Arah Dasar KAS

Umat Allah Menegaskan Arah

Saturday, December 10, 2005

Nota Pastoral 2006 Baharuilah Seluruh Muka Bumi

NOTA PASTORAL
TENTANG ARAH DASAR UMAT ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2006–2010
Diterbitkan oleh:
Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang 2006


PENGANTAR

Kalimat pertama Nota Pastoral yang menjelaskan Arah Dasar KAS 2006–2010 ini, menegaskan peranan Roh Kudus dalam Gereja yang menghidupkan, menjiwai dan senantiasa memperbarui Gereja. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana Roh Kudus mengerjakan semuanya itu?

Menurut keyakinan iman kita, Roh Kudus mengerjakan semuanya itu dengan tetap menghargai kemerdekaan dan segala daya upaya manusia. Kita percaya bahwa Konsili Vatikan II dibimbing oleh Roh Kudus. Tetapi Konsili Vatikan II yang dibimbing Roh Kudus itu menghasilkan dokumen-dokumen Gereja melalui pemungutan suara. Kita percaya bahwa dengan cara yang serupa, Roh Kudus yang sama terus-menerus menghidupkan, menjiwai dan memperbarui Gereja Keuskupan Agung Semarang.

Tim Dewan Karya Pastoral KAS telah berusaha menangkap bimbingan dan karya Roh itu, dengan melakukan penegasan bersama, bekerja keras menggunakan segala daya dan upaya, dalam kerjasama dengan banyak pihak dan dalam waktu yang lama. Sekarang kita merasakan buahnya yang telah dirumuskan dalam Arah Dasar KAS 2006–2010.

Atas semuanya ini kita bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penegasan bersama ini. Semoga Arah Dasar KAS 2006–2010 ini menjadi pedoman sekaligus kekuatan bagi kita untuk membangun habitus baru, berdasarkan nilai-nilai Kristiani. Dengan demikian kita boleh berharap, Gereja akan semakin berkembang, bermakna bagi warganya dan menjadi berkat bagi masyarakat luas.

Membangun habitus baru adalah upaya yang tidak mudah, penuh tantangan dan mudah gagal. Kita perlu mempunyai harapan yang kokoh. Mengenai harapan, seorang bijak mengatakan : Harapan adalah ibarat jalan di desa. Sebelumnya tidak ada jalan. Tetapi kalau ada banyak orang menapak, jalan itu tercipta.

Ardas Dasar KAS 2006–2010 ini mulai berlaku pada Hari Raya Maria Bunda Allah. Sebagaimana Maria melahirkan Kristus, Putera Allah ke dunia ini, semoga dengan berjuang mewujudkan cita-cita yang terumus dalam Arah Dasar KAS 2006-2010 ini, Gereja Keuskupan Agung Semarang dapat melahirkan semakin banyak kristus-kristus kecil yang terlibat dalam pewartaan Kerajaan Allah yang memerdekakan.

Semoga Tuhan melimpahkan berkat kepada kita semua, keluarga dan komunitas kita. Semoga Ia juga meneguhkan persaudaraan kita dan membimbing kita dalam peziarahan iman, harapan dan kasih kita.

Semarang 1 Januari 2006
† I. Suharyo
Uskup Keuskupan Agung Semarang


TEKS ARAH DASAR UMAT ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2006–2010
Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dalam bimbingan Roh Kudus berupaya semakin enjadi persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus yang mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan (bdk. Luk 4: 18–19). Mewujudkan Kerajaan Allah berarti bersahabat dengan Allah, mengangkat martabat pribadi manusia, dan melestarikan keutuhan ciptaan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang sedang berjuang mengatasi korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan hidup, umat Allah Keuskupan Agung Semarang terlibat secara aktif
membangun habitus baru berdasarkan semangat Injil (bdk. Mat 5–7). Habitus baru dibangun bersama-sama: dalam keluarga dengan menjadikannya basis hidup beriman; dalam diri anak, remaja, dan kaum muda dengan melibatkan mereka untuk pengembangan umat; dalam diri yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir dengan memberdayakannya.

Untuk mendukung upaya tersebut, umat Allah Keuskupan Agung Semarang mengembangkan pola penggembalaan yang mencerdaskan umat beriman, melibatkan perempuan dan laki-laki, memberdayakan paguyuban-paguyuban pengharapan, memajukan kerja sama dengan semua yang berkehendak baik, serta melestarikan keutuhan ciptaan.

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, dan mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi dengan setia dan rendah hati seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja.

Allah yang memulai pekerjaan baik
di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6).

SEDYA JATI UMATING ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2006–2010

Umating Allah Keuskupan Agung Semarang ing tuntunan Dalem Hyang Roh Suci ngupaya sangsaya dadi panunggaling paguyubané murid-murid Dalem Sang Kristus sing ngrawuhaké Kratoning Allah kang paring mardika (ktd. Luk 4: 18–19). Wujudé Kraton Dalem ateges memitran karo Gusti, ngangkat drajating manungsa, lan nglestarèkaké wutuhing tumitah.

Gayut karo masyarakat Indonésia sing lagi tumandang mbrantas korupsi, tindak wengis lan ngrusak alam, umating Allah Keuskupan Agung Semarang gumrégah mbangun urip anyar adhedhasar jiwaning Injil (ktd. Mat 5–7). Urip anyar dibangun bebarengan: ana ing brayat jer brayat dadi dhasaring iman; ing pribadining bocah, remaja lan nom-noman amrih padha bebarengan mbangun pasamuwan; ana ing pribadining wong cilik, sèkèng, miskin lan ketriwal amrih ndayani.

Kanggo nyengkuyung upaya mau, umating Allah Keuskupan Agung Semarang mekaraké pangreksaning umat amrih dadi wasis, lanang-wadon padha tumandang, paguyuban-paguyuban diurip-urip, nggrengsengaké ékapraya karo sapa baé sing becik sedyané, sarta nglestarèkaké alam.

Umating Allah Keuskupan Agung Semarang kanthi ati tulus nedya tumemen nindakaké sedya mau, lan pasrah sumarah marang pangreksa Dalem, kanthi setya lan andhap asor nuladha Kanjeng Ibu Dèwi Mariyah, abdining Allah lan ibuning Pasamuwan Suci.

Gusti kang miwiti pakaryan luhur ing urip kita, bakal paring rampung paripurna (ktd. Flp 1:6).

NOTA PASTORAL
TENTANG ARAH DASAR UMAT ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG
2006–2010
PENDAHULUAN

Sejak beberapa tahun, dalam kehidupan umat Allah Keuskupan Agung Semarang, berkembang usaha untuk membangun Gereja yang hidup, Gereja yang signifikan secara internal dan relevan secara eksternal, Gereja yang transparan-akuntabel-kredibel, Gereja yang melayani dengan murah hati, Gereja yang solider dan lain-lain. Usaha-usaha itu tidak berhenti pada wacana tetapi bergulir terus, bahkan didukung dengan kesadaran pentingnya data-data konkret. Proses penyusunan Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang (selanjutnya disingkat Ardas KAS) 2006–2010 pun mengikuti gerak tersebut.

Dalam rapat rutin Pengurus Harian Dewan Karya Pastoral (DKP KAS), 7 Maret 2004, diputuskan bahwa Ardas KAS 2006–2010 disusun berdasarkan evaluasi atas Ardas 2001–2005 dan usulan dari umat. Maka dibentuk Tim Kecil untuk melakukan penjajagan. Tim ini menyebar pertanyaan kepada umat di beberapa paroki. Hasil penjajagan dipaparkan pada pertemuan Pastor Kepala tanggal 24–26 Mei dan Pekan Studi DKP 31 Mei–2 Juni 2004. Berdasarkan masukan dari dua pertemuan itu, disusunlah angket Ardas KAS yang diedarkan pada bulan Agustus–September 2004. Pengolahan angket kuantitatif (Nopember–Desember 2004) dipaparkan pada Temu Pastoral 2005.

Selanjutnya Tim Ardas mengolah hasil Temu Pastoral 2005 dan data angket. Berdasarkan masukan dari Temu Pastoral 2005 dan data kualitatif angket, Tim Ardas membuat Rumusan 1. Rumusan 1 menjadi Rumusan 1 ABC karena masukan dari berbagai pihak (misalnya Rapat Kuria, Rabu, 8 Juni 2005, Rapat Dewan Konsult KAS, 16 Agustus 2005). Kemudian Rumusan 1 dimintakan masukan dari Dewan Imam (13–14 Juni 2005) dan Rapat Pleno DKP KAS pada 20–22 Juni 2005. Berdasarkan masukan tersebut Tim Ardas menyusun Rumusan 2A. Rumusan ini diolah lagi menjadi Rumusan 2B, yang disebarluaskan kepada umat untuk ditanggapi. Dengan mengolah lagi masukan-masukan tanggapan dari umat yang disampaikan pada Sekretariat DKP KAS melalui surat maupun usulan pada kolasi-kolasi kevikepan (03 Agustus 2005 di Purbayan Surakarta; 07 September 2005 di Tumpang Kedu; 07 September 2005 di Yogyakarta; 12 September di Semarang), Rapat Tim Perumus, 14 Oktober 2005, menghasilkan Rumusan 3A. Kemudian, Rapat Tim Ardas KAS, 21 Oktober 2005, mengolahnya menjadi Rumusan 3B, yang merupakan rumusan akhir Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Semarang 2006–2010.

Setelah rumusan tersebut disetujui oleh Bapa Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. I. Suharyo, maka diumumkan secara resmi kepada seluruh umat Keuskupan Agung Semarang pada hari Minggu, tanggal 1 Januari 2006, Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah.

Naskah Ardas 2006–2010 dilengkapi dengan Nota Pastoral yang menjelaskannya dengan uraian secukupnya. Dianjurkan, Nota Pastoral tersebut dilengkapi dan diperkaya sendiri dengan naskah atau buku-buku bacaan yang berkaitan dengan bahan-bahan yang dijelaskan.


