Arah Dasar KAS

Umat Allah Menegaskan Arah

Wednesday, November 02, 2005

Nota Pastoral 2005: Gereja Persekutuan Paguyuban-paguyuban Pengharapan

NOTA PASTORAL 2005

GEREJA: PERSEKUTUAN PAGUYUBAN-PAGUYUBAN PENGHARAPAN

Dewan Karya Pastoral
Keuskupan Agung Semarang
DAFTAR ISI

Arah Dasar KAS 2001-2005
Prakata
Pendahuluan
Realitas Dunia: Globalisasi Kemiskinan
Refleksi Iman: Paguyuban-Paguyuban Pengharapan sebagai Wujud Iman
Cita-cita: Tata Dunia Baru Berciri Solidaritas
Realisasi dan Transformasi: Gerakan Bersama
Sapaan Pastoral
Penutup
Daftar Pustaka
Doa Arah Dasar 2001-2005



ARAH DASAR UMAT ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2001-2005

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang bercita-cita dengan bimbingan Roh Kudus semakin setia mengikuti Yesus Kristus yang memaklumkan Kerajaan Allah yang memerdekakan (bdk. Luk 4:18-19). Mengikuti Yesus berarti membuka diri dan mengalami kehadiran Allah baik dalam doa maupun peristiwa sehari-hari serta melibatkan diri dalam perutusan-Nya.

Dalam masyarakat Indonesia yang sedang mengalami krisis dan berjuang untuk memperbarui diri, cita-cita tersebut diwujudkan dalam pengembangan persekutuan paguyuban-paguyuban (bdk. FABC V, 1990) yang terbuka, bersahabat, saling mengasihi secara tulus, dan mengutamakan yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.

Untuk mencapai cita-cita tersebut diperlukan tata penggembalaan yang mengikutsertakan, mengembangkan, memberdayakan seluruh umat dan kerjasama dengan siapa pun yang berkehendak baik.

Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp. 1:6).

PRAKATA

Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2001-2005 sudah sampai pada tahun terakhir masa berlakunya. Dalam Arah Dasar tersebut kita merumuskan cita-cita umat Allah Keuskupan Agung Semarang. Namun, senyatanya, cita-cita tersebut membutuhkan waktu lama untuk diperjuangkan. Perjuangan terus menerus perlu disertai upaya pembelajaran bersama, agar kita tidak salah menentukan sasaran bidik, mampu menegaskan arah dan menentukan langkah untuk mengadakan gerakan bersama dengan siapa pun yang berkehendak baik.

Nota Pastoral 2005 dimaksudkan untuk menjadi bahan pembelajaran bersama untuk mengasah hati dan budi kita, agar kita menjadi mampu melakukan analisis yang tepat terhadap realitas dunia. Realitas dunia kemudian kita refleksikan dalam terang iman, agar kita dapat mengadakan penegasan bersama (community discernment), sehingga kita menjadi makin berdaya mengerahkan kekuatan untuk merealisasikan cita-cita. Dengan demikian, melalui proses transfomasi kita dapat mengambil bagian dalam mengubah kenyataan muram menjadi tata dunia baru yang lebih baik.

Terimakasih kami ucapkan kepada siapa saja yang ikut serta merumuskan Nota Pastoral ini. Kami berharap, semoga Nota Pastoral ini dapat digunakan sebaik-baiknya oleh umat, agar kehadiran umat semakin berperan menumbuhkan harapan di tengah-tengah masyarakat.

Muntilan, 30 November 2004
Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang


PENDAHULUAN

1. “SYUKUR ATAS PERTUMBUHAN PAGUYUBAN-PAGUYUBAN DENGAN MEMANTAPKAN PERSEKUTUAN PAGUYUBAN-PAGUYUBAN PENGHARAPAN DALAM MENYIKAPI REALITAS KEMISKINAN” merupakan fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang tahun 2005. Dengan rumusan demikian dirangkum beberapa gagasan pokok yang sedang tumbuh, dan diharapkan terus berkembang dalam kehidupan umat Keuskupan Agung Semarang.
Agar gagasan-gagasan pokok tersebut dapat menjadi bahan yang didalami serta dikembangkan dalam kehidupan pribadi dan bersama, maka diterbitkan Nota Pastoral 2005 dengan judul “GEREJA: PERSEKUTUAN PAGUYUBAN-PAGUYUBAN PENGHARAPAN” .

2. Nota Pastoral ini merupakan hasil pembelajaran bersama selama Pekan Studi Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang (DKP KAS), yang berlangsung pada tanggal 31 Mei sampai dengan 2 Juni 2004. Rumusan “Gereja: Persekutuan Paguyuban-Paguyuban Pengharapan” yang menjadi judul Nota Pastoral ini menggambarkan dengan ringkas seluruh proses panjang pembelajaran yang dijalankan oleh para peserta studi DKP KAS.
Kata-kata kunci “paguyuban-paguyuban pengharapan” tidak lepas dari gagasan Mgr. Ignatius Suharyo yang disampaikan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Teologi: “Gereja: Komunitas Pengharapan. Telaah Tentang Kitab Wahyu”[1]. Istilah “komunitas pengharapan” merupakan ungkapan yang “kena” atau “pas” untuk menunjuk panggilan dan perutusan Gereja pada masa kini.
Gagasan “komunitas pengharapan” kemudian dipertemukan dengan refleksi bersama atas Arah Dasar KAS 2001-2005. Refleksi tersebut dilengkapi dengan analisis terhadap realitas dunia, yang ditandai secara mencolok oleh kemiskinan karena ketidakadilan. Dengan hadirnya umat beriman yang berpengharapan diupayakan terjadinya proses transformasi menuju tata dunia baru yang lebih baik.
Setelah melalui proses pembicaraan bersama dalam Pekan Studi DKP KAS dan Rapat Pleno DKP KAS pada tanggal 4-6 Oktober 2004, DKP KAS memutuskan untuk menyampaikan kepada umat beriman di Keuskupan Agung Semarang sebuah Nota Pastoral yang merangkai “tradisi” Gereja KAS beberapa tahun terakhir ini[2]. Demikianlah Pekan Studi DKP KAS menjadi proses penegasan bersama, yang diharapkan terus berlanjut di tengah umat beriman di Keuskupan Agung Semarang melalui pembelajaran bersama atas Nota Pastoral ini.
Proses pengolahan dalam studi DKP dapat digambarkan sbb:

