan

BEBERAPA CONTOH

BAHAN PERTEMUAN LINGKUNGAN

UNTUK PENDALAMAN

ARAH DASAR KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 1996-2000


1. LANGKA TAPI ADA

(Umat Allah Keuskupan Agung Semarang)

Semangat dasar yang hendak digali - dibangun: Penghayatan Gereja sebagai Umat Allah. Pemimpin utama: Kristus, lainnya saudara. Hidup beriman nampak dalam kegiatan peribadatan, pewartaan, paguyuban, keorganisasian dan kemasyarakatan. Organisasi bukan struktur tingkat kekuasaan, melainkan tata pengembangan jemaat: pembagian tugas sebagai ungkapan keikutsertaan sebanyak mungkin warga Gereja dalam pengembangan jemaat.

a. Yang pantas diperhatikan dalam kisah:

  1. Berkumpulnya umat dari segala peran (dan lapisan?)
  2. Haknya sama, Rama punya hak istimewa berkaitan dengan iman dan arah umum kebijakan Gereja.
  3. Tidak semua berbicara, lebih banyak yang hanya menjadi saksi berbagai proses adanya kebijakan Stasi.

b. “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara ..... Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” (Matius 23:8.10). Kutipan Injil ini dalam Injil Matius terletak dalam bagian antara Kotbah tentang Gereja (Matius 18) dan Kotbah tentang Akhir Jaman (Matius 24-25). Kiranya bisa dibayangkan sebagai tuntunan Yesus bagi Gereja yang berjalan menuju akhir jaman.

Dalam kumpulan sabda Yesus mengenai Gereja (Matius Bab 18) diwartakan sikap dasar yang seharusnya dimiliki oleh warga Gereja:


18:1 - 5: ‘bertobat dan menjadi seperti anak kecil’
18:6-10: ‘jangan menyesatkan’
18:12-14: ‘selalu mau menyelamatkan yang hilang’
18:15-20: ‘dalam hal ada yang tersesat/berdosa berusaha untuk dengan baik menuntunnya
kembali’
18:21-35: ‘semangat pengampunan sejati: selalu mengampuni’.

Setelah selesai membuat kumpulan sabda Yesus, Matius kemudian menguraikan
beberapa semangat dasar dalam kehidupan yang konkret: (Bab 19):

19:1-12: dalam hidup perkawinan. (Akan dilihat lebih terperinci dalam bagian lain.)
19:13-15: anak-anak
19:16-26: orang muda

Kalau demikian apa upah mengikuti Yesus?

19:27-30: upahnya berlipat ganda
20:1-16: upah diberikan menurut ukuran keadilan Allah.
20:17-19: Yesus sendiri siap untuk menderita.
20:20-28: untuk melayani (bukan berkuasa) dan memberikan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang.

Siapa yang bisa melaksanakan?


20:29-34: oleh belaskasihan Yesus orang akan dibuat melihat dan mengikuti Dia.


Dalam hal sikap terhadap Yesus, dalam kehidupan Gereja ternyata ada beranekaragam ungkapan:

21:1-20: Orang bisa mengelu-elukan Yesus menurut pengharapan mereka sendiri.

Namun Yesus berusaha menyadarkan umat kepada hakekat tugas perutusannya:

21:12-17: untuk menyucikan
21:18-22: untuk membangun iman.
21:23-27: Orang bisa juga mempertanyakan kuasa Yesus.


Namun bagi Yesus yang penting adalah mereka

21:28-32: yang melaksanakan kehendak Bapa, kendati dengan rasa menyesal.
Malahan ada juga

21:33-45: orang yang menolak Yesus dan membunuhNya.
Mereka itu termasuk dalam kalangan orang

22:1-14: menolak undangan Allah untuk masuk dalam perjamuanNya.
Merasa tidak berhasil, malahan mereka sendiri di ‘Knock-Out’ oleh Yesus, para lawan kemudian menyudutkan Yesus dengan menghadapkanNya pada masalah-masalah yang peka dan dapat sangat menyulitkan Yesus:

22:15-22: Membayar pajak kepada Kaisar.
22:23-33: Masalah kebangkitan (dalam masyarakat waktu itu mereka tidak sependapat; jawaban Yesus dapat menyulut pertentangan dan kerusuhan).
22:34-40: Masalah Hukum yang terutama: Yesus ini sebenarnya mau apa.
22:41-46: Asal-usul Yesus.
Jawaban Yesus yang tepat membuat ‘tak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepadaNya.
Apakah mereka menerima jawaban Yesus, ataukah mereka menolak, tidaklah jelas.