KERANGKA ARAH DASAR

A. ROH ARAH DASAR

1. Upaya umat Allah Keuskupan Agung Semarang
a. Dalam bimbingan Roh Kudus
b. Semakin menjadi persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus (bdk. FABC V 1990)
c. Mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan (bdk. Luk 4: 18–19).

2. Mewujudkan Kerajaan Allah berarti
a. Bersahabat dengan Allah
b. Mengangkat martabat pribadi manusia
c. Melestarikan keutuhan ciptaan

B. MEMBANGUN HABITUS BARU

1. Konteks masyarakat Indonesia
a. Ruang publik tuna adab, karena
– Salah urus dalam ruang publik
– Globalisasi dan sekularisasi yang memiskinkan
b. Korupsi, kekerasan dan kerusakan lingkungan hidup,
c. Perjuangan seluruh masyarakat

2. Keterlibatan umat Allah Keuskupan Agung Semarang
a. Terlibat secara aktif
b. Habitus baru (lih. Nota Pastoral KWI 2004)
c. Berdasarkan semangat Injil (bdk. Mat 5–7).

3. Habitus baru dibangun bersama-sama:
a. Dalam keluarga dengan menjadikannya basis hidup beriman
b. Untuk pengembangan umat
– dengan melibatkan anak
– dengan melibatkan remaja
– dengan melibatkan kaum muda
c. Dalam diri yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir dengan memberdayakannya.

C. POLA PENGGEMBALAAN

1. Untuk mendukung upaya tersebut, umat Allah Keuskupan Agung Semarang mengembangkan pola penggembalaan:
a. Yang mencerdaskan umat beriman,
b. Yang melibatkan perempuan dan laki-laki,
c. Yang memberdayakan paguyuban-paguyuban pengharapan,
d. Yang memajukan kerja sama dengan semua yang berkehendak baik,
e. Yang melestarikan keutuhan ciptaan

2. Penggembalaan berdasar data
a. Cara baru berpastoral: dari tradisi ke opsi
b. Metode Dinamika Pastoral

D. TEKAD BULAT SELURUH UMAT
1. Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut
2. Seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja
3. Mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi dengan setia dan rendah hati

E. ALLAH BEKERJA BERSAMA KITA
Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6)

F. SAPAAN PASTORAL

G. AGENDA KERJA 2006–2010

H. DOA ARAH DASAR


NOTA PASTORAL TENTANG ARAH DASAR UMAT ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2006–2010

A. ROH ARAH DASAR

Gereja hidup karena daya Roh Kudus yang menghidupkan, menjiwai dan senantiasa memperbarui Gereja dalam peziarahannya di dunia ini. Karya Roh kehidupan ilahi ini diungkapkan dalam tanda dan sarana.
Rumusan kalimat-kalimat ibarat tanda yang bermakna bagi kehidupan umat setiap zaman, meskipun rumusan kadangkala tidak memadai. Kita boleh yakin bahwa Arah Dasar KAS 2006–2010 yang disusun dalam proses yang panjang dan melibatkan banyak pihak adalah buah karya Roh Kudus yang menghidupkan, menjiwai dan ingin memperbarui Keuskupan Agung Semarang. Dengan demikian Ardas ini diharapkan mampu menggerakkan seluruh umat menghayati imannya dan ambil bagian dalam hidup menggereja yang memasyarakat.

Hendaknya dalam semangat Roh yang menghidupkan inilah rumusan Arah Dasar dibaca, dimengerti, difahami, dan ditafsirkan, serta dijadikan arah pedoman dalam mengembangkan karya pastoral dalam konteks masyarakat dewasa ini, khususnya di Keuskupan Agung Semarang.

1. Upaya umat Allah Keuskupan Agung Semarang

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang berkat rahmat, diundang untuk ikut ambil bagian dalam hidup ilahi Allah Tritunggal, Bapa, Putera dan Roh Kudus.

a. Dalam bimbingan Roh Kudus

Roh Kudus merupakan daya kekuatan yang menghidupkan dan menggerakkan manusia, perempuan dan laki-laki, sepanjang zaman agar manusia semakin dekat dengan Allah, asal mula dan tujuan hidup. Karena itu, manusia selalu gelisah mencari dan ia baru akan merasa tenang ketika menemukan kebenaran sejati, Allah sendiri.
Roh Kudus membimbing dan mengarahkan orang yang dengan gelisah mencari kebenaran sejati ini, sampai ia menemukan Kristus, dasar kehidupan iman umat Kristiani.

b. Semakin menjadi persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus (bdk. FABC V 1990)

Roh Kudus yang sama memberi daya kepada manusia, perempuan dan laki-laki, agar ia semakin setia mengikuti Kristus, lebih dalam mengenal-Nya, lebih mesra mencintai-Nya, karena Ia telah lebih dahulu mencintai manusia sampai sehabis-habisnya, dan mati di kayu salib untuk menebus kita.
Hidup sebagai murid Yesus Kristus dihayati bersama dalam Gereja, sebagai paguyuban murid-murid Yesus. Keanekaan dalam kehidupan bersama dalam Gereja menjadi tanda kekayaan hidup ilahi yang tak terselami. Karena itu, paguyuban murid-murid Yesus tidak tunggal semata, tetapi banyak dan majemuk, namun sekaligus terpadu dalam kesatuan yang hidup.
Umat Allah Keuskupan Agung Semarang berupaya semakin menjadi Gereja sebagai persekutuan sakramental. Artinya, Gereja adalah tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.1 Jati diri Gereja sebagai persekutuan sakramental tersebut dikembangkan di Asia sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus, sebagaimana diajarkan oleh para Uskup Asia yang bersidang di Bandung pada tahun 1990.2 Berdasarkan pemahaman tentang Gereja tersebut kita kembangkan paguyuban-paguyuban basis kristiani yang manusiawi, yang berjejaring membangun persekutuan hidup kaum beriman.

c. Berpola pada hidup dan karya Yesus Kristus mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan

Dipanggil menjadi murid-murid Yesus Kristus juga berarti mengemban tugas pengutusan mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Pengutusan inilah yang dijalankan oleh Yesus sejak awal masa karya-Nya, sebagaimana dikatakan dalam Luk 4:18–19 :

“Roh Tuhan ada pada-Ku,
oleh sebab itu Ia telah mengurapi Aku,
untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin,
dan Ia telah mengutus Aku
untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,
dan penglihatan bagi orang-orang buta
untuk membebaskan orang-orang tertindas,
untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”

Dalam masyarakat di mana Yesus hidup, manusia tidak dihargai sebagai manusia oleh penguasa-penguasa politik dan agama. Mereka yang miskin, yang buta dan tertindas, serta yang ditawan karena kebenaran menjadi korban ketidakadilan yang bersifat struktural karena pola budaya patriarki, sistem politik yang menindas, dan perilaku beragama yang tidak manusiawi. Di tengah-tengah masyarakat seperti itu Yesus mewartakan Kerajaan Allah yang memerdekakan manusia.
Ketidakadilan yang bersifat struktural berlangsung terus pada zaman kita. Karena itu, pada zaman ini kita sebagai murid-murid Kristus diutus juga mewartakan dan mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan semua orang.

2. Umat mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan


Pengutusan untuk mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan dijalankan atas dasar pemahaman mengenai manusia seutuhnya, sebagaimana diajarkan oleh Gereja (bdk. GS 3). Segi-segi yang ingin diperhatikan lebih khusus adalah mengembangkan persahabatan dengan Allah, mengangkat martabat pribadi manusia dan memelihara keutuhan ciptaan.

a. Bersahabat dengan Allah

Relasi manusia dengan Allah membangun ruang religiositas. Religiositas baru yang dibangun Yesus Kristus diwarnai oleh relasi akrab bersahabat antara manusia dengan Allah. Dalam Yesus Kristus Sang Anak, kita menjadi anak-anak Allah. Melalui Yesus Kristus itu pula kita dimasukkan dalam intimitas persahabatan dengan Allah. Oleh Kristus kita tidak lagi disebut hamba, tetapi sahabat, karena kepada kita diberitahukan misteri hidup ilahi sepenuh-penuhnya (bdk. Yoh 15:15).
Pengalaman rohani akrab bersahabat dengan Allah membuat kita mampu “melihat bumi baru dan langit baru” (Why 21:1), tempat semua makhluk hidup bersama sebagai sahabat-sahabat dan saudara-saudari kita.

b. Mengangkat martabat pribadi manusia

Agar menjadi semakin manusiawi, manusia membangun ruang tata-nilai moral yang didasarkan pada martabat pribadi manusia. Di dalam ruang tata-nilai moral itu, manusia secara pribadi maupun bersama memperjuangkan terwujudnya yang baik, benar dan indah.
Atas dasar martabatnya setiap manusia, perempuan dan laki-laki, mempunyai hak-hak dasar untuk menghayati iman karena keyakinan dan pilihan pribadi. Dan setiap manusia mempunyai hak bersama-sama membangun komunitas politik untuk memperjuangkan kepentingan umum.
Tanggungjawab untuk mengangkat pribadi manusia, perempuan dan laki-laki, terlaksana bila kita menghormati manusia sebagai manusia, bukan karena sebab lain. Upaya mengangkat martabat pribadi manusia teruji dalam sikap hormat kita kepada mereka yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Tanggungjawab ini harus diperjuangkan tanpa pandang bulu, mengatasi konstruksi budaya yang membuahkan ketidakadilan jender, mengatasi sikap pilih-pilih karena perbedaan suku, agama, ras dan penggolongan yang merendahkan martabat manusia dan memecahbelah masyarakat.
Dalam budaya patriarki yang feodalistik, perjuangan kesetaraan jender perlu diutamakan agar pandangan bahwa martabat laki-laki lebih tinggi daripada perempuan semakin terkikis habis. Cara pandang yang keliru seperti itu merupakan salah satu sebab tindakan kekerasan terhadap perempuan, baik dalam lingkup keluarga maupun dalam lingkup yang lebih luas. Gerakan kesetaraan jender memperjuangkan kesetaraan martabat perempuan dan laki-laki sebab “perempuan dan laki-laki adalah citra Allah” 3 .