REALITAS DUNIA: GLOBALISASI KEMISKINAN

3. Realitas dunia sekarang ditandai oleh proses globalisasi yang tak dapat dihentikan oleh siapa pun, sehingga dampaknya pun bagi semua segi kehidupan manusia tak terelakkan lagi. Terhadap proses globalisasi muncul bermacam-macam sikap, baik sikap yang acuh tak acuh maupun sikap prihatin. Mereka yang mempunyai keprihatinan kemudian berusaha agar Gereja menjadi persekutuan belajar bersama, supaya proses globalisasi menjadi berwajah manusiawi [3]. Itulah sebabnya, kita diundang untuk mencermati arus-arus besar zaman ini sambil terus mencari jalan untuk menghayati iman kristiani di tengah situasi tersebut bagi keselamatan manusia dan alam semesta[4].
Bersamaan dengan globalisasi terjadi pula proses pemiskinan semangat setia kawan yang menyebabkan terjadinya kesenjangan yang mencolok antara sekelompok kecil orang kaya dengan mayoritas penduduk miskin [5].

4. Kemiskinan karena pemiskinan itulah yang menjadi masalah besar umat manusia pada zaman ini. Salah satu faktor penyebab pokok dari masalah kemiskinan adalah ketidakadilan. Data-data berikut mencerminkan secara langsung soal ketidakadilan: “Lebih dari satu miliar orang memperoleh nafkah hanya $ 1 setiap hari; 3 miliar orang sedikit lebih dari $ 2. Pada waktu yang sama, 358 orang telah mengumpulkan modal pribadi seharga kira-kira $ 762 miliar, pendapatan yang sepadan dengan pendapatan 2,35 miliar orang miskin”[6]. Kita bisa bergeleng-geleng kepala apabila mencermati data bahwa setiap tahun uang yang dibelanjakan untuk bedah kosmetik berjumlah sekitar $ 20 miliar, dan setiap tahun naik 220%. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh pabrik-pabrik obat untuk kepentingan orang-orang miskin sama sekali tidak sebanding[7].
Dari segi kesejahteraan hidup kita bisa membaca data-data global sbb[8]:

Penduduk bumi tahun 2004 > >>>>>>>>> 6.000.000.000 orang
Penduduk kelaparan >>>>>>>>>>>>>>>>> 800.000.000 orang
Anak kelaparan >>>>>>>>>>>>>>>>>>>> 200.000.000 orang
Kematian balita tiap hari >>>>>>>>>>>>>>>>>> 30.000 orang
Tidak mampu beli obat generik >>>>>>>> 2.000.000.000 orang
Ancaman kelangkaan air bersih bagi >>>> 3.000.000.000 orang.

5. Realitas kemiskinan dalam masyarakat dunia kita ini dapat dianalisis menurut dua kunci dasar, yakni revolusi teknologi yang melahirkan kecepatan, dan corak ekonomi politik global[9].
Revolusi teknologi tampak misalnya dalam soal kecepatan mengelilingi bola dunia. Bila tahun 1542 misionaris membutuhkan waktu 1 tahun, tahun 1850 hanya 1 bulan karena sudah ada kapal; tahun 1890 hanya 1 minggu dengan kapal terbang; tahun 1950 hanya 1 hari dengan kapal terbang yang bagus, dan tahun 2000 malah bisa ditempuh dalam waktu 1 jam saja dengan pesawat ulang alik. Revolusi teknologi ini berpengaruh besar pada sikap yang mengagungkan kecepatan.
Sedangkan ciri khas dari corak ekonomi politik global pada zaman ini adalah uang. Artinya, segala sesuatunya sekarang ini diukur dengan uang. Maka, terjadilah suatu komersialisasi dalam segala bidang kehidupan: air, udara, biji-bijian, listrik, tanah dan pendidikan.
Demikianlah, sadar atau tidak sadar, mentalitas kehidupan orang pada zaman ini diwarnai oleh keinginan serba cepat dan serba uang itu.
Contoh konkret mengenai hal-hal tersebut tampak pada apa yang ditawarkan melalui berbagai iklan: makanan cepat saji, reklame yang menggiurkan „hanya 1 juta, pulang bawa motor” (kredit motor), dst. Dalam dunia komunikasi, soal kecepatan tampak dalam media internet, handphone, dst. Untuk mendapat semua itu hanya dibutuhkan satu hal: uang. Perkembangan kehidupan dunia yang ditandai dengan soal kecepatan dan serba uang itulah yang membuat realitas kemiskinan semakin meluas. Mengapa? Sebab dalam sistem kehidupan yang diatur dengan kecepatan dan uang itu orang miskin senantiasa menjadi korban dan kelompok tersingkir.

6. Realitas kemiskinan menunjukkan penderitaan sebagian besar umat manusia pada zaman ini. Penderitaan sungguh menyengsarakan dan tidak jarang membawa orang kepada kegelapan dan keputus-asaan. Realitas kemiskinan karena ketidakadilan menjadi lahan merajalelanya kekerasan, dan kerusakan alam lingkungan yang bermuara pada kehancuran keadaban publik[10] . Ini semua memang dapat membuat orang menjadi kecil hati dan meratap saja. Namun, realitas tersebut juga dapat mendorong orang untuk berbuat sesuatu yang berarti, meskipun kecil, bagi usaha pelayanan, perhatian, pendampingan dan pembelaan terhadap mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.
Sisi lain dari realitas dunia tersebut terwujud dalam tumbuhnya berbagai karya karitatif, gerakan pembelaan bagi orang miskin, dan mobilisasi sosial demi menciptakan suatu tatanan sosial yang adil dalam masyarakat, dsb[11]. Berbagai usaha bagi pengentasan kemiskinan, penegakan keadilan dan pendampingan orang-orang kecil, lemah, miskin dan tersingkir hiburan dan harapan kepada kita.

REFLEKSI IMAN: PAGUYUBAN-PAGUYUBAN PENGHARAPAN SEBAGAI WUJUD IMAN

7. Kehidupan umat manusia di dunia ditandai oleh tegangan antara impian dan kenyataan. Impian itu tampak misalnya dalam lagu The Prayer yang dinyanyikan oleh Celine Dion bersama Andrea Bocelli. Beberapa kalimat dari lagu itu bila diterjemahkan berbunyi:

“Kita memimpikan suatu dunia yang bebas dari kekerasan, dunia dengan keadilan dan harapan. Hendaknya setiap orang mengulurkan tangan kepada sesamanya, tanda
perdamaian dan persaudaraan”.