Reaksi Yesus adalah

23:1-36: mengingatkan mereka semua akan bahaya SIKAP MUNAFIK. Disebut munafik oleh Yesus adalah orang-orang yang mengutamakan penampilan duniawi belaka dan hanya berhenti pada penampilan duniawi. Salah satunya adalah yang menampilkan diri sebagai pemimpin kepada keselamatan, dan mengaku diri sebagai pemimpin kepada keselamatan. Padahal satu-satunya pemimpin kepada keselamatan adalah Kristus sendiri (Matius 23:8.10). Demikianlah, sebagai umat Allah setiap warga Gereja perlu menghayati Kristus sebagai satu-satunya pemimpin, karena Dialah juga yang memimpin semua petugas/pelayan dalam Gereja yang biasanya dikatakan sebagai pemimpin.
23:37-39: Mengeluh terhadap Yerusalem.

Kiranya dapat dikatakan bahwa sikap munafik diperlawankan dengan sikap bertobat sebagai anak-anak di hadapan Allah sebagaimana dibeberkan dalam Matius 18-22. Maka pemahaman Kristus sebagai satu-satunya pemimpin hendaknya juga dihayati dalam rangka hidup dalam pertobatan sebagai anak-anak Allah.

2. AKHHH .... APA LAGI?

(Dalam perkembangan situasi hidup dan budaya setempat)

Gagasan yang hendak dihidupkan dalam bagian ini adalah: penghayatan iman dalam hidup yang nyata. Kristus hadir dalam setiap situasi. Maka mengimani Kristus juga harus terlaksana dalam setiap situasi. Dari salah satu teori sosiologi-budaya, dilihat tahap-tahap perkembangan dalam masyarakat: agraris - industri - informasi. Nyatanya, ketiga tahap perkembangan itu muncul dalam kehidupan bersama. Dalam tahap manapun setiap warga masyarakat, lebih-lebih orang beriman perlu mensyukurinya, dan menghayati iman di dalamnya. Maka, dalam setiap tahap atau campuran tahap-tahap itu, perlu berani membangun pola iman yang tepat.

a. Yang pantas diperhatikan dalam kisah: khususnya tentang Pak Harya

Pak Harya bersikap tertutup terhadap tawaran baru bagi hidupnya, khususnya dalam hal hidup menggereja. Belum lagi membaca dan berusaha mengerti isinya, langsung sudah menolak.

  1. Pak Harya keliru dalam menafsirkan tiga ‘pengarahan’: Kitab Suci, Hasil Sidang Agung KWI-Umat, Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang. Nampaknya ia mengira bahwa ketiganya mempunyai kedudukan yang sama sehingga dapat menggantikan satu sama lain. Yang benar: Kitab Suci bersifat Umum - perlu diterjemahkan - dalam situasi Indonesia (Hasil Sidang Agung KWI-Umat) - perlu diterjemahkan - dalam situasi Keuskupan Agung Semarang (Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang). Malahan kalau mau lebih konkret lagi - semoga bisa dibuat dari hasil pertemuan-pertemuan ARDAS ini: ARAH DASAR PAROKI KITA.
b. Ada kutipan Kitab Suci dan Ajaran Gereja.


1.) “Anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang.” (Matius 9:17). Kutipan Kitab Suci dari Injil Matius ini perlu dilihat dalam rangkaian sabda Yesus dalam Matius 5 - 7 dan karya-karyaNya dalam bab 8 dan 9.