c. Memelihara keutuhan ciptaan

Nilai baik, benar dan indah ditemukan dalam keutuhan ciptaan. Bumi langit diciptakan Allah, dalam keadaan baik adanya. Bahkan manusia, perempuan dan laki-laki, diciptakan-Nya dalam keadaan sungguh baik adanya, karena diciptakan Allah “menurut gambar dan rupa Allah” (bdk. Kej 1: 26).
Karena serakah – yang oleh St. Paulus disebut sama dengan menyembah berhala (bdk. Ef. 5:5) – manusia merusak keutuhan ciptaan, sehingga sirna pula kebaikan, kebenaran dan keindahan. Pada zaman kita semakin rusaklah keutuhan ciptaan karena keserakahan dipicu oleh pola hidup konsumtif, dan ketamakan didukung semangat hedonisme. Kecenderungan akan dosa didorong egoisme. Namun Allah Pencipta tidak tinggal diam. Allah tetap mencipta, selalu kreatif, dan menyelamatkan dunia dari kehancuran dengan mengutus Putra-Nya Yesus Kristus, Penyelamat dunia. Dan dalam Roh Kudus-Nya Allah senantiasa memperbarui seluruh muka bumi.
Didorong oleh daya ilahi, kita murid-murid Yesus dipercayai tugas untuk memelihara keutuhan ciptaan.4 Di dalam tugas memelihara keutuhan ciptaan itu terkandung pula tindakan menyelamatkan lingkungan hidup dari keserakahan manusia, serta memperbaikinya sesuai maksud Tuhan menciptakan lingkungan hidup, yakni “semua baik, bahkan amat baik adanya” untuk hidup manusia (bdk. Kej 1).

B. MEMBANGUN HABITUS BARU

Kehadiran Gereja akan dinamis dan bermakna dalam masyarakat Indonesia bila Gereja turut serta mengalami suka duka kehidupan bangsa. “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya” (GS 1)
Biarlah Roh yang memperbarui segala-galanya menyulut hati kita untuk memperbarui kehidupan masyarakat Indonesia yang rusak oleh karena salah urus dan terkena dampak globalisasi dan sekularisasi yang memiskinkan kehidupan.5

1. Konteks masyarakat Indonesia

Krisis multidimensi yang melanda masyarakat Indonesia menempatkan kita pada zaman serba sulit dan berat. Keadaan seperti ini tidak hanya dialami oleh bangsa Indonesia, tetapi juga oleh umat manusia sepanjang zaman. Pasang surut kebudayaan mewarnai sejarah hidup manusia, dan sejarah manusia diselamatkan dari kehancuran total oleh suatu kelompok yang disebut minoritas kreatif. 6 Kepekaan akan krisis dapat mencerahkan sekelompok kecil orang yang kreatif untuk menyadari, bahwa krisis dapat diubah menjadi saat tepat untuk bangkit dan bergerak,7 berjuang bersama membangun masa depan yang lebih baik. Kita berharap, agar Gereja Katolik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia dapat berperan sebagai minoritas kreatif bagi Indonesia, yang sudah berada dalam jurang kehancuran.

a. Ruang publik tuna adab

Sebagai bangsa kita bersepakat untuk bersama-sama membangun ruang publik yang kita beri nama Republik Indonesia di atas dasar Pancasila dan UUD 1945. Namun, kita saksikan sekarang setelah 60 tahun merdeka (1945–2005) Republik Indonesia masih menjadi ruang publik yang tuna adab.8

· Salah urus dalam ruang publik
Ruang publik menjadi tuna adab, karena tiga poros kekuatan di dalamnya yaitu masyarakat, negara dan pasar tidak melaksanakan perannya secara seimbang. Masyarakat warga yang mestinya dibangun atas dasar saling percaya dan saling hormat satu sama lain dirusak karena semangat komunalisme.9 Akibatnya rasa aman dalam hidup bersama hilang. Negara melalui badan-badan publiknya yang memiliki kuasa regulatip membangun hidup yang demokratis justru tidak menata hidup bersama dan tidak menyelenggarakan kepentingan umum. Akibatnya negara tidak menyelenggarakan kesejahteraan umum tetapi dimanipulasi oleh kepentingan kelompok. Pasar atau sektor bisnis yang semestinya menjalankan segala usaha dengan fair, justru semakin memenangkan yang kuat, dan menyengsarakan yang lemah.
Salah urus dalam ruang publik merusak mental bangsa, sehingga korupsi tetap merajalela, kekerasan tetap menjadi-jadi di mana-mana dan menebarkan ketakutan pada siapa saja, dan kerusakan lingkungan hidup semakin memprihatinkan. Kesemrawutan interaksi di ruang publik ini semakin runyam karena dipicu oleh globalisasi dengan kekuatan modal yang besar dan menguasai media massa.10

· Globalisasi dan sekularisasi yang memiskinkan
Globalisasi dan sekularisasi tidak semata-mata memiliki sisi negatif. Tetapi kerusakan pada ruang publik bisa makin parah apabila globalisasi dan sekularisasi dibiarkan meminggirkan yang lemah dan mengabdi pada kepentingan ekonomi semata. Kalau demikian globali-sasi dan sekularisasi dapat memiskinkan kehidupan umat manusia.
Globalisasi yang memiskinkan memperparah rusaknya ruang publik, karena manusia direndahkan sebab dipandang sebagai pelaku ekonomi semata, sebagai alat dan penikmat produksi. Tehnologi informasi yang seharusnya mendekatkan manusia satu sama lain, senyatanya mengasingkan orang. Uang yang seharusnya menjadi pelayan untuk meningkatkan mutu kehidupan, senyatanya menjadi tuhan (baca: berhala!) mahakuasa yang menentukan segalanya pada zaman kita.
Demikian pula sekularisasi dapat memperparah rusaknya ruang publik, karena manusia direndahkan sebab dipandang sebagai insan otonom semata, yang tidak tergantung pada Allah. Dengan demikian sekularisasi memiskinkan dan jatuh dalam sekularisme. Ruang religiositas yang seharusnya menjadi ruang penyembahan manusia kepada Misteri yang kudus, senyatanya dikosongkan dari pengalaman akan Allah yang sejati. Melalui media komunikasi kerinduan manusia pada Yang Ilahi dipuaskan dengan produk-produk buatan manusia sendiri. Tayangan televisi yang sarat dengan horor dan kekerasan dianggap dapat memenuhi pengalaman manusia pada yang menarik mempesonakan dan sekaligus menggetarkan dan menakutkan.
Dalam dimensi moral pada umumnya dapat dikatakan bahwa rusaknya keadaban publik terjadi karena orientasi tata nilai moral tidak sepenuhnya manusiawi. Pilihan orang akan tawaran-tawaran zaman global dewasa ini lebih ditentukan oleh rasa senang atau tidak senang, enak atau tidak enak, ingin atau tidak ingin, untung atau rugi, serta kalah atau menang.

b. Korupsi, kekerasan dan kerusakan lingkungan hidup

Pada tahun 1970-an telah ada peringatan bahwa kebocoran uang negara sampai 30%. Dan sejak itu ruang publik menjadi semakin tuna adab karena melakukan korupsi, kekerasan dan merusak lingkungan hidup semakin menjadi insting masyarakat. Kalau orang mendapat tugas mengurus keuangan dalam lembaga-lembaga pelayanan publik, insting yang muncul adalah bertanya berapa untung untuk diri sendiri dapat diperoleh. Tidak ada pelayanan tanpa suap. Maka, korupsi merajalela hampir dalam segala sektor pelayanan publik, bahkan menyusup pada lembaga negara yang seharusnya memberantas korupsi, menegakkan kebenaran dan keadilan. Korupsi menjadi semakin sulit dilacak, karena dana publik disimpan dengan rekening atas nama pribadi. Sungguh sangat menyedihkan, karena sampai sekarang korupsi menjadi bagian budaya Indonesia.
Nafsu terhadap milik membuat orang lupa. Orang Jawa mengatakan mélik nggéndhong lali. Lupa diri itulah yang dapat menjadi awal tindak kekerasan, baik dalam rumah tangga maupun dalam ruang publik. Keinginan memiliki sepeda motor sudah cukup menjadi alasan bagi seorang anak membunuh bapaknya, karena keinginan tidak terpenuhi. Keinginan memiliki harta benda dapat mendorong orang untuk merampok, bahkan dengan membunuh korban. Kekerasan juga dilakukan oleh pihak-pihak yang sebenarnya bertanggungjawab untuk memberi rasa aman pada masyarakat. Kekerasan dalam hidup bermasyarakat pun merajalela, karena orang main hakim sendiri tanpa mengindahkan tata krama hidup bersama. Sungguh sangat menyedihkan, bila kekerasan dilakukan oleh orang-orang beragama atas nama agama (misalnya: penutupan tempat-tempat ibadat, pembatalan paksa penyelenggaraan ibadat, dan lain-lain), karena agama dipandang sedemikian ilahi, sampai tidak manusiawi.
Tidak hanya manusia yang dijadikan korban tindak kekerasan, tetapi juga bumi langit dengan segala isinya. Rusaknya lingkungan hidup merupakan akibat tindakan kekerasan manusia karena manusia ingin memiliki seluruh isi bumi. Hidup konsumtif menjadi mentalitas orang zaman sekarang. Dengan mentalitas itu orang ingin menghabiskan segalanya bagi diri sendiri. Manusia memang “omnivoor”, pemakan segalanya. Tanam-tanaman hasil bumi dimakan, hampir segala jenis binatang dimakan, tanah dimakan, kayu-kayu hutan dimakan, hasil tambang dimakan. Bila barang-barang itu habis, temannya sendiri juga dimakan. Sungguh sangat menyedihkan, zaman sekarang manusia menjadi serigala bagi manusia.11
Apakah korupsi, kekerasan dan kerusakan lingkungan hidup kita biarkan merajalela, dan kita membiarkan diri hanyut dibawa arus zaman ini? Tentu tidak!

c. Perjuangan seluruh masyarakat

Krisis di segala bidang kehidupan masih kita rasakan dampaknya sampai sekarang. Menjadi sangat berat mengatasi krisis karena krisis disebabkan oleh insting buruk yang merusak perilaku moral hidup bersama yang menyebabkan ruang publik menjadi tuna adab.
Namun, masa krisis sebenarnya dapat menjadi masa penyadaran bagi seluruh masyarakat untuk melakukan perubahan yang mendasar dan mengembangkan. Kehidupan bangsa sedang bergerak menuju perbaikan dalam berbagai bidang. Usaha untuk keluar dari kiris bukanlah ikhtiar yang mudah melainkan membutuhkan kesabaran, kesungguhan, kerjasama dan keterlibatan semua pihak, terutama mereka yang memiliki wewenang untuk mengambil keputusan yang menyangkut banyak orang.
Umat Katolik adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, yang menjadi teman seperjalanan dalam membangun bersama bangsa dan negara. Karena itu, perjuangan membangun masa depan yang lebih baik adalah perjuangan bersama seluruh masyarakat.