Namun, kita tahu betapa kenyataan kehidupan umat manusia sekarang sangat jauh dari impian. Dalam situasi ini dibutuhkan orang-orang yang mau menjadi perintis atau penggerak masyarakat, orang-orang yang mampu memberikan pemikiran kreatif, dan bekerjasama secara guyub untuk melaksanakan gerakan yang memberdayakan. Dengan pemikiran kreatif dalam kerjasama yang guyub diharapkan muncul paguyuban-paguyuban orang-orang beriman yang berpengharapan. Pemikiran kreatif yang disertai dengan tindakan nyata, meskipun barangkali kecil dan sederhana, apabila dilakukan bersama-sama dengan tekun dan setia, dapat menjadi gerakan yang mempersempit jurang antara impian dan kenyataan hidup.

8. Nota Pastoral ini dimaksudkan untuk menawarkan suatu pemikiran kreatif mengenai Gereja sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban pengharapan. Di tengah keprihatinan manusia akan realitas kemiskinan yang melukai kehidupan manusia zaman ini, Gereja dipanggil dan diutus menjadi persekutuan paguyuban-paguyuban pengharapan.
Gambaran Gereja sebagai paguyuban pengharapan merupakan gagasan yang memiliki akar dan sumbernya dalam Kitab Suci. Gereja dipanggil untuk hidup dalam tegangan antara janji Allah dan pemenuhannya dalam sejarah. Itu pula yang terungkap dalam seluruh Kitab Suci[12].
Kitab Suci dibuka dengan kisah penciptaan yang menyatakan, bahwa segala sesuatu adalah baik (Kej 1:4.10.12.17.21.25), dan bahkan amat baik adanya (Kej 1:31). Sesudah itu Kitab Suci melanjutkan kisahnya dengan dosa manusia pertama (Kej 3). Dengan demikian, seluruh kisah sejarah keselamatan Allah diwarnai oleh tegangan antara janji dan kenyataan yang selalu jauh dari janji itu. Namun, pada akhirnya, Kitab Suci ditutup dengan kepastian harapan akan masa depan yang gilang gemilang, ”langit dan bumi baru”, yakni ciptaan yang dipulihkan kembali pada kepenuhan sejarah (Why 21:1-4). Kitab Wahyu meneguhkan harapan, bahwa kejahatan akhirnya akan dikalahkan dan “keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman” (Mzm 85:11; bdk. Yes 11:4-6; 25:1-8).

9. Gereja adalah paguyuban pengharapan[13]. Di tengah realitas dunia yang suram karena sarat dengan penderitaan, Gereja dipanggil oleh Allah untuk hadir sebagai paguyuban yang mewartakan harapan kepada dunia. Harapan itu bukanlah sekedar optimisme. Optimisme bertumpu pada perhitungan manusia. Lain halnya dengan harapan.
Harapan berlandaskan pada keyakinan iman yang teguh, bahwa, ”Ia yang memulai pekerjaan yang baik di antara kita, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (bdk Flp 1:6). Dengan demikian, Gereja sebagai paguyuban pengharapan mendasarkan seluruh panggilan dan perutusannya hanya pada Allah saja, yang diyakini terus bekerja dan mengarahkan seluruh umat manusia dan seluruh ciptaan kepada satu tujuan yang sama, yakni Allah sendiri (GS 24).
Sebagai paguyuban pengharapan Gereja diundang untuk terus menerus membaca tanda-tanda zaman, menganalisis kekuatan-kekuatan merusak yang mengasingkan dunia dan umat manusia dari kekuatan kasih Allah, sambil menawarkan pemikiran kreatif, tindakan dan cara hidup alternatif sebagai representasi harapan. Harapan ini memberikan motivasi yang kuat dan landasan yang kokoh untuk berjuang menegakkan Kerajaan Allah di dunia ini. Harapan ini lahir dari semangat iman yang kokoh, sebagaimana tercermin dalam nasihat santo Paulus: „Karena itu, saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58).
Dengan demikian, paguyuban pengharapan terutama adalah persekutuan orang-orang yang menghayati pengalaman mistik, yaitu pengalaman persatuan mesra dengan Allah. Pengalaman iman itu diwujudkan dalam bentuk keterlibatan konkrit menghadapi ketidakpastian hidup.

10. Panggilan dan perutusan Gereja sebagai paguyuban pengharapan menuntut para anggotanya untuk menjadi pribadi yang berpengharapan. Pribadi yang berpengharapan melihat segala sesuatu dalam terang rencana Allah yang hendak menyelamatkan dunia. Sifat-sifat pribadi yang berpengharapan tampak antara lain pada sikap percaya diri yang bertumpu pada Tuhan, kreatif dalam keterbukaan pada bimbingan Roh, serta berani dalam memperjuangkan tugas panggilan dan perutusan hidupnya. Dengan kata lain, manusia sebagai pribadi yang berpengharapan menyadari dan mengembangkan semua karunia Allah bagi kehidupan bersama menurut semangat kasih.
Hidup bersama dalam iman, harapan dan kasih menjadi karunia bagi kita yang membuat kita mampu mengenali kehendak Allah melalui penegasan bersama seluruh paguyuban. Cara hidup yang demikian tentu akan berbuah bagi seluruh masyarakat, dan memiliki daya pikat.