5:1-16: Pernyataan Kerajaan Allah: Sabda Bahagia - Garam dan Terang dunia.
5:17-7:29: Aneka sabda Yesus yang memberikan gambaran bagaimana menghayati hidup yang menerima pernyataan Kerajaan Allah itu: menyangkut sikap, kebiasaan, tindakan.
Kemudian Matius memberi kesaksian tentang bagaimana Yesus melaksanakan Kerajaan Allah di dunia ini dengan aneka mukjijat yang menunjukkan kuasaNya sebagai Mesias:

    1. 8:1-15 Tiga mukjijat yang menunjukkan belaskasihan
    2. 8:16-17 Rangkuman.
    3. selingan: - 8:18-22 tuntutan bagi pengikut Yesus
    4. 8:23-9:8 Tiga mukjijat yang menunjukkan kekuasaan (angin ribut yang diredakan, orang yang
      kerasukan setan, orang lumpuh yang diampuni dosanya)
    5. selingan: 9:9-13 panggilan Matius 9:14-17 soal puasa
    6. 9:18-34 Empat mukjijat lain (wanita yang sakit pendarahan, anak kepala rumah ibadat, dua orang buta, seorang bisu)
    7. 9:35-38 Rangkuman:
Dengan melihat susunan di atas jelas bahwa teks yang dipilih untuk pertemuan ini merupakan selingan diantara tiga mukjijat pertama dan tiga mukjijat ke dua. Kiranya suasana yang hendak dibangun oleh Matius adalah suasana kagum dan akan mukjijat-mukjijat Yesus sebagai pernyataan Kerajaan Allah namun sekaligus juga bertanya-tanya bagaimana semua ini mungkin terjadi. Dalam suasana kagum itulah muncul pertanyaan tentang 'tidak puasa'nya para murid Yesus. Dalam suasana ini pulalah Yesus menunjukkan dan mengajak untuk membangun hidup yang sungguh-sungguh baru; bukan hanya sekedar membuat tambal sulam terhadap yang sudah ada, melainkan membuat sesuatu yang sungguh baru dengan meningkatkan semangat Taurat sendiri, (bandingkan Matius 5:17 dan seterusnya.)

Dihubungkan dengan bahan sarasehan: Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang dihasilkan dari pengamatan menyeluruh terhadap karya Allah dalam kehidupan umat. Bukan teori yang muncul dari 'gagasan' para pakar, tetapi muncul dari kehidupan umat yang nyata. Ternyata kehidupan umat sebagai medan karya Allah sungguh mengagumkan. Dalam kekaguman akan karya Allah itu, Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang sekaligus dirumuskan sebagai usaha membangun hidup baru, menapakkan langkah yang sungguh-sungguh baru, bukan hanya sekedar tambal sulam terhadap kekurangan-kekurangan masa lampau yang dapat dilihat dan dirasakan. Menerima karya penyelamatan Tuhan berarti juga menyediakan diri sendiri menjadi selalu baru, selalu siap untuk diubah - diperbaharui oleh Tuhan. Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang merupakan hasil dari permenungan umat bersama para gembalanya dengan mendengarkan sabda Tuhan dan mencari kehendak Allah.

2). “Gereja selalu wajib menyelidiki tanda-tanda jaman dan menafsirkannya dalam cahaya Injil.” (GS no 4). Menyelidiki tanda-tanda jaman diperlukan karena Tuhan berkarya bagi dunia dan di seluruh dunia. Menyelidiki tanda-tanda jaman berarti mencari wujud nyata karya Tuhan di dunia ini agar kita bisa ikut serta dalam karyaNya yang agung. Karya Tuhan di dunia ini tidak selalu terjadi dalam suasana dunia yang baik. Penyelidikan atas tanda-tanda jaman juga bisa membimbing kita untuk ikut merasakan keprihatinan Tuhan sendiri atas situasi dunia. Perlu ditekankan pula bahwa penyelidikan tanda-tanda jaman tidak hanya berarti menjadi penonton terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Penyelidikan ini mengandaikan juga kerendahan hati untuk melihat bagaimana Tuhan membimbing diri sendiri/kelompok sendiri dalam menghayati hidup di tengah-tengah masyarakat.