2. Keterlibatan umat Allah Keuskupan Agung Semarang

Keprihatinan bangsa keprihatinan Gereja juga. Umat Katolik tidak bisa lepas tanggungjawab atas terjadinya kerusakan pada ruang publik yang terjadi khususnya karena korupsi, kekerasan dan kerusakan lingkungan hidup. Sebagai ungkapan tanggungjawab untuk membangun ruang publik yang berkeadaban, kita sebagai murid-murid Kristus, menyadari bahwa keterlibatan kita membangun masa depan yang lebih baik merupakan perwujudan iman kita.

a. Terlibat secara aktif

Menjadi penonton belaka tidak cukup. Kita harus terlibat secara aktif dengan menjadi pemain dalam pergumulan bersama membangun ruang publik yang berkeadaban. Keterlibatan secara aktif terwujud dalam kesediaan kita menyumbangkan gagasan, inspirasi, serta tindakan nyata untuk membangun habitus baru menurut fungsi dan tempat kita di dalam masyarakat.

b. Habitus baru

Habitus baru adalah istilah yang ditawarkan oleh Konferensi Waligereja Indonesia melalui Nota Pastoral, 1–11 Nopember 2004. Istilah ini merupakan kata kunci untuk membangun ruang publik yang berkeadaban.
Istilah habitus dipahami “sebagai gugus insting, baik individual maupun kolektif, yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi seseorang atau kelompok”. 12
Untuk mempermudah memahami arti insting kita dapat belajar dari binatang, yang reaksinya dikendalikan oleh insting. Melihat tikus, kucing langsung memburunya karena insting. Hidup manusia diperlancar oleh dorongan insting untuk bereaksi dalam cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi. Pada hidup manusia gugus insting tersebut disebut sikap hidup. Dalam tata nilai moral, perilaku manusia dapat dinilai sejauh mana merupakan perilaku yang manusiawi. Menurut tolok ukur tersebut ada insting yang menimbulkan reaksi merusak, tetapi juga ada yang menimbulkan reaksi membangun.
Kalau kita melihat bunga-bunga indah di taman, apa insting kita? Ada sebagian orang langsung saja memetik bunga itu, mencium-ciumnya, dan dalam waktu tak terlalu lama, sambil jalan, membuang bunga itu di sembarang tempat. Ini contoh gerakan insting yang merusak keutuhan ciptaan. Tetapi, ada pula orang yang langsung bersyukur kepada Tuhan dan berkata dalam hati, kalau ciptaan-Nya saja begitu indah, apalagi Sang Penciptanya. Ini contoh gerakan insting yang memelihara keutuhan ciptaan.

c. Berdasarkan semangat Injil

Roh Allah tidak merusak daya-daya kodrati yang diciptakan-Nya, tetapi menyempurnakannya. Bila orang beriman Kristiani membuka diri pada bimbingan Roh Kudus, maka daya akal budi, kepekaan hati nurani, dan kehendaknya dapat diperteguh untuk mengendalikan insting menjadi kekuatan yang menghidupkan, mengembangkan, mempersatukan dan membuat utuh kembali.
Sabda bahagia Yesus dan kotbah-Nya di atas bukit (Mat 5–7) memuat tantangan bagi kita semua untuk menentukan pilihan-pilihan dasar yang berbeda, bahkan bertentangan dengan pilihan-pilihan yang ditawarkan oleh dunia zaman ini.
Semoga kekuatan sabda-Nya menghibur hati kita juga, yang sekarang ini mendengarkan-Nya:

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya
Kerajaan Sorga.
Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya
Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga,
sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi sebelum kamu.” (Mat 5:1–12)

Gugus insting yang dijiwai oleh nilai-nilai Kerajaan Allah – yaitu hubungan akrab bersahabat dengan Allah, mengangkat martabat pribadi manusia dan melestarikan keutuhan ciptaan – dan didasarkan pada semangat Injil adalah habitus baru, sikap hidup yang baru. Disebut baru, karena dibandingkan dengan gugus insting lama, yaitu insting yang digerakkan oleh kekuatan jahat, yang menjauhkan manusia dari Allah, merendahkan martabat pribadi manusia dan merusak keutuhan ciptaan.
Habitus baru, buah dari gerakan Roh Kudus, mempersatukan dan membuat semua utuh kembali. Sebaliknya habitus lama adalah hasil pekerjaan si Jahat, yang mencerai-beraikan dan merusak segala-galanya. Kita menghayati hidup kita sebagai garam dan terang dunia dengan habitus baru (bdk. Mat 5:13–16) yang kita landaskan pada nilai-nilai injili. Kalau demikian umat Katolik dapat berperan sebagai komunitas kreatif yang mengembangkan budaya alternatif (Mat 5–7).

3. Habitus baru dibangun bersama-sama

a. Dalam keluarga, dengan menjadikannya basis hidup beriman

Keluarga dibangun di atas dasar ikatan cinta kasih antara suami isteri (monogam). Oleh suami isteri yang beriman Katolik, cinta kasih tersebut dialami berasal dari Allah yang menguduskan hubungan perkawinan mereka. Oleh karenanya perkawinan Katolik merupakan tanda dan sarana, atau sakramen cinta kasih Allah sendiri. Cintakasih yang berasal dari Allah itu kreatif, menumbuhkan, mengembangkan serta membuahkan ciptaan baru.
Pengalaman keluarga akan cinta kasih yang berasal dari Allah merupakan ruang untuk mengembangkan spiritualitas keluarga, yaitu pilihan hidup untuk memenuhi panggilan kepada kekudusan, menurut pola keluarga kudus di Nazaret. Di dalamnya Kristus menjadi pusat hidup. Spiritualitas keluarga yang berpusat pada Kristus hendaknya dikuatkan terus menerus dalam perayaan Sabda dan Ekaristi, serta doa sehari-hari. Doa yang diajarkan Kristus kepada kita, yang dikenal dengan Bapa Kami (Mat 6:5–15//Luk 11:2–4) memuat pokok-pokok spiritualitas hidup berkeluarga. Orangtua yang berdoa menjadi guru doa dan sekaligus saksi nyata bagi anak-anaknya. Spiritualitas keluarga menjadi basis hidup beriman bagi suami isteri, bagi relasi orangtua terhadap anak-anak, dan bagi anak-anak sendiri.
Karena itu, dapat dikatakan bahwa orangtua dalam keluarga Katolik menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak, terutama bila orangtua menjadi saksi iman. Orangtua Katolik bertanggungjawab tidak hanya dengan membesarkan anak-anak secara fisik, tetapi bertangungjawab juga dengan mendidik anak-anak beriman Katolik.
Keluarga Katolik yang terdiri dari orangtua Katolik dan anak-anak yang dibaptis secara Katolik adalah perwujudan ideal Gereja rumah tangga (=“ecclesia domestica”). Namun, dalam kenyataan ada juga orang beriman Katolik yang hidup dalam keluarga yang anggotanya memeluk berbagai agama. Bagaimana pun, cinta kasih yang tumbuh dalam keluarga, hendaknya tetap menjadi dasar untuk membangun budaya kasih dalam persaudaraan sejati.
Dalam kenyataan juga dialami betapa sulitnya bagi orangtua menanamkan nilai-nilai Kristiani bagi anak-anaknya. Kesibukan orangtua mencari nafkah sehari-hari sudah menyita waktu, sehingga tidak jarang orangtua mengatakan tidak mempunyai waktu untuk bertemu dengan anak-anak. Dalam kondisi seperti itu, tidak jarang anak-anak diserahkan saja kepada pembantu rumah tangga atau dititipkan kepada orang lain (yang bisa jadi tidak seiman). Justru dalam kondisi seperti itu, orangtua hendaknya semakin kreatif menemukan peluang-peluang untuk mengadakan perjumpaan dengan anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada mereka. Kehadiran kakek dan/atau nenek yang saleh, beriman dan penuh Roh Kudus dapat sungguh bermakna bagi penanaman iman untuk seluruh keluarga.
Pendidikan nilai dan iman Kristiani hendaknya dilaksanakan sesuai dengan perkembangan usia, menuju kedewasaan dan kematangan iman.13 Melalui pendidikan tersebut orangtua dan anak-anak akan mampu memiliki habitus baru dan melaksanakannya dalam ruang publik. Dengan demikian ruang publik diwarnai dengan semangat iman sejati, nilai-nilai yang baik, benar dan indah, serta pengabdian tanpa pamrih demi kesejahteraan bersama. Pada waktunya, kedewasaan iman tersebut tentu akan menjadi sumbangan dari mereka yang telah purna tugas (pensiun) untuk membaktikan hidupnya bagi perkembangan hidup Gereja di tengah-tengah masyarakat.
Keluarga yang mempedulikan pendidikan nilai dapat juga menjadi tempat tumbuhnya benih-benih panggilan hidup bagi anak-anak untuk menjadi imam, bruder dan suster serta aktivis-aktivis Gereja. Bila keluarga benar-benar menjadi tempat pendidikan kemanusiaan yang utuh orang-orang beriman Katolik akan siap juga terlibat secara aktif dalam pengembangan masyarakat, dan menyumbangkan nilai-nilai kemanusiaan yang sungguh bermakna bagi seluruh bangsa.