CITA-CITA: TATA DUNIA BARU BERCIRI SOLIDARITAS

11. Solidaritas Allah membuat keselamatan menjadi nyata bagi manusia dan seluruh dunia. Keselamatan menjadi nyata karena firman Allah itu menciptakan dan menyelamatkan, dan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:14).
Misteri penjelmaan Allah (inkarnasi) dalam diri Yesus Kristus menyatakan solidaritas Allah kepada kita manusia secara total, karena Ia “yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Fil 2: 6: kenosis). Melalui misteri salib Kristus, Allah bukan hanya berpihak, tetapi ikut mengalami sendiri seluruh penderitaan manusia hingga yang paling pahit dan gelap sekali pun, yakni kematian.
Namun, misteri salib Kristus merupakan misteri Paska pula. Dalam misteri Paska itu kematian diubah menjadi kehidupan baru berkat kebangkitan Yesus Kristus. Dalam Kristus, kini manusia memperoleh pengharapan akan tata dunia baru yang merupakan benih “kerajaan kebenaran dan kehidupan, kerajaan kesucian dan rahmat, kerajaan keadilan, cintakasih dan kedamaian”[14]. Kerajaan itu kini sudah hadir dalam “misteri; tetapi akan mencapai kepenuhannya bila Tuhan datang” (GS 39). Dengan demikian tata dunia baru hanya mungkin dilakukan dalam diri Kristus, sebab “Tuhanlah tujuan sejarah manusia, titik-sasaran dambaan-dambaan sejarah maupun peradaban, pusat umat manusia, kegembiraan hati semua orang dan pemenuhan aspirasi-aspirasi mereka” (GS 45).

12. Dalam Kristus solidaritas Allah memberdayakan manusia untuk mampu ambil bagian dalam kehidupan Allah sendiri. Dalam pengertian itu, Kristus menjadi miskin, agar kita semua menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (bdk. 2 Kor 8:9).
Oleh karena kemiskinan-Nya kita diperkaya dengan harapan yang kuat, agar juga memiliki jiwa solider untuk terlibat membangun tata dunia baru. Solidaritas menjadi nyata dalam sikap belarasa, sedia berbagi, yang bersumber dari sikap Allah sendiri kepada kita.

13. Gereja sebagai paguyuban pengharapan telah mengalami tata dunia baru dalam diri Yesus Kristus. Karena itu, Gereja diutus untuk menghadirkan tata dunia baru tersebut dalam perjalanan sejarahnya di dunia hingga pemenuhannya pada akhir zaman. Sambil menelusuri lorong-lorong kehidupan yang sarat dengan rintangan dan kesulitan, Gereja diutus untuk membangun tata dunia baru yang berciri solidaritas. Tata dunia baru yang berciri solidaritas ini menyentuh berbagai segi kehidupan, dan berbagai macam lapisan dan kelompok. Itulah sebabnya dalam setiap paguyuban, solidaritas mesti menjadi roh yang menumbuhkan tata kehidupan baru. Dengan demikian, tata dunia baru menjadi tempat terlaksananya tata kehidupan baru.
Dalam Gereja Katolik dibangun aneka macam bentuk paguyuban, baik teritorial maupun kategorial. Dalam membangun paguyuban-paguyuban Gereja bertemu dengan tantangan bagaimana di dalam semua itu hiduplah roh solidaritas, yang pada gilirannya mampu menumbuhkan harapan bagi setiap anggotanya dan semua orang. Dengan roh solidaritas diharapkan muncul suatu harapan akan terciptanya tata kehidupan baru yang memungkinkan orang hidup secara lebih manusiawi dan mempunyai kemerdekaan untuk membangun relasinya dengan Allah yang maharahim. Dalam tata kehidupan baru tersebut, setiap orang dapat berkembang dalam segala bidang kehidupan secara kreatif dan optimal.

14. Makna Gereja sebagai paguyuban pengharapan mendorong seluruh umat beriman untuk terus menerus membangun tata kehidupan baru menuju pulihnya keutuhan ciptaan Allah dalam Kristus menurut semangat solidaritas. Semangat solidaritas inilah yang perlu menjadi roh untuk semua gerak dan alunan kehidupan dan kegiatan seluruh umat beriman yang konkret dalam hidup sehari-hari.
Untuk itu setiap pelaku karya pastoral dan Komisi dalam DKP KAS mempunyai tanggung jawab mengembangkan semangat solidaritas dalam pelayanan dan pendampingan pastoralnya bagi umat beriman. Semangat solidaritas dapat dikembangkan melalui dua dimensi kehidupan Gereja, yaitu dimensi internal dan eksternal.

14.1. Dimensi internal Gereja

Semangat solidaritas perlu ditumbuhkan dalam diri umat beriman, sehingga mereka semakin mampu membangun diri sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban pengharapan. Umat beriman diajak untuk menggali kekayaan pengalaman imannya yang telah teruji memberikan kekuatan untuk tetap berharap dalam mengarungi kehidupan pada zaman ini.

14.2. Dimensi eksternal Gereja,

Semangat solidaritas perlu dikembangkan melalui kepedulian untuk bertindak secara konkret meskipun kecil dan sederhana bagi dan bersama orang-orang yang menjadi korban pemiskinan. Tentangnya pepatah mengatakan “Lebih baik menyalakan lilin kecil daripada mengutuk kegelapan!” (It’s better to light the candle that to curse the darkness).
Dalam arus ekonomi politik global yang dipengaruhi oleh revolusi teknologi yang bercorak serba cepat dan serba uang, perlu diupayakan pengembangan etos kewirausahaan. Etos kewirausahaan perlu dikembangkan bagi pembangunan sistem ekonomi kerakyatan yang memungkinkan orang-orang kecil, lemah, miskin dan tersingkir mampu tetap hidup dan berkembang. Pengembangan etos kewirausahaan dapat terwujud bila terjadi solidaritas antara mereka yang lemah dengan mereka yang kuat dalam hidup ekonomi. Gereja perlu ikut mendorong gerakan penyadaran kepada para pemilik modal akan fungsi sosial modal dalam pengembangan sistem perekonomian dunia.

Dalam menghayati semangat solidaritas membangun tata dunia baru Gereja perlu terus berupaya mengembangkan paguyuban-paguyuban pengharapan yang menjadi simpul-simpul jaringan komunikasi dan kerjasama. Dengan demikian. Gereja mewujudkan diri sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban pengaharapan dalam menyikapi realitas kemiskinan.

REALISASI DAN TRANSFORMASI: GERAKAN BERSAMA

15. Cita-cita untuk mewujudkan Gereja sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban pengharapan tidak akan ter-realisasi apabila tidak ada gerakan bersama di dalam Gereja. Dengan perutusannya sebagai paguyuban pengharapan Gereja dapat menggalang dan memfasilitasi berbagai gerakan bersama dalam masyarakat untuk mewujudkan tata dunia baru.
Gerakan bersama dapat menempuh berbagai macam bentuk, seperti gerakan pengembangan sosial ekonomi, gerakan perjuangan keadilan dan penegakan HAM, gerakan pendampingan kelompok kecil, lemah, miskin dan tersingkir, gerakan perjuangan kesetaraan perempuan dan laki-laki, gerakan peduli lingkungan hidup, gerakan kaderisasi generasi muda, gerakan peningkatan kualitas pendidikan, dll. Dengan demikian, paguyuban pengharapan benar-benar tumbuh dan berkembang tidak hanya dalam diri Gereja tetapi juga dalam masyarakat dunia.