3. INGAT RISIKONYA

(Mengikuti Yesus Kristus yang memaklumkan Kerajaan Allah)

Hidup Yesus seutuhnya mewartakan Kerajaan Allah, perjuangan demi keselamatan manusia secara utuh. Resiko apapun ditempuhNya, juga sampai wafat di salib, tidak lain agar Kerajaan Allah, Allah yang me’raja’ terlaksana di dunia ini. Bagian ini mau mengajak untuk secara aktif memperjuangkan permakluman Kerajaan Allah dengan keberanian menanggung resikonya.

a. Yang perlu diperhatikan dalam Kisah:

  1. Niat Bu Nani adalah niat yang baik. Dasarnya, secara umum, juga baik. Tetapi
    dasar itu rupanya ditafsirkan secara sangat lugu. Asal jalan.
  2. Jelas niat baik ini perlu didukung. Mungkin perlu dicarikan cara yang baik, agar resiko itu dapat dikurangi sesedikit mungkin. Misalnya dengan mengajak pak RT/RW atau adakan ‘rembug amatiran’ di Pos Siskamling. Namun, tidak berarti bahwa Gereja takut menghadapi resiko. Usaha yang sungguh baik macam manapun pasti ada resikonya.
  3. Pengertian “keselamatan Gereja” oleh Pak Seto jelas sangat sempit. Keselamatan Gereja pertama-tama adalah beresnya hidup Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus, Sakramen Keselamatan.
b. Belajar dari Gereja:

  1. Tuhan Yesus datang untuk memaklumkan Kerajaan Allah. Istilah Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja.
  2. Yesus menderita sampai meninggal dikarenakan Kerajaan Allah. (Bandingkan Matius 20:1-16). Perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Allah yang dikaitkan dengan upah pekerja ini didahului oleh serentetan pengajaran Yesus menjelang sengsaraNya. Dalam pengajaranNya tentang perkawinan (19:3-12) Yesus mengajak melihat lembaga perkawinan dalam kerangka Kerajaan Allah. Kesulitan yang muncul dalam lembaga perkawinan, seperti perceraian, terjadi karena orang tidak punya hati lagi bagi Allah (‘ketegaran hati’). Dalam Matius 19:13-15 Yesus seolah mau membandingkan sikap ‘tegar hati; itu dengan keadaan seorang anak, yang dengan sangat terbuka menerima berkat daripadaNya, menerima berkat dari Allah. Maka, dalam Matius 19:16-24 Yesus menunjukkan bahwa bukan sikap terhadap sesama yang menjadi paling penting dalam kehidupan seorang murid (‘semua sudah kuturuti’), melainkan sikap kepada Allah: meninggalkan segala sesuatu, datang kepada Yesus, mengikuti Yesus (ayat 21)
Kiranya dapat dilihat alur gagasannya:
KAYA/MEMILIKI ---------- TEGAR HATI
ANAK ------------------------- TERBUKA
MELAKUKAN HUKUM ----- KAYA PERBUATAN BAIK

Jalan pikiran Yesus ini tentu saja menimbulkan pertanyaan mengenai siapa yang akan selamat dan mana upah bagi orang yang berbuat baik bagi kerajaan Allah.

Perumpamaan tentang Kerajaan Allah (Matius 20:1-16) mengajak semua orang yang mendengarnya untuk lebih mementingkan relasi dengan Allah (apapun bentuknya) dibandingkan dengan hasil karyanya sendiri (harta kekayaannya). Tuhan memberikan segala-galaNya bagi manusia, Ia bahkan memberikan DiriNya sendiri dengan menjadi manusia sama seperti kita kecuali dalam hal dosa. Seharusnya itu sudah cukup. Perjanjian yang digambarkan dalam Perumpamaan Yesus ini (‘sedinar sehari’) memang tidak tepat mewakili Diri Allah seutuhnya, namun bisa menjadi gambaran Pemberian Diri Allah sejauh dapat diterima oleh manusia. Bahwa orang-orang itu dapat bekerja sejak pagi, bukankah ini juga merupakan rahmat. Bayangkan orang yang baru bisa bekerja setelah sore hari. Tidakkah dia sepanjang pagi sampai sore dipenuhi dengan beban berat: “Darimana saya mendapatkan nafkah?” Sedangkan yang bekerja sejak pagi, karena sudah bekerja, pasti tidak terganggu lagi oleh pikiran semacam itu. Lebih jauh lagi bagaimana orang lebih lama berada dekat dengan Allah, di kebun anggur ‘Sang Majikan’, bukankah ini sudah merupakan anugerah istimewa yang juga sudah mewujudkan ‘upah’ istimewa?