b. Dalam diri anak, remaja dan kaum muda untuk pengembangan umat

· Dengan melibatkan anak
Umat berkembang karena setiap orang beriman bertanggungjawab atas imannya. Orangtua Katolik yang membaptiskan anak mereka berarti mau melibatkan anak sejak dini dalam kehidupan menggereja. Membaptiskan anak tidak berlawanan dengan hak kebebasan beragama, tetapi merupakan perwujudan tanggungjawab orangtua terhadap pertumbuhan dan perkembangan iman anak, karena orangtua yang bertanggungjawab memberikan apa yang diyakini sebagai baik kepada anaknya. Orang tua mempunyai kewajiban untuk mewariskan iman yang diyakini kepada anaknya.
Sudah pada usia sangat dini (bahkan sejak kandungan) anak merekam apa saja yang terjadi di sekitarnya, terutama apa yang terjadi dalam relasinya dengan orangtua, bapak dan ibunya. Sikap terima kasih dan syukur yang ditanamkan pada usia dini dapat menjadi awal membangun habitus untuk seluruh hidupnya. Sebaliknya bila hal-hal buruk terjadi di sekitarnya, seperti pertikaian antara bapak ibu, kata-kata kotor kerap terdengar, gambaran kekerasan terpampang terus pada layar televisi setiap hari, tanpa disadari semua itu juga terekam oleh anak dan berpengaruh pada cara merasa, cara bertindak, dan cara berelasi dengan orang lain. Pengalaman konkrit itu pulalah yang akan membentuk gambarannya tentang Allah. Bapa dan ibu yang sungguh mengasihi anaknya memudahkan anak untuk mengalami Allah sebagai pribadi, sebagai Bapa yang kuat perkasa dalam cinta kasih dan sebagai Bunda yang lembut dalam kerahiman.
Makanan bergizi yang diberikan pada usia dini sungguh menentukan pertumbuhan organ-organ otak kanan dan kiri, serta organ-organ tubuh lainnya. Pepatah mengatakan, “Jiwa yang sehat di dalam tubuh yang sehat!”14 Bila anak benar-benar bertumbuh dan berkembang secara seimbang, lahir-batin, jasmani-rohani, anak akan mampu menjadi guru yang jitu bagi perkembangan iman seluruh keluarga. Karena hasrat yang besar untuk mendapatkan berkat dalam perayaan Ekaristi (komuni “bathuk”) misalnya, anak dapat mendesak orangtuanya mengantar untuk ikut Perayaan Ekaristi. Yesus menegaskan peran anak bagi siapapun agar masuk dalam Kerajaan Sorga, dengan mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 18:3).
Bila saatnya anak masuk sekolah (Taman Kanak-Kanak, dan Sekolah Dasar), orangtua Katolik diharapkan sedapat mungkin memasukkan anak ke sekolah-sekolah yang mampu meneruskan penanaman nilai-nilai iman Kristiani yang telah dimulai di dalam keluarga. Sekolah Minggu merupakan ruang bagi anak-anak untuk berkembang dalam iman agar pembinaan iman anak (PIA) dapat terjadi. Kebiasaan orangtua membawa anak untuk mengikuti Perayaan Ekaristi (pada umumnya hari Minggu) sudah merupakan upaya yang berharga karena iman memang harus dihayati bersama seluruh umat. Menerima berkat satu per satu dari imam merupakan salah satu tanda bahwa anak dipersatukan dalam persekutuan umat beriman. Bila sudah cukup umur kurang lebih 10 tahun (sejajar dengan usia kelas 4–5 SD), orangtua jangan lupa mengantar anak untuk mengikuti pelajaran Komuni Pertama. Perkembangan hidup beriman diteguhkan pula dengan penerimaan sakramen Tobat sebagai sakramen belaskasih Allah.
Beriman secara bersama dikembangkan dengan melibatkan anak dalam kelompok putra-putri altar, dan/atau kegiatan-kegiatan lain sejenis. Pendidikan iman yang utuh pada masa kanak-kanak adalah dasar bagi pendidikan iman selanjutnya.

· Dengan melibatkan remaja
Memasuki masa remaja (sejajar dengan usia SMP) anak berkembang dalam pengalaman bersama dengan teman-teman. Pengalaman bersabahat memperkaya anak untuk berkelompok, baik dengan teman-teman sebaya di kampung halaman maupun di sekolah. Pendampingan dari orang dewasa diperlukan, agar kelompok-kelompok yang dibentuk oleh anak jangan sampai menjadi gang atau klik, yang menjadi awal komunalisme. Salah satu sumber kekerasan adalah penyakit sosial yang disebut komunalisme. Masyarakat yang terjangkit penyakit ini memandang orang yang tidak termasuk kelompoknya (agama, suku atau pengelompokan yang lain) sebagai saingan atau bahkan musuhnya.
Melalui persahabatan antar teman, anak diantar untuk mengenal Gereja dan mengalami Gereja sebagai paguyuban umat beriman. Hendaknya remaja terus didampingi dalam proses pembinaan iman remaja (PIR). Dengan begitu, para remaja dapat belajar bersama untuk dilibatkan dalam pembangunan umat dengan menjadi bagian dalam jaringan pendamping adik (japenda). Sakramen penguatan yang diterimakan oleh Uskup kepada mereka menjadi bekal rohani agar berani menjadi saksi Kristus dan misionaris kebaikan Tuhan, di mana pun mereka berada.
Semangat misioner yang dipupuk sejak dini semakin mendekatkan remaja dengan tanggungjawab mengembangkan iman dalam kerangka Gereja lokal. Remaja makin mencintai Gerejanya sendiri dan tidak mudah untuk meninggalkan lingkungan atau parokinya dengan dalih lingkungannya mlempem. Justru tanggungjawabnyalah untuk membangkitkan lingkungannya.

· Dengan melibatkan kaum muda
Melalui pendidikan yang berkelanjutan (sejajar dengan usia SMU/SMK, PT), baik melalui pendidikan formal di sekolah-sekolah maupun melalui pendidikan non-formal maupun informal, anak muda diantar untuk menguasai ilmu pengetahuan dan tehnologi agar semakin mengenal misteri kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan dunia. Pengenalan tersebut menjadi bekal yang berguna bagi anak muda agar mampu hidup mandiri, dewasa dan bertanggungjawab. Kreativitas dalam kewirausahaan perlu dihidupkan dalam diri orang muda, agar mereka mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin berat. Jangan sampai masalah besar (pengangguran, kelangkaan pekerjaan, dan lain-lain) membuat orang muda putus asa dan tanpa harapan untuk membangun masa depan.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi hendaknya dilengkapi dengan upaya mengembangkan iman. Katekese yang diterima pada masa katekumenat harus dilanjutkan dengan upaya-upaya kreatif memperkaya pengetahuan iman dan pendalaman penghayatannya. Kalau demikian kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi dapat memajukan kemanusiaan seutuhnya.
Perutusan menjadi saksi Kristus dapat menjadi daya kekuatan bagi kaum muda untuk terlibat secara aktif dan berjuang sungguh secara militan. Pada zaman sekarang profesionalitas dituntut agar orang mampu terlibat dalam bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, dan lain-lain, untuk menegakkan perdamaian dan keadilan demi kesejahteraan seluruh masyarakat.
Agar orang muda siap terjun di tengah masyarakat, pendidikan kader ditawarkan oleh berbagai pihak (misalnya Komisi Kepemudaan KAS dengan Youth Center) melalui cara yang memadai (misalnya modul-modul Formasi Dasar Orang Muda, Outbond). Pelatihan-pelatihan untuk membangun watak (character building) berdasarkan pendidikan spiritualitas yang utuh (spirituality formation) menjadikan kaum muda mampu membangun komunitas-komunitas hidup beriman yang handal dan tanggap (community building). Kaderisasi orang muda dapat terjadi juga bila mereka melibatkan diri secara langsung dalam pengembangan umat. Kepercayaan yang diberikan kepada mereka untuk menangani pembinaan iman, dan untuk menjadi pengurus Gereja, baik di tingkat lingkungan maupun paroki, merupakan sikap tepat melibatkan orang muda dalam menentukan masa depan Gereja.
Pergaulan yang sehat di antara kaum muda dapat membantu orang muda menemukan dan memilih pasangan hidup untuk membangun keluarga. Pergaulan yang sehat dibangun atas dasar hormat pada martabat pribadi manusia, perempuan dan laki-laki, seutuhnya. Pada kenyataannya, salah pengertian mengenai cinta, seksualitas dan seks di antara orang muda dapat membuat pergaulan tidak sehat. Bila cinta dimengerti sebagai seksualitas, dan seksualitas dimengerti sama dengan seks, maka hubungan seksual dikira boleh dilakukan di luar perkawinan.15 Agar orang muda memiliki pandangan yang benar dan baik tentang cinta, seksualitas dan seks, pembinaan harus sungguh-sungguh diupayakan. Bagi orang muda yang siap membangun keluarga, kursus persiapan berkeluarga (kursus perkawinan) hendaknya dijadikan kesempatan mempersiapkan diri secara pribadi untuk menerima Sakramen Perkawinan. Keluarga sehat, masyarakat sehat.
Melalui pengenalan pribadi dengan rohaniwan dan rohaniwati, pengertian tentang hidup bakti terjadi juga. Benih-benih panggilan hidup bakti dengan menjadi imam, bruder dan suster hendaknya menjadi pilihan yang pernah dipikirkan juga oleh kaum muda. Tuhan memanggil dan memilih orang-orang yang dikehendaki-Nya menurut cara-Nya sendiri. Terus-menerus kita mohon kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu, sebab tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit (bdk. Luk 10:1–12)

c. Dalam diri yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir dengan memberdayakan