16. Gerakan-gerakan bersama yang diupayakan Gereja bersama masyarakat perlu dilakukan terus menerus dan berkesinambungan, sebagai proses transformasi menuju tata kehidupan baru yang berciri solidaritas. Dalam tata kehidupan baru itu kesenjangan-kesenjangan yang terjadi antar pribadi ataupun antar kelompok berubah menjadi kehidupan yang berciri solidaritas. Transformasi itu juga merangkum perubahan dari kehidupan dunia yang tidak adil kepada dunia yang damai sejahtera berdasarkan keadilan, dari pola hidup individualistis kepada cara hidup yang berjejaring, dari kehidupan yang terisolasi atau terasing kepada kehidupan menurut model kemitraan, dan dari kehidupan yang diwarnai oleh keputus-asaan kepada kehidupan yang penuh pengharapan.

SAPAAN PASTORAL

17. Harapan akan terjadinya tata dunia baru akan menjadi kenyataan, apabila setiap orang ikut ambil bagian di dalamnya. Gereja sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban pengharapan perlu mengembangkan kerjasama antar umat beriman dan dengan setiap orang yang berkehendak baik, menurut tugas dan tanggungjawab masing-masing untuk membangun tata dunia baru itu. Maka pada bagian akhir Nota Pastoral ini kami sampaikan sapaan pastoral, agar setiap pribadi dapat saling meneguhkan dan memberdayakan.

18. Sapaan pertama-tama diarahkan kepada seluruh umat Allah. Umat Allah sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban pengharapan dipanggil dan diutus untuk membangun tata dunia baru yang berciri solidaritas. Solidaritas merupakan kekuatan yang memberdayakan mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir, yang menjadi korban pemiskinan, untuk bersatu menghimpun diri dalam paguyuban-paguyuban agar mampu menghadapi bersama tantangan zaman yang makin berat.
Hendaknya setiap orang beriman di mana pun berada dan apa pun status atau jabatannya, mengembangkan pemikiran-pemikiran kreatif, mengadakan tindakan atau gerakan pemberdayaan dalam berbagai bidang dan menciptakan pola-pola hidup alternatif yang dijiwai semangat solidaritas.
Pola hidup alternatif tidak sama dengan pola hidup yang asal beda. Pola hidup alternatif dapat berkaitan dengan hal-hal yang sangat biasa dan sederhana, seperti soal pilihan dalam hal makanan, pakaian, transportasi, dsb. Pilihan pola hidup yang sederhana tetapi pantas merupakan contoh pola hidup alternatif. Dalam pergumulan hidup apa pun, seluruh umat diharapkan mampu mengatakan dan melaksanakan hal-hal yang baik dan dengan cara yang baik pula. Dengan demikian, kehadiran umat di tengah masyarakat sungguh-sungguh signifikan karena dapat diteladani, dan relevan karena semangat solidaritasnya. Kalau pola hidup alternatif tersebut sungguh dihayati, maka cita-cita dan kesadaran Gereja sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban pengharapan menjadi berkat bagi dunia karena tata dunia dikembalikan kepada citranya dan keutuhannya sebagai ciptaan Allah.

19. Keluarga-keluarga Katolik merupakan paguyuban-paguyuban terkecil Gereja. Dalam keluargalah Gereja sebagai paguyuban pengharapan menampakkan perjuangan dan perwujudannya yang konkret dan jelas. Dalam keluarga setiap pribadi mendapat kesempatan untuk mengembangkan komunikasi satu dengan yang lain setiap hari. Budaya atau pola hidup tertentu akan terbentuk mulai dari keluarga. Oleh karena itu, kebiasaan-kebiasaan untuk berbicara dan bertindak yang baik, menghargai perbedaan dan berpandangan luas hendaknya ditanamkan dalam diri anak-anak sejak dini. Keterlambatan pembinaan iman terhadap anak akan mempengaruhi kehidupan iman anak di kemudian hari.
Tugas orangtua pula menjadikan keluarga sebagai tempat tumbuhnya benih-benih panggilan dalam diri anak-anak untuk menjadi imam, bruder, suster, dan rasul awam.
Tugas orangtua tersebut bukanlah tugas ringan. Akan tetapi pasangan suami istri telah mengikrarkan janji perkawinan untuk membangun keluarga atas dasar kasih Allah. Mereka hendaknya berani mempercayakan perjalanan hidup keluarga pada kuasa kasih Allah saja. Dengan membangun keluarga sebagai paguyuban pengharapan, keluarga kristiani dapat memberi pengharapan, dan menjadi berkat bagi keluarga-keluarga lain.
20. Paguyuban yang lebih besar dan luas bagi anak-anak, remaja, dan pemuda-pemudi adalah paguyuban sekolah atau kampus. Perkembangan kualitas pribadi mereka dalam hal intelektual, emosi, sosial dan spiritual sangat ditentukan oleh kualitas paguyuban pendidikannya. Dalam hal ini para pelaksana pendidikan memegang peranan yang sangat besar. Para pelaksana pendidikan dan penyelenggara Yayasan Pendidikan diharapkan memperlakukan anak didik, siswa-siswi atau mahasiswa-mahasiswinya bukan sebagai obyek indoktrinasi, melainkan sebagai subyek kreatif dan potensial. Pola pendidikan yang sungguh memerdekakan dan memungkinkan anak berkembang secara kreatif-bertanggung jawab merupakan hal yang sangat penting untuk mendapat perhatian. Perlulah dibangun suasana pendidikan yang memungkinkan para murid untuk ikut secara aktif dalam proses penemuan, pengetahuan dan pengetrapan ilmunya, dan bukan sekedar berpola mendengarkan pelajaran dan menghafalkannya.
Pola pendidikan dasar yang telah dirintis dan dikembangkan oleh almarhum Rm. Y.B. Mangunwijaya Pr dan sekarang diteruskan oleh Yayasan Dinamika Edukasi Dasar merupakan pola alternatif yang bisa dibidik dan dijadikan contoh dan acuan untuk pola pembelajaran yang eksploratif, kreatif dan integral. Demikian juga usaha Yayasan Dinamika Edukasi Dasar dalam menyelenggarakan Sanggar Guru merupakan kesempatan bagi para pelaksana pendidikan untuk mengembangkan dirinya.
Sungguh patut didukung gerakan bersama yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Semarang (MPK KAS) sejak bulan Mei 2004 untuk mengembangkan semangat solidaritas dalam diri peserta didik dan semua yang terlibat dalam pelayanan pendidikan Katolik. Gerakan tersebut terinspirasi dari gerakan anak kecil yang menyerahkan 5 roti dan 2 ikan kepada Yesus untuk memberi makan kepada banyak orang (bdk. Mat 14:13-21; Mrk 6:32-44, Luk 9:10-17, Yoh 6:1-11). Gerakan tersebut merupakan sebentuk gerakan solidaritas yang pasti akan sungguh bermanfaat bagi generasi muda di kemudian hari.
Masa depan Gereja terletak pada anak-anak, para remaja dan kaum muda. Sekarang sudah tersedia berbagai macam fasilitas dan sarana untuk pengembangan diri, baik yang berupa pelatihan, maupun kaderisasi agar dapat terjadi regenerasi yang berkelanjutan. Pusat-pusat pembinaan hendaknya dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan tetap berada dalam kerjasama dan koordinasi dengan pengurus Gereja termasuk pastor paroki. Jaringan komunikasi dan kerjasama di antara kaum muda yang sudah mulai dirintis hendaknya terus dikembangkan untuk menemukan pola-pola kaderisasi, pembinaan dan regenerasi yang semakin relevan dan kontekstual.