Kaitan yang bisa muncul dengan kisah:

  • Kerajaan Allah pertama-tama berarti menanggapi Allah yang hendak me’raja’ bagi kita.
  • Orang seharusnya berbahagia kalau boleh lebih lama berkarya di ladang Tuhan.
  • Upah berkarya dalam Kerajaan Allah pertama-tama bukan pada hasil, tetapi pada kesempatan dekat dengan Allah.
  • Berkarya dalam Kerajaan Allah menanggung resiko (secara manusiawi merasa diperlakukan tidak adil); tetapi resiko itu berani ditanggung seharusnya karena sudah diperkenankan dekat dengan Allah.
3). Yang mengikuti Yesus harus memikul salib. (Bandingkan Matius 10:38).

Dalam bab 10 Matius mengumpulkan sabda Yesus sehubungan dengan tugas perutusan para murid. Setelah Kerajaan Allah dinyatakan (Matius 5-7) dan mulai dilaksanakan (Matius 8-9), Matius mewartakan kehendak Yesus melibatkan para pengikutNya dalam pewartaan Kerajaan Allah. Untuk itu

  • 10:1-4 Yesus memanggil keduabelas rasul
  • 10:5-15 Yesus mengutus keduabelas rasul dengan petunjuk yang sangat jelas:
  • 10:5-6: siapa yang harus didatangi
  • 10:7-8: apa yang harus dilakukan
  • 10:9-11: bagaimana caranya pergi dan mau tinggal di mana
  • 10:12-15: bagaimana menanggapi orang-orang yang akan didatangi. Catatan khusus untuk ayat 15: "Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari kota itu". Ungkapan ini diberikan sepintas lalu sebagai semacam ancaman hukuman bagi mereka yang tidak menerima kedatangan para rasul dengan baik. Tetapi kalau diingat bahwa kata-kata ini pertama-tama ditujukan kepada para rasul, kepada para utusan; kiranya bisa dirasakan sebagai semacam tantangan bagi para rasul-utusan itu: "Kalau sampai ada orang yang tidak menerima kamu (rasul-utusan), mereka akan mengalami nasib lebih celaka dibandingkan Sodom dan Gomora, apakah kamu (rasul-utusan) tega membiarkan mereka mengalami itu?"
Kemudian Yesus memberikan 'sangu' konkret bagi para rasul-utusan itu:

  • 10:16: Suasana yang akan dihadapi dan sikap yang perlu: 'cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati'.
  • 10:17-18: Resiko yang akan harus ditanggung
  • 10:19-20: Sikap yang tepat: manusiawi: jangan takut, ilahi: 'Roh Bapamu: Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.
  • 10:21-22: Suasana yang akan terjadi oleh pelaksanaan tugas perutusan itu.
  • 10:23-25: Sikap yang tepat: manusiawi: larilah; ilahi: 'sebelum kamu selesai Anak Manusia sudah datang' - 'murid tidak melebihi gurunya'
  • 10:26-28: Maka hendaknya dengan gagah berani, mewartakan Kerajaan Allah. Hanya satu yang boleh ditakuti: "yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka".
  • 10:29-31: Jangan takut karena hidup mereka berharga di hadapan Allah.
  • 10:32-33: Hidup yang berharga itu mempunyai makna dalam mengakui Yesus di depan manusia.
  • 10:34-36: Kemudian Yesus menunjukkan suasana yang dapat timbul.
  • 10:37: Yesus meminta para murid untuk mengambil sikap yang tegas yakni memilih Allah lebih dari yang lain: termasuk saudara-saudari
Kemudian Yesus menunjukkan ciri orang yang mengikuti Dia:

  • 10:38 memikul salib dan mengikuti Dia.
  • 10:39 tidak takut kehilangan nyawa karena Dia.