Kenyataan zaman sekarang menegaskan bahwa mayoritas penduduk dunia miskin. Begitu juga mayoritas penduduk Indonesia miskin. Kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin tampak karena terjadinya proses pemiskinan yang disebabkan oleh ketidakadilan yang bersifat struktural. Gereja berada di pihak yang mana?
Bersumber pada iman kepada Allah yang solider pada kaum miskin dan tertindas, dan berpola pada hidup Kristus yang menjadi miskin untuk membela kaum miskin sampai mati, Gereja pun harus menjadi Gereja Papa Miskin. Itulah jatidiri Gereja. Pengurus Gereja di paroki-paroki Keuskupan Agung Semarang disebut Pengurus Gereja Papa Miskin (= PGPM).
Atas dasar pemahaman tersebut, perlu kita bangun habitus baru menyikapi realitas kemiskinan. Orientasi hidup Gereja bukanlah penambahan jumlah harta milik melulu: gedung, kendaraan, dan lain-lain, melainkan peningkatan mutu kehadiran yang semakin mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan. Kaum miskinlah yang empunya Kerajaan Allah. Harta milik merupakan sarana – bukan tujuan – untuk meningkatkan mutu kehadiran Gereja.
Dengan mengenal kenyataan hidup orang miskin – mungkin juga dengan hidup bersama dengan kaum papa miskin untuk beberapa waktu – dapat kita kenali daya kekuatan yang mereka miliki. Mereka mempunyai daya tahan untuk berjuang hidup dengan sarana-sarana yang sederhana. Mereka juga rela berbagi bukan karena kelimpahan tetapi karena hati yang sedia berbelarasa. Mereka gembira dalam menanggung nasib bersama, kreatif memanfaatkan peluang yang tidak banyak, serta cerdas menciptakan hal-hal yang berguna dari sampah. Ini semua merupakan kekuatan untuk usaha pemberdayaan bagi dan bersama dengan yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Tindakan anak kecil menyerahkan lima roti dan dua ikan kepada Yesus (bdk. Yoh 6:1–15) sangat mengesankan, dan dapat menjadi inspirasi untuk melanjutkan gerakan lima roti dan dua ikan pada zaman kita menjadi gerakan solidaritas yang berdaya di kalangan masyarakat akar rumput.
Kekuatan nyata kaum kecil, lemah, miskin dan tersingkir adalah bahwa jumlahnya banyak, dan merupakan bagian besar masyarakat kita. Karena kaum miskin sesungguhnya memiliki daya kekuatan, maka pemberdayaan yang memerdekakan hendaknya lebih diutamakan daripada kegiatan-kegiatan lain yang menciptakan ketergantungan. Karena itu, usaha-usaha kooperatif dalam berbagai bidang (kesehatan, ekonomi, pertanian, pendidikan, keuangan, dan lain-lain) hendaknya dijadikan pilihan dalam pemberdayaan masyarakat akar rumput secara terpadu.
Agar kehadiran Gereja sebagai Gereja Papa Miskin dapat dipercaya, harta milik Gereja hendaknya difahami sebagai milik Allah yang berasal dari umat dan dititipkan kepada Gereja untuk digunakan sebaik-baiknya bagi yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Kredibilitas Gereja Papa Miskin terwujud bila dana yang dialokasikan untuk yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir, sungguh dikelola secara transparan dan akuntabel, dan digunakan sesuai dengan tujuannya (setidak-tidaknya misalnya ada: 10% kolekte, dana APP).

C. POLA PENGGEMBALAAN

Tata penggembalaan yang mengikutsertakan (partisipatif), mengembangkan (transformatif) dan memberdayakan (empowering) seluruh umat seperti dianjurkan oleh Ardas KAS 2001–2005 hendaknya diteruskan. Tata peng-gembalaan ini hendaknya diberi pola sebagaimana ditegaskan oleh Ardas KAS 2006–2010. Pola penggembalaan yang terpadu memperhatikan beberapa dimensi dalam berpastoral secara bersama-sama: yaitu mencerdaskan umat beriman, melibatkan perempuan dan laki-laki, memberdayakan paguyuban-paguyuban pengharapan, memajukan kerja sama dengan semua yang berkehendak baik, dan melestarikan keutuhan ciptaan.

1. Umat Allah Keuskupan Agung Semarang mengembangkan pola penggembalaan

a. Yang mencerdaskan umat beriman

Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 merupakan salah satu alasan dibentuknya Negara Republik Indonesia.16 Hendaknya kita juga mengupayakan agar sebagai murid-murid Yesus, kita beriman secara cerdas. Kecerdasan yang diupayakan ialah kecerdasan yang utuh dan seimbang: intelektual, emosional dan spiritual. Kita beriman secara cerdas-utuh kalau kita dapat mempertanggungjawabkan iman dengan pengetahuan yang memadai, menghidupinya dengan sepenuh hati dan emosi yang dewasa, dan menghayatinya dengan semangat iman yang benar. Kita beriman secara cerdas-seimbang kalau dimensi-dimensi kecerdasan tersebut saling melengkapi satu sama lain, sehingga perilaku kita mengungkapkan kearifan dan hikmat kebijaksaan yang berasal dari pengalaman rohani yang dalam.
Mengembangkan pola penggembalaan yang mencerdaskan adalah hal yang mendesak pada zaman kita sekarang. Jangan sampai terjadi kita tidak mampu mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan sendiri dalam menyatakan iman dan mewujudkannya. Apa jawaban kita, bila orang menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada kita? Misalnya, mengapa kita membuat tanda salib, mengapa kita percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus, mengapa kita ke gereja pada hari Minggu, mengapa kita mengaku dosa kepada imam, mengapa kita menaruh hormat dan bakti kepada Bunda Maria, mengapa kita berdoa rosario, mengapa kita bersikap jujur, mengapa kita mencintai musuh? Karena itu, pendalaman pengetahuan iman perlu diperhatikan dalam katekese umat.
Untuk memperkaya pengetahuan iman kita, hendaknya kita rajin membaca buku-buku, majalah-majalah, brosur-brosur, dan lain-lain yang diterbitkan untuk maksud tersebut. Sangat bergunalah bila kelompok-kelompok umat melengkapi sarana-sarana pengembangan iman dengan perpustakaan yang memadai.

b. Yang melibatkan perempuan dan laki-laki

Salah satu gambaran mengenai keterlibatan perempuan dan laki-laki dalam hidup menggereja adalah sebagai berikut: pertemuan-pertemuan umat misalnya misa lingkungan, pendalaman APP, Adven, doa rosario dihadiri kebanyakan oleh ibu-ibu, sedangkan rapat-rapat pengurus lingkungan, pengurus Dewan Paroki dihadiri kebanyakan oleh bapak-bapak. Pada kesempatan rapat tersebut ibu-ibu biasanya sibuk di dapur. Anak, remaja dan kaum muda tidak terlibat. Paling-paling mereka yang mau diberi tugas parkir. Gambaran tersebut menerangkan juga, bahwa kaum laki-lakilah yang dominan mengambil keputusan yang menyangkut seluruh umat. Apakah gambaran tersebut kita biarkan begitu untuk seterusnya? Sudah begitulah tradisinya? Tentu tidak!
Di dalam surat Gembala KWI 2004 disadari kesalahan tradisi masyarakat dan Gerejawi yang telah melukai kesetaraan martabat perempuan dan laki-laki. “Kita merupakan bagian dari tradisi masyarakat dan gerejawi yang telah ikut melukai kesetaraan martabat yang mendatangkan penderitaan bagi kaum perempuan. Kita semua, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kecenderungan untuk tidak mau melihat bahwa ada masalah dalam relasi kita. Kita seringkali dengan tidak sengaja ikut memupuk sikap paternalistis yang memperkuat dominasi kaum laki-laki terhadap perempuan dan menguatkan kecenderungan perempuan menerimanya begitu saja”17 .
Kesadaran akan adanya kesalahan dalam relasi perempuan dan laki-laki tersebut merupakan langkah awal untuk membangun kesetaraan martabat perempuan dan laki-laki. Karena itu, perlu dikembangkan pola penggembalaan yang mengikutsertakan secara sadar seluruh kaum beriman, baik perempuan dan laki-laki, mulai dari pengambilan keputusan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya. Tak seorang pun, baik perempuan maupun laki-laki dapat mengatakan bahwa “itu urusan mereka dan aku hanya ikut saja!” Oleh karena itu, seluruh umat hendaknya dilibatkan melalui wakil-wakilnya, perempuan dan laki-laki, dalam mengambil keputusan-keputusan penting dalam berpastoral, dan keputusan-keputusan tersebut dilaksanakan bersama-sama pula.
Usaha melibatkan perempuan dan laki-laki dapat dimulai dengan mengubah pola pikir yang biasa terjadi dalam budaya patriarki yang feodalistik, bahwa perempuan itu “kanca wingking”. Sepanjang zaman banyak pula perempuan-perempuan yang berpendidikan tinggi, mampu bekerja secara profesional, berdedikasi secara tulus. Melibatkan perempuan dan laki-laki dapat mengubah wajah Gereja yang maskulin, menjadi Gereja yang berkeadilan jender.