21. Kebutuhan dasar untuk hidup manusia antara lain berupa jaminan keamanan dan jaminan keadilan. Apabila jaminan-jaminan tersebut itu tidak ada, tentu saja hak-hak asasi manusia juga tidak terpenuhi. Mestinya persoalan jaminan keamanan dan jaminan keadilan itu menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun karena kondisi pemerintah sekarang ini belum memungkinkan bagi terselenggaranya jaminan keamanan dan jaminan keadilan itu, maka munculah kesadaran masyarakat berpartisipasi dalam upaya pemberdyaan masyarakat.
Kesadaran tersebut mendorong pribadi-pribadi untuk menjadi penggerak-penggerak masyarakat, baik secara pribadi maupun kelompok. Dalam bentuk kelompok, tumbuhlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan Paguyuban Penggerak Swadaya Masyarakat (PPSM). Kedua-duannya termasuk organisasi non-pemerintah. Dalam kelompok ini tercakuplah para pejuang keadilan yang berwawasan gender atau pejuang kesetaraan gender serta kelompok refleksi gender. Masing-masing LSM pasti mempunyai kekhasan, baik yang menyangkut fokus perhatian maupun metode atau cara pendekatannya atas permasalahan yang dihadapi. Akan tetapi, terlepas dari apa pun kekhasan, visi dan misinya, para penggerak LSM diharapkan untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan iman. Mereka diharapkan untuk tidak mudah larut dalam arus teknologi yang bergerak cepat dan mentalitas serba uang itu. Para penggerak masyarakat dan kader-kader LSM diharapkan untuk bersikap gigih, teguh dalam prinsip, dan rela berjuang, namun tetap menjaga kewajaran dalam bertindak, dengan tidak menjadi ekstrem dalam pendapat atau perjuangannya. Kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak yang berkehendak baik menjadi alternatif bagi pengembangan paguyuban-paguyuban dan jejaringnya. Dengan kerjasama kemitraan masyarakat diharapkan dapat mewujudkan tata kehidupan yang lebih baik.

22. Perubahan besar dalam perkembangan sistem perekonomian global yang ditopang oleh revolusi teknologi sekarang semakin menunjukkan bahwa “penguasa” dari semuanya itu adalah modal. Barangsiapa menguasai modal, ia akan menguasai dunia. Apabila pernyataan itu benar, maka bahaya besar sedang menghadang: orang akan berusaha menguasai atau memiliki modal sebesar-besarnya. Pada gilirannya modal akan kehilangan fungsi sosialnya.
Maka melalui Nota Pastoral ini kami ingin menyapa para pengusaha dan pemilik modal agar mereka menyadari fungsi sosial modal yang mereka miliki itu. Hendaknya mereka berpikir untuk tidak hanya untuk mengembangkan modalnya tersebut agar semakin besar, tetapi juga memikirkan bagaimana modal itu berfungsi sosial, yakni dengan memikirkan nasib para buruhnya. Semangat solidaritas antara pemilik modal dan buruh yang dipekerjakan hendaknya menjadi pola relasi dan kerjasama. Akhir-akhir ini muncul persoalan yang menyangkut nasib buruh kontrak. Lebih parah lagi para buruh itu tidak hanya dikontrak tetapi disewa. Jika mereka tidak menepati kesepakatan kerja, mereka sewaktu-waktu bisa dihentikan. Dalam hal ini posisi buruh sungguh lemah, dan bisa menjadi korban tindakan sewenang-wenang pemilik modal.

23. Berkat rahmat imamatnya, para imam secara khusus berpartisipasi dalam tiga tugas imamat Yesus Kristus, yakni menguduskan, mewartakan kabar suka cita dan menggembalakan, dalam kesatuan dengan Uskup. Para imam memiliki tanggungjawab yang khusus untuk membangun, memelihara dan mengembangkan umat beriman yang dilayaninya menjadi paguyuban-paguyuban pengharapan. Melalui hidupnya yang dipersembahkan kepada Allah, para religius dipanggil untuk memberikan kesaksian akan penghayatan hidup panggilannya untuk mewujudkan paguyuban pengharapan.
Maka, para imam dan religius sesuai dengan kekhasan kharisma komunitasnya masing-masing hendaknya menjadi teladan dalam pelayanan tanpa pamrih dan menjadi perintis atau penggerak bagi tumbuhnya paguyuban-paguyuban pengharapan di kawasan teritorial dan kategorial Gereja. Sesuai dengan peran dan lingkup tugasnya, baik yang di kawasan intern Gereja maupun di kawasan masyarakat pada umumnya, hendaknya dikembangkan pola hubungan kemitraan dengan siapa pun, sehingga terciptalah komunikasi dan kerjasama yang saling melengkapi untuk membangun paguyuban pengharapan.
Para calon imam dan religius hendaknya mempersiapkan diri untuk siap mengambil bagian dalam hidup dan tugas-tugas tersebut.