Dan bagi mereka ini:

  • 10:40 Yesus akan tinggal dalam diri mereka.
  • 10:41-42 bahkan yang terkecil dari para murid akan membawa anugerah bagi saudara-saudarinya.
Kiranya jelas bahwa ajakan untuk memikul salib agar layak sebagai pengikut Yesus harus dilaksanakan dalam rangka melaksanakan tugas perutusan Yesus dengan semangat yang benar:

  • hendak mewartakan Kerajaan Allah (ayat 7-8)
  • mengandalkan Allah dan kebaikanNya (ayat 9-11.19-20)
  • menerima, mengakui dan mengasihi Yesus, rela menjadi seperti Yesus (ayat 24.32.37-41)
  • dengan sungguh-sungguh (ayat 12-15) dan dengan cara yang benar (ayat 16).
Hubungan dengan kisah dalam sarasehan: niat bu Nani yang sangat baik kiranya perlu dilaksanakan dengan menghayati semangat sebagai utusan Yesus.

4. NGEBON ORANG?

(Beriman dewasa)

Gereja Katolik memahami iman sebagai: “Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom 16:26; lih. Rom 1:5; 2 Kor 10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan olehNya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurniaNya.” (Dei Verbum artikel 5). Secara ringkas dapat dikatakan Iman adalah menerima Allah yang mewahyukan Diri dan menawarkan hubungan pribadi denganNya, dengan membangun hubungan pribadi denganNya. Karena iman menyangkut hidup manusia seutuhnya, maka seringkali juga dilihat dalam berbagai ciri yang ‘manusiawi’. Pertemuan ke 4-7 mengajak untuk menghidupkan penghayatan iman dalam aneka bentuknya.

Yang pertama: “Beriman Dewasa”. Dua ciri beriman dewasa yang muncul dalam penghayatan Gereja adalah:

  1. Sikap mandiri dan mantap dalam keyakinan imannya. Membangun hubungan pribadi dengan Allah sebagai Umat, Putera/Puteri, Hamba, dihayati sepenuhnya dalam hidup, juga kalau tanpa campur tangan sama sekali dari orang lain. Dalam membangun hubungan pribadi dengan Allah berusaha membuka diri, mencari, menemukan cara-cara yang tepat agar hubungan pribadinya dengan Allah menjadi semakin erat dan kuat. Perjuangan untuk membangun hidup pribadi ini akan membawanya untuk menyadari bahwa dalam hal-hal tertentu membutuhkan pertolongan dari sesamanya; namun tetap berjuang kalau pas tidak ada bantuan apapun dari yang lain.
  2. Turut bertanggungjawab dan terlibat dalam kebersamaan. Allah terus berkarya membangun dunia. Bukan saya saja yang beriman. Saudara-saudari saya pun menerima rahmat iman yang serupa. Dikatakan serupa, tidak sama, karena bentuk hubungan pribadi dengan Allah itu sangat diwarnai oleh kehidupan pribadi yang bersangkutan. Hubungan pribadi dengan Allah dengan sendirinya menunjuk hubungan dengan semua yang berkaitan denganNya. ‘Mencintai Allah dan sesama’. Maka, tanggungjawab dan keterlibatannya dalam karya Allah juga mencakup tanggungjawab dan keterlibatan dalam kebersamaan: keluarga, Gereja, rekan kerja, masyarakat. Tanggungjawab dan keterlibatan itu mempunyai aneka bentuknya, namun semua terarah pada usaha untuk memperkembangkan iman.

a. Belajar dari Kisah:

  1. Masalah pokoknya: Apa artinya lingkungan yang dewasa? Karena merasa tidak ada warga yang mampu melatih nyanyian kor Gereja maka ngebon dari lingkungan tetangga.
  2. Kiranya perlu menggabungkan dua ide yang muncul yaitu: Untuk sementara, sebelum ada yang terlatih/mampu, bisa ‘nge-bon’ dulu. Sementara itu, lingkungan mengusahakan supaya ada tenaga-tenaga yang diutus untuk meningkatkan kemampuan pelayanannya bagi lingkungan, misalnya dengan mengikuti kursus-kursus.
  3. Kesulitan untuk mengkursuskan sendiri bisa juga ditangani dengan membangun kerjasama dengan lingkungan/kring se wilayah/stasi, baik kerjasama tenaga maupun kerjasama dana.

b. Belajar dari Gereja. “Salah satu sikap adalah Gereja dan umat yang lebih mandiri dalam hal personalia dan dana: dalam hal personalia membuka peran lebih besar bagi kaum wanita. Sekaligus semakin kuat dalam kebersamaan antar kelompok, golongan, lingkungan, paroki, Kevikepan dan Keuskupan-Keuskupan.” (Dari Sidang Agung KWI - Umat no 5.3.) Sikap mandiri dalam hal personalia dan dana mengandaikan adanya usaha dari lingkungan itu (bukan cuma pengurusnya) untuk bekerjasama memikirkan dan mengusahakan. Contoh yang muncul dalam pertemuan ini hanya memenuhi salah satu dari sekian banyak ‘kebutuhan’ Gereja lingkungan’. Salah satu bentuk tanggungjawab dan keterlibatan adalah dengan ikutserta mengusahakan tersedianya pelayan-pelayan iman (ingat, termasuk yang menyangkut perwujudan iman) dalam lingkungan. Siapa yang akan menjadi pengurus lingkungan, pro diakon, misdinar, pembina iman anak dan remaja, pemerhati para jompo dan yang berkekurangan, pemerhati hidup sosial kemasyarakatan, dsb. Tentu untuk menumbuhkannya juga diperlukan dana yang memadai. Perlu dipikirkan pula bakat-minat yang ada di dalam diri umat. Yang paling mudah adalah mulai dalam keluarga sendiri (bagaimana?), lalu dalam lingkungan (bagaimana?). Dalam hal ini, rapat pengurus lingkungan - syukur bersama umat? - dapat sangat mendukung untuk merancang terbentuknya umat yang dewasa imannya.

5. YOK, NYADRANAN

(Beriman mendalam)

Dengan istilah ‘Beriman Mendalam’ hendak ditekankan pentingnya membangun pribadi dengan Allah pertama-tama dengan membangun hubungan pribadi seerat-eratnya dengan Yesus Kristus. Ini mencakup usaha untuk mengenal Dia semakin mendalam, memahami dan menghayati Sabda dan KaryaNya, memahami dan menghayati kehadiranNya dalam kehidupan yang nyata sekarang ini. Kristus menjadi teladan tetapi sekaligus acuan bagi hidup pribadi dan segala usahanya. Yesus Kristus menjadi ukuran setiap segi kehidupan. Percaya dan yakin bahwa tidak ada segi kehidupan yang dapat terlepas dari Yesus Kristus. Maka, segala peristiwa dalam hidup selalu mau diukur: baik-tidaknya, benar-salahnya, atas dasar hubungan pribadinya dengan Yesus Kristus. Mengukur atas dasar hubungan pribadi dengan Yesus Kristus inilah sikap kritis yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga Katolik.

a. Belajar dari Kisah.