c. Yang memberdayakan paguyuban-paguyuban pengharapan

Berpengharapan adalah bagian dari iman pada penyelenggaraan ilahi, bukan sekedar optimisme belaka. Harapan tetap bisa tumbuh, bila orang beriman bersikap terbuka tanpa batas pada kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak pernah masuk dalam pikirannya. Sangat mungkin, menurut perhitungan manusiawi suatu perbaikan tidak akan terjadi. Namun, tetaplah harus kita sediakan ruang tempat Roh Allah bekerja dengan cara-cara yang tidak kita duga sebelumnya. Allah berkarya lebih hebat daripada apa yang pernah kita kerjakan.
Kenyataan kemiskinan dapat mematahkan harapan orang zaman ini untuk lepas dari kesulitan, kesengsaraan dan penderitaan yang mendera kehidupan. Namun, hendaknya kita tetap kreatif, seakan-akan mencipta lagi dari ketiadaan, seperti Allah kreatif. Menjadi teman seperjalanan dalam melewati lorong gelap kehidupan, bisa jadi sudah cukup memberdayakan teman seperjalanan kita untuk melihat seberkas sinar sehingga ia mampu menatap masa depan kehidupannya dengan lebih baik.
Agar kesadaran menjadi teman perjalanan itu semakin kokoh, hendaknya dibangun paguyuban-paguyuban pengharapan.18 Dalam paguyuban pengharapan itu kita saling memberdayakan, bergandeng tangan berpegang erat untuk berjalan bersama, terutama bila kita sedang melalui jalan gelap kehidupan. Bila demikian, tidak akan ada orang yang putus asa sedemikian parah, sampai tidak ada jalan lain kecuali bunuh diri. Hati kita tidak boleh merasa tenang kalau mendengar isakan tangis anak kelaparan di samping kita.

d. Yang memajukan kerjasama dengan semua yang berkehendak baik

Roh Allah bekerja pada setiap orang, menanamkan kehendak baik di dalam hatinya kalau ia terbuka pada bimbingan-Nya. Kerja-Nya melampaui batas-batas ikatan suku, agama ras dan golongan. Karena itu, dialog,19 yang pada dasarnya merupakan pembicaran yang mendalam, merupakan jiwa kerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik. Dalam masyarakat majemuk, dialog kehidupan harus diusahakan sebagai iklim hidup bertetangga yang berkeadaban. Dialog tanpa kekerasan hendaknya dijadikan habitus baru dalam mengatasi konflik yang terjadi dalam bermasyarakat.
Alasan kemanusiaan hendaknya menjadi jiwa yang mempersatukan semua orang yang berkehendak baik untuk mengupayakan dialog dengan realitas kemiskinan, dengan kemajemukan budaya dan agama. Dialog yang tulus adalah jalan utama untuk menciptakan perdamaian dan menegakkan keadilan.

e. Yang melestarikan keutuhan ciptaan

Bumi dengan segala isinya serta alam semesta merupakan tempat kediaman seluruh penduduk bumi. Bila diurus dan diolah secara bertanggungjawab, bumi akan cukup menyediakan hasil yang menjadi rejeki bagi semua penghuninya. Tetapi bumi tidak akan cukup untuk memuaskan keserakahan manusia. Karena ketidakadilan dalam distribusi sumber daya dan kekuasaan, maka yang kaya kian kaya, yang miskin semakin tidak tertolong dan tak punya harapan, kelas menengah kian tersungkur.20
Sumber daya alam bukan tidak terbatas. Bila pohon-pohon di hutan ditebangi terus-menerus secara ilegal tanpa usaha menanam pohon-pohon baru, hutan akan menjadi tandus dan berubah menjadi padang pasir yang kering kerontang. Bila tambang-tambang dikuras akhirnya akan habis juga. Bila air tidak dihemat, orang-orang akan sulit juga memenuhi kebutuhan akan air. Bila proses pemanasan bumi meningkat terus, dan mencairkan salju di puncak-puncak gunung yang tinggi serta es pada kutub-kutub bumi, akan tenggelamlah sebagian daratan yang sekarang ada. Bila itu terjadi, bencana-bencana alam secara bertubi-tubi menyengsarakan seluruh penduduk di muka bumi.
Menjaga keutuhan ciptaan hendaknya diwujudkan dalam berbagai usaha melestarikan keseimbangan lingkungan hidup. Maka pastoral yang kita kembangkan adalah pastoral yang peduli pada pelestarian keseimbangan lingkungan hidup (eko-pastoral). Oleh karena itu, perlu kita upayakan suatu cara hidup organik, yang didukung misalnya oleh pertanian ramah lingkungan, yang memproduksi hasil-hasil tanaman organik.
Upaya tersebut perlu didukung dengan membangun habitus baru dalam hidup, yaitu hidup hemat dalam segala bidang, misalnya berani mengatakan cukup dalam menggunakan sarana-sarana bagi hidup yang wajar; membeli barang-barang tidak berdasarkan pada keinginan melulu, tetapi pada kebutuhan nyata yang betul-betul untuk hidup sederhana.
Habitus baru yang perlu dilakukan adalah menjadikan muka bumi ini taman yang indah, tempat semua penduduk tinggal bersama sebagai saudari dan saudara dalam keadilan dan perdamaian.

2. Penggembalaan berdasar data

a. Cara baru berpastoral: dari tradisi kepada opsi

Kegiatan pastoral dapat saja dilakukan menurut tradisi seperti yang sudah-sudah. Namun, dengan cara demikian kegiatan pastoral tersebut dapat menjadi rutin belaka, kehilangan rohnya dan tidak bermakna. Karena itu, perlu dikembangkan cara baru berpastoral: dari tradisi kepada opsi 21. Kepekaan menangkap tanda-tanda zaman, dan kesetiaan pada pesan Injil merupakan faktor penting dalam menentukan opsi.
Tanda-tanda zaman dikenali lebih baik bila dialami sampai menyentuh hati, diketahui secara cermat dengan data kuantitatif maupun kualitatif. Sedangkan pesan Injil dimengerti bila naskah Kitab Suci dibaca dan direnungkan, diolah dalam doa, meditasi dan kontemplasi, sehingga pesan Injil dapat menerangi tanda-tanda zaman tersebut. Dengan cara itu pilihan secara tepat dapat ditentukan.
Dengan cara baru berpastoral tersebut, sebelum menentukan kegiatan pastoral, tim pastoral hendaknya memahami dan memegang teguh visi dan misi, tidak berorientasi pada kegiatan semata. Kegiatan pastoral yang dipilih hendaknya diukur menurut dampak kegiatan dalam mengemban visi dan misi tersebut, yang berkaitan dengan kehadiran Gereja secara bermakna dalam masyarakat.
Cara baru berpastoral dapat dilaksanakan, apabila ada tim penelitian dan pengembangan yang berfungsi menyediakan data dan fakta sebagai informasi yang menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Dengan cara baru berpastoral, kita membangun habitus baru dalam mengenali situasi, menyinarinya dalam terang Injil, mengambil keputusan untuk menyusun rencana, menindaklanjutinya dengan aksi nyata, dan mengadakan evulasi yang bertanggungjawab.

b. Metode Dinamika Pastoral

Untuk membangun habitus baru dalam berpastoral, kita dapat belajar pada laba-laba yang memiliki insting bilamana membangun sarang bagi dirinya. Sarang laba-laba dibuat dari lendir yang dikeluarkan dari tubuhnya. Dengan gerak teratur dirajut jejaring yang berfungsi juga untuk menangkap mangsanya. Laba-laba akan siaga 24 jam sehari, tinggal di pusat jaringan dengan mata waspada, dengan sabar menunggu secara aktif, menanti rejeki datang dan dengan sigap mencaploknya. Dengan begitu laba-laba melestarikan hidupnya.
Berpastoral pun memerlukan suatu metode. Metode Dinamika Pastoral dipromosikan untuk mengembangkan karya pastoral di Keuskupan Agung Semarang. Gereja menunjukkan arah berpastoral, dengan menegaskan, “Merupakan tugas umat kristiani menganalisis secara obyektif situasi yang khas bagi negeri sendiri, menyinarinya dengan terang amanat Injil yang tidak dapat diubah, dan dari ajaran sosial Gereja menggali asas-asas untuk refleksi, norma-norma untuk penilaian serta pedoman-pedoman untuk bertindak”. 22
Dengan Metode Dinamika Pastoral kita dapat belajar bersama menghadapi masalah secara bersama, bertahap dan berkelanjutan. Dengan Metode dinamika Pastoral tersebut cara baru berpastoral berdasar data, dilanjutkan dalam empat tahap dan sepuluh langkah, mengikuti urutan SPIRALE.
Tahap-tahap Metode Dinamika Pastoral adalah sebagai berikut:

I. SITUASI POKOK dianalisis [2] untuk mengenali kekuatan, kelemahan, peluang serta tantangan (Strengths, Weaknesses, Oppor-tunities, Thwarts/Threats – SWOT atau TOWS–). Untuk analisis ini diperlukan data serta fakta [1] yang memadai mengenai situasi tersebut;

II. IMAN dijadikan sumber inspirasi untuk REFLEKSI [3] agar dapat dikenali apa kehendak Allah bagi situasi konkret tersebut. Refleksi tersebut dapat berdasar pada Kitab Suci, Ajaran Sosial Gereja, Arah Dasar Keuskupan ataupun Konstitusi. Dari refleksi itu diharapkan muncul keprihatinan pastoral [4], landasan untuk mengambil keputusan-keputusan berdasarkan iman [5];

III. RENCANA [6] disusun untuk jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang; AKSI NYATA [7] merupakan pelaksanaan rencana tersebut;

IV. LAPORAN untuk EVALUASI [9] dilaksanakan sebagai pertanggungjawaban terhadap seluruh proses dinamika pastoral. Untuk itu perlu pengawasan [8].

Dengan tahap-tahap tersebut diharapkan muncul kesadaran akan terciptanya situasi baru [10], yang menjadi awal untuk proses dinamika pastoral selanjutnya.
Metode tersebut dapat pula dikatakan sebagai suatu metode penegasan bersama, yang dalam budaya kita disebut musyawarah.23

EMPAT TAHAP - SEPULUH LANGKAH

METODE DINAMIKA PASTORAL

Disusun skema Metode Dinamika Pastoral (MDP) dalam 4 Tahap dan 10 Langkah, – agar MDP terperinci, mudah diingat dan dilaksanakan untuk mengembangkan Gereja sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban.