24. Para pengurus Gereja, termasuk tim-tim kerja Dewan Paroki, mempunyai tanggung jawab dan kesempatan untuk membangun lingkungannya menjadi paguyuban basis yang menumbuhkan dan meneguhkan iman, serta membangkitkan pengharapan. Penyusunan program kerja Dewan Paroki hendaknya memperhatikan fokus pastoral, baik program strategis maupun rutin, sehingga terciptalah mekanisme kerja yang integral dan terpadu.

25. Kehadiran Gereja yang relevan dan yang menandakan kehadiran Allah bagi masyarakat juga ditampakkan oleh para profesional Katolik, yaitu para dokter dan paramedis, dosen dan guru, notaris, advokat dan pengacara, insinyur, dan lain-lain. Mengembangkan kreativitas dalam berpikir untuk menemukan pembaruan dan perubahan di bidangnya merupakan panggilan dan perutusan mereka untuk memelihara bumi dengan segala isinya. Nilai-nilai Injil yang memuat nilai-nilai iman dan moral tetap menjadi pegangan hidup. Maka hendaknya para profesional tidak hanya berhenti pada ilmu yang telah dimiliki, melainkan terus belajar tanpa henti untuk mengembangkan keahliannya dalam terang iman, agar terciptalah tata dunia baru seperti dikehendaki oleh Sang Pencipta.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, khususnya dalam bidang kesehatan, hendaknya digunakan sebaik-baiknya untuk memuliakan manusia agar orang-orang zaman ini hidup sehat secara utuh jasmani rohani, bebas dari berbagai penyakit (misalnya TBC, HIV/AIDS, dll). Terutama mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir hendaknya dapat dilindungi dari berbagai penyakit, dan dibantu agar, bila sakit, masih dapat berharap untuk sembuh dengan biaya pengobatan yang terjangkau.

26. Kami juga ingin menyapa orang-orang Katolik yang berkecimpung dalam pelayanan di tata pemerintahan negara, seperti di bidang legislatif, yudikatif, dan eksekutif, para pegawai negeri, tentara dan polisi, dsb. Mereka semua dipanggil dan diutus untuk menghadirkan paguyuban pengharapan di lingkungan kerja dan hidup mereka. Dengan demikian warga masyarakat semakin dibantu untuk memandang dan menghayati kehidupan dengan segala masalahnya ini menurut perspektif pengharapan bagi pembangunan tata dunia yang baru dan penuh keadaban.

27. Para relawan kemanusiaan mempunyai peluang untuk berperan dalam mengatasi konflik-konflik yang muncul antar pribadi atau pun antar kelompok. Mereka juga memiliki kesempatan untuk menularkan dan mensosialisasikan semangat solidaritas kepada seluruh lapisan masyarakat secara terus menerus. Kehadiran para relawan kemanusiaan dapat menjadi jalan untuk memberikan pengaruh yang baik kepada masyarakat luas.

28. Para wartawan dan siapa pun yang bergerak dalam bidang media komunikasi massa, mempunyai keterampilan dan akses untuk menyerap situasi masyarakat dan kebutuhannya. Sikap selektif dalam menyampaikan wacana dan tontonan merupakan cara untuk memilah dan memilih mana yang akan dikomunikasikan dan disampaikan. Pilihan tema dan kata merupakan alat ampuh untuk mempengaruhi massa. Oleh sebab itu, mereka diharapkan menggunakan kesempatan dan kemungkinan untuk mewartakan pengharapan melalui media komunikasi massa tersebut. Dengan demikian mereka ikut membangun suatu paguyuban pengharapan dalam masyarakat luas.

PENUTUP

29. Kami, Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang, menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas keterlibatan dan kehendak baik semua pihak, secara pribadi atau pun kelompok, dalam membangun paguyuban-paguyuan pengharapan bagi suatu tata dunia baru yang bercirikan semangat solidaritas. Perjalanan kita memang masih panjang, namun perjalanan panjang itu tidak akan pernah mengantar kita sampai tujuan, jika kita tidak memulai langkah pertama meskipun berjangka pendek, suatu langkah konkret meskipun sederhana.
Seraya mensyukuri gerak kehidupan umat beriman di KAS dalam beberapa tahun ini menurut semangat Arah Dasar KAS 2001-2005, DKP KAS mengajak seluruh umat KAS untuk mulai mengarahkan pandangan ke depan dengan mengadakan penegasan bersama bagi persiapan perumusan Arah Dasar KAS 2006-2010 nanti.
Secara khusus pada Tahun Ekaristi ini (Oktober 2004 – Oktober 2005), kita ingin mengucap syukur kepada Allah Bapa di surga atas karunia Ekaristi yang dianugerahkan kepada Gereja melalui Kristus Putera-Nya, sehingga kita senantiasa dikuatkan oleh kehadiran misteri penebusan Kristus yang menjadi sumber dan puncak pengharapan dunia dan umat manusia. Tahun Ekaristi akan diakhiri pada Sinode Para Uskup di Vatikan pada tanggal 2 hingga 29 Oktober 2005, dengan tema: “Ekaristi sumber dan puncak hidup dan perutusan Gereja” [15]
Dengan bantuan dan perlindungan Santa Perawan Maria Bunda Allah dan Bunda Gereja, kita berdoa kepada Tuhan, agar Gereja sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban pengharapan sungguh-sungguh mampu memberikan harapan baru bagi dunia.
Semoga Allah yang telah memulai pekerjaan yang baik diantara kita, berkenan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).