  1. 1). Masalah pokoknya adalah keterlibatan umat dalam pesta nyadran. Keterlibatan ini menjadi masalah karena terlaksana dengan beberapa kebiasaan yang dapat menimbulkan sandungan bagi iman:
  • Masalah waktu: biasanya dilaksanakan dalam bulan Ruwah, tidak selalu sesuai dengan tradisi Katolik untuk mendoakan arwah: Nopember.
  • Doa yang dipakai: biasanya dipakai doa secara Islam.
  • Penghayatan: pemberian sesaji dan tabur bunga dihayati sebagai ‘memberi makan’ kepada yang sudah meninggal.Umat Katolik sebaiknya merayakan atau tidak.
  1. 2). Masalah praktisnya adalah:Sebagian umat sudah terbiasa melaksanakannya.
  • Kalau tidak melaksanakan, terasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Takut mendapatkan kutukan dari leluhurnya.
  • Mungkinkah melaksanakannya dengan tetap menghayati iman Katolik? Ada sementara umat yang melaksanakannya sementara malahan sudah tidak mengerti asal usul dan maksud seutuhnya dari pesta nyadranan itu. Lalu, dalam praktek, mereka menggunakan tatacara Katulik dalam melaksanakan nyadran.
  1. 3). Perlu diperhatikan ‘tuduhan’ dari Agus mengenai imannya kurang mendalam, iman masih dangkal, tidak militan. Alasan yang dipakai untuk ‘tuduhan’ ini adalah bahwa orang Katolik biasanya melaksanakan pada bulan Nopember. Dengan memperhatikan semangat dasar dalam uraian tentang Beriman Mendalam di atas, bisa dipertimbangkan misalnya: seandainya Agus mengungkapkannya sebagai suatu pertanyaan terbuka yang perlu dicari dan ditemukan jawabannya, maka kiranya ‘tuduhan’ itu mau bersifat membangun, tetapi seandainya sungguh hanya merupakan ‘tuduhan’ apakah itu sesuai dengan ciri iman mendalam? (Apakah cara ini sesuai dengan maksud kedatangan Yesus Kristus?)

b. Belajar dari Gereja

  1. Beriman mendalam diartikan sebagai: Bersumber pada Kristus, Meresapi seluruh aspek kehidupan, terbuka dan dapat menerima kebudayaan setempat tanpa mengesampingkan sikap kritis terhadap kebudayaan tersebut.
  2. Nyadran sebagai salah satu wujud budaya Jawa pertama-tama perlu dilihat sebagai sesuatu yang punya nilai. Nilai yang ditampilkan pertama-tama adalah hormat terhadap leluhur, hormat terhadap yang sudah lebih dahulu berjuang hidup di dunia dan mewariskan nilai-nilai hidup (termasuk yang ilahi). Secara tidak langsung nyadran dengan demikian juga merupakan perwujudan dari sikap nyata menghayati ‘Hormatilah Ibu Bapamu’. Selanjutnya, nyadran juga mengungkapkan penghormatan bagi mereka yang sudah meninggal. Penghormatan terhadap mereka yang sudah meninggal ini entah bagaimana dihayati kiranya juga mengungkapkan kepercayaan akan adanya hidup sesudah mati. Dihormati nilai hidup sesudah kematian duniawi.
  3. Yesus datang ke dunia dan hidup dalam lingkup budaya Yahudi. Ia melaksanakan tugas perutusan Bapa untuk menyelamatkan manusia, termasuk kebudayaannya. Dalam hal kebudayaan karya Yesus mengangkat budaya manusia itu menjadi bentuk dan sarana agar manusia dapat menjadi Umat Allah, Putera-Puteri Allah.
    Dalam hal pengharapan akan hidup baru sesudah kematian duniawi Yesus malahan meneguhkannya dengan kebangkitanNya sendiri dari alam maut, dan janjiNya bahwa ‘barangsiapa percaya kepadaKu akan tetap hidup biarpun sudah mati’. Dalam hal hormat terhadap orangtua, Yesus mau mengangkat hubungan dengan orang tua dalam rangka hubungan dengan Allah sendiri. Orang tidak bisa menghayati hubungan dengan orang tua melulu hanya sebagai anak terhadap orangtuanya. Hubungan itu perlu dihayati dalam penyertaan Allah sendiri dalam setiap kesempatan pertemuan dengan orang tua. Nilai kristiani yang dapat ditekankan antara lain membangun persaudaraan sejati dalam naungan kasih Tuhan. Nyadran sebagai salah satu wujud kebudayaan Jawa perlu dihayati dalam hal-hal yang positif yang membuat sabda Yesus semakin diresapi.
  4. Dalam melaksanakan nyadran sebagai umat Katolik, baiklah kalau dicoba untuk dipahami sungguh-sungguh maksudnya dan bentuk-bentuk penghayatan yang tepat sebagai umat Katolik.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home