DAFTAR PUSTAKA

  • Paus Johannes Paulus II, Surat Apostolik Mane nobis, Domine (Tuhan, tinggalah bersama-sama dengan kami), Vatikan 2004
  • Konferensi Waligereja Indonesia, Surat Gembala: Tekun dan Bertahan Dalam Pengharapan, Menata Moralitas Bangsa, Yogyakarta: Kanisius, 2001.
  • Konferensi Waligereja Indonesia, Nota Pastoral 2004: Keadilan Sosial bagi Semua, Sidang KWI, 03-13 November 2003.
  • Konferensi Waligereja Indonesia, Nota Pastoral 2005: Keadaban Publik: Menuju Habitus Baru Bangsa, Keadilan Sosial Bagi Semua : Pendekatan Sosio-budaya, Sidang KWI, 01-11 November 2004
  • Mgr. I. Suharyo, Gereja: Komunitas Pengharapan. Belajar dari Kitab Wahyu, Yogyakarta: Kanisius, 2004.
  • Dewan Karya Pastoral KAS, Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2001-2005 (teks dan penjelasan).
  • Dewan Karya Pastoral KAS, Nota Pastoral 2003: Menghayati Iman dalam Arus-Arus Besar Zaman ini.
  • Dewan Karya Pastoral KAS, Nota Pastoral 2004: Umat Beriman dan Panggilan Politik dalam Konteks Kemajemukan Masyarakat Indonesia.
  • B. Herry Priyono, SJ, Analisis Sosial Terhadap Realitas Kemiskinan Global dan Indonesia, dalam Notulen Pekan Studi DKP-KAS 31 Mei-02 Juni 2004, hlm. 24-27.
  • I. Swasono, SJ, Pengalaman Jesuit dalam Menanggapi Kemiskinan, Tanggapan SJ terhadap Realitas Kemiskinan Global dan Indonesia, dalam Notulen Pekan Studi DKP-KAS 31 Mei-02 Juni 2004, hlm. 16-22.


    DOA ARDAS KAS 2001-2005

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan Yesus Kristus,
sebab Engkau telah memanggil dan memilih kami
menjadi Umat Allah Keuskupan Agung Semarang.

Kami bersyukur kepada-Mu
karena Engkau menganugerahi kami bangsa Indonesia
teman seperjalanan sebagai sesama kami
dengan segala kegembiraan dan keprihatinannya.

Kami mohon kepada-Mu,
curahkanlan Roh Kudus-Mu
agar membimbing kami dalam mengikuti Kristus Putera-Mu
sehingga kami tekun dan setia
mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan
dalam kata dan perbuatan,
menyelami kehadiran-Mu dalam doa dan peristiwa hidup sehari-hari,
dan mau berjerih-payah dalam perutusan Kristus.

Semoga kami semua mampu memgembangkan persekutuan
paguyuban-paguyuban dalam lingkungan kami,
suatu paguyuban yang terbuka dan bersahabat,
yang saling mengasihi secara tulus
dan mengutamakan yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir.

Bersama Bunda Maria, Bunda Gereja, kami mohon,
semoga Gereja Keuskupan Agung Semarang
semakin menumbuhkan tata penggembalaan
yang senantiasa mengikutsertaka, mengembangkan,
dan memberdayakan seluruh umat-Mu,
giat bekerjasama dengan setiap orang yang berkehendak baik.


Semoga Engkau memberkati kami dan seluruh bangsa kami
serta menyelesaikan karya agung-Mu
melalui Putera-Mu Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantaraa kami
yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus,
kini dan sepanjang masa. Amin.


Catatan kaki:
[1] Pidato tersebut disampaikan pada Sidang Terbuka Senat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, tgl. 1 Mei 2004. Naskah pidato itu telah diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul: Gereja: Komunitas Pengharapan. Belajar dari Kitab Wahyu, Yogyakarta: Kanisius, 2004.
[2] “Tradisi” DKP KAS yang dimaksud ialah kebiasaan DKP KAS pada dua-tiga tahun terakhir ini yang menerbitkan Nota Pastoral sebagai hasil Pekan Studinya. DKP KAS telah menerbitkan Nota Pastoral “Menghayati Iman dalam Arus-Arus Besar Zaman ini” tahun 2003, dan “Umat Beriman dan Panggilan Politik dalam Konteks Kemajemukan Masyarakat Indonesia” tahun 2004.
[3] Bdk. J. Mueller, Gereja Dunia sebagai Persekutuan Belajar Bersama. Sebuah Model bagi Proses Globalisasi yang Berwajah Manusiawi?, dalam J.B. Banawiratma (ed.), Gereja Indonesia. Quo Vadis, Yogyakarta: Kanisius, 2000, hlm. 39.
[4] Nota Pastoral DKP KAS 2003, Menghayati Iman dalam Arus-Arus Besar Zaman ini, hlm.7.
[5] Ibid., hlm. 18.
[6] Buku Pegangan bagi Promotor Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan, Yogyakarta: Kanisius, 2001, hlm. 34.
[7] Mgr. I. Suharyo, Gereja sebagai Persekutuan Komunitas Pengharapan, bahan ceramah, lih. Notulen Pekan Studi DKP-KAS, 31 Mei – 2 Juni 2004, hlm. 6.
[8] Diambil dari arsip catatan sekretariat HPS KWI.
[9] Dr. B. Herry Priyono SJ, Analisis Sosial terhadap Realitas Kemiskinan Global dan Indonesia, bahan ceramah, lih. Notulen Pekan Studi DKP-KAS, 31 Mei – 2 Juni 2004, hlm. 24.
[10] Konferensi Waligereja Indonesia, Nota Pastoral, Keadaban Publik: Menuju Habitus Baru Bangsa, Keadilan
Sosial Bagi Semua : Pendekatan Sosio-budaya, Sidang KWI, 1-11 November 2004
[11] I. Swasono, SJ, Tanggapan Serikat Jesus terhadap Realitas Kemiskinan Global dan Indonesia, bahan ceramah, lih. Notulen Pekan Studi DKP-KAS, 31 Mei – 2 Juni 2004, hlm. 16-18.
[12] Mgr. I. Suharyo, Gereja: Komunitas Pengharapan. Belajar dari Kitab Wahyu, hlm. 54-55.
[13] Uraian berikut umumnya mengambil gagasan Mgr. I. Suharyo dalam: Gereja: Komunitas Pengharapan. Belajar dari Kitab Wahyu, hlm. 55-56.
[14] Prefasi Hari Raya Kristus Raja. bdk. GS 39.
[15] Surat Apostolik Johannes Paulus II, Mane nobis, Domine (Tuhan, tinggalah bersama-sama kami), Vatikan 2004

0 Comments:

Post a Comment

<< Home