D. TEKAD BULAT SELURUH UMAT

1. Tekad bulat: niat ingsun!

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus hati bertekad bulat melaksanakan upaya pengembangan pastoral, karena dikobarkan oleh api Roh Kudus.
Memahami dan mengerti isi Arah Dasar baru menjadi lengkap bila disertai dengan sikap tulus hati bertekad bulat melaksanakannya. Karena itu segala daya kekuatan dipusatkan untuk membangun niat dan menindaklanjuti dengan tindakan yang nyata.
Kita katakan, “Tekad bulatku melaksanakan kehendak Tuhan, menegakkan Kerajaan Allah!” Orang Jawa mengatakan, “Niat ingsun ngemban dhawuh Dalem Gusti, hanjumenengaken Kraton Dalem!”

2. Seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang sadar benar bahwa penghayatan iman kepada Kristus menjadi subur karena dikembangkan pula hormat dan bakti – atau biasa disebut dengan devosi – kepada Maria. Maria menjadi pribadi khusus dalam karya keselamatan karena hubungannya yang istimewa dengan Yesus Kristus Puteranya.
Hubungan yang istimewa antara Maria dan Yesus ditandai oleh dua peristiwa penting dalam hidupnya. Yang pertama saat Maria mengucapkan pernyataan imannya, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah (fiat) padaku menurut perkataanmu”,24 sedangkan yang kedua saat Maria yang berduka berdiri (stabat) dekat pada salib Yesus.25 Dari “Fiat” sampai “Stabat” terbentang jalan salib kehidupan Maria: perjalanan dari Nasaret ke Betlehem, dari Betlehem ke Mesir, dari Mesir ke Nasaret, dan Nasaret ke Yerusalem. Sepanjang perjalananan itu, terungkap sikap iman Maria yang cerdas dan tahan uji, yang setia menjadi murid sampai akhir, yang pasrah aktif menerima segalanya dalam penyelenggaraan ilahi, dan yang tulus dan tekun dalam doa. Maria adalah hamba Allah yang setia menapaki jalan salib kehidupan Puteranya.
Maria juga mengalami daya kebangkitan Puteranya yang menjadi dasar untuk tetap berharap, meski seolah-olah tidak ada harapan lagi oleh karena kematian Puteranya. Ketika para murid putus asa karena kematian Yesus, Maria tetap setia hadir dalam kelompok rasul yang berdoa di ruang perjamuan menantikan kedatangan Roh Kudus (Kis 1:12–14). Maria adalah bunda Gereja yang meneguhkan para murid untuk membangun Gereja, sebagai paguyuban pengharapan. Maria – berkat rahmat kebangkitan pula – berada di garis depan peziarahan manusia dan menjadi teladan bagi seluruh Gereja memasuki tanah terjanji, Yerusalem surgawi.

3. Mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi dengan setia dan rendah hati

Hidup Maria menjadi inspirasi bagi kita untuk percaya kepada penyelenggaraan ilahi, menjadi pengikut setia Kristus dengan rendah hati. Maria telah mendampingi perjalanan hidup Yesus dan perjalanan sejarah hidup Gereja. Karena itu, Maria adalah juga teman seperjalanan hidup kita.
Kehadiran Maria, perempuan utama, dalam perjalanan sejarah manusia memberi semangat keberanian bagi upaya-upaya perjuangan kesetaraan jender, agar perempuan dan laki-laki, dihargai dan diperlakukan adil karena semartabat sebagai manusia.
Maria sebagai teman seperjalanan kita tentu menjadi teman seperjalanan juga bagi teman-teman lain dari komunitas-komunitas Kristen yang menimba inspirasi bagi hidup iman secara utuh dari Kitab Suci. 26 Bahkan teman-teman Muslim – sebagaimana tersurat dalam Al Quran – juga menghormati Maria Bunda-Nya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya. 27 Kita berdoa, agar semakin banyak orang diantar menuju Allah yang mempersatukan semua orang.
Seturut teladan Maria seluruh umat Keuskupan Agung Semarang mem-percayakan diri pada penyelenggaraan ilahi dengan setia dan rendah hati.

E. ALLAH BEKERJA BERSAMA KITA

Keutamaan-keutamaan hidup iman, harapan dan kasih dapat menjadi daya kekuatan bagi kita untuk membangun habitus baru dengan mengganti habitus lama. Keutamaan iman kepercayaan mengganti sikap tidak percaya kepada orang lain dan kepada Tuhan. Keutamaan harapan mengganti sikap mudah putus asa dan kehilangan harapan dalam kegelapan kehidupan. Keutamaan cinta kasih mengganti sikap hati penuh dengki dan benci. Pergeseran dari habitus lama kepada habitus baru memerlukan jalan pertobatan, proses transfomasi diri terus-menerus, perubahan hati untuk berpaling pada Allah. Karena sadar bahwa Allah bekerja sama dengan kita, maka kita bersyukur dan tidak sombong bila pekerjaan berhasil, dan bila gagal pun kita tidak putus asa.
“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” (Flp 1:9-11).

F. SAPAAN PASTORAL

Arah Dasar Umat Allah Keuskupan Agung Semarang 2006–2010 merupakan Arah Dasar baru dengan masa berlaku 2006–2010. Proses perumusan Arah Dasar ini memanfaatkan hasil penelitian Tim Angket Arah Dasar 2001–2005, yang melibatkan umat. Agar umat semakin mengerti, memahami, dan mampu menjadikan Arah Dasar sebagai peneguh dan pengarah dalam karya pastoral, sosialisasi Arah Dasar kepada seluruh umat sangat penting dilakukan.
Sosialisasi tersebut sebenarnya telah terjadi ketika umat diajak untuk terlibat dalam mengisi angket penjajagan dan penelitian; ketika umat dilibatkan juga untuk memberi masukan selama proses perumusan, serta ketika umat mengikuti pertemuan-pertemuan pada masa Adven 2005 untuk mendalami arti Arah Dasar Keuskupan. Agar roh Ardas semakin mampu menyulut hati umat, maka hendaknya selama tahun 2006 sosialisasi dilakukan oleh semua pihak kepada semua pihak, dengan cara-cara kreatif dan mengena, sehingga dengan semangat roh Arah Dasar tersebut terbangun habitus baru dalam hidup dan karya Gereja Keuskupan Agung Semarang.
Untuk itu disampaikan sapaan pastoral secara umum kepada seluruh umat Katolik Keuskupan Agung Semarang, dan secara khusus kepada kelompok-kelompok strategis yang mampu melakukan sosialisasi Arah Dasar tersebut.

1. Seluruh Umat Keuskupan Agung Semarang

Sosialisasi Ardas KAS 2006–2010 secara resmi untuk seluruh umat terjadi ketika Ardas diumumkan masa berlakunya dalam perayaan Ekaristi yang diselenggarakan pada hari Minggu, tanggal 1 Januari 2006, hari Raya Maria Santa Perawan Maria Bunda Allah. Pada waktu itu umat yang mengikuti perayaan Ekaristi (atau mengikuti perayaan ibadat Sabda) mendengar bahwa Ardas 2001–2005 sudah habis masa berlakunya, dan diganti dengan Ardas baru untuk 2006–2010. Mereka ini hendaknya memberitahukan kepada anggota keluarga, kelompok atau teman-teman lain mengenai Ardas yang baru tersebut.
Dianjurkan Ardas dan Nota Pastoral tentang Ardas dijadikan bahan pembelajaran secara pribadi maupun kelompok. Dengan demikian diharapkan seluruh umat dapat terlibat secara aktif membangun habitus baru berdasarkan semangat Injil.

2. Dewan Paroki

Para anggota Dewan Paroki (termasuk para pastor) tidak cukup mengetahui bahwa Ardas telah berganti. Lebih dari itu hendaknya Ardas 2006–2010 dipelajari bersama dan dimengerti betul-betul, difahami dan kemudian dijabarkan dalam rencana program kerja tahunan, dan dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan.
Pemekaran lingkungan sebagaimana digariskan dalam Pedoman Dasar Dewan Paroki yang dijabarkan dalam Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki, bila dilaksanakan dengan baik, akan membantu keluarga-keluarga untuk saling mengenal, saling mendukung dalam berbagai macam kebutuhan hidup. Kunjungan pastoral hendaknya diprogramkan sebagai cara gembala mengenal domba-dombanya. Perlu juga dibangun kerja sama saling melengkapi antara paroki dengan sekolah-sekolah Katolik yang ada di wilayah paroki. Para katekis mempunyai peran penting untuk melengkapi katekese umat dengan pengetahuan iman yang benar, sehingga umat semakin mantap dalam menghayati iman. Jangan sampai kesalahan masa lalu terulang. Tanpa dimengerti betul-betul Ardas sudah dijadikan landasan untuk menyusun program pastoral.

3. Keluarga-keluarga Katolik

Anggota keluarga yang pertama kali mengetahui berlakunya Ardas baru 2006–2010 hendaknya menyampaikannya kepada anggota keluarga lain sebagai kabar sukacita. Suami kepada isteri, isteri kepada suami; orangtua kepada anak, anak kepada orang tua; kakak kepada adik, adik kepada kakak, agar tersebar luaslah Ardas tersebut dan dimengerti oleh seluruh umat.
Sangat baik, bila setiap keluarga memiliki naskah Ardas 2006–2010 serta Nota Pastoral tentang Ardas. Dianjurkan naskah tersebut dipelajari, dan kemudian dijadikan inspirasi untuk mengadakan perubahan dari habitus lama menjadi habitus baru yang menyangkut peri hidup keluarga dalam Gereja dan masyarakat. Komisi Pendampingan Keluarga dapat berperanserta mengusahakan sosialisasi Ardas.
Anggota keluarga yang lemah, sakit dan tak berdaya dapat diminta bantuan doanya, agar karya pastoral di Keuskupan Agung Semarang dapat berkembang baik dan menghasilkan buah-buah baik untuk mewujudkan Kerajaan Allah.

4. Sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi Katolik

Pengurus Yayasan pendidikan bekerja sama dengan para guru dan dosen dapat memasukkan gagasan-gagasan pokok dari Ardas dalam mata pelajaran dan mata kuliah agama atau religiositas.
Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Semarang dan Majelis Pendidikan Keuskupan Agung Semarang (MPK KAS) dengan jejaringnya Badan Kerjasama Sekolah-Sekolah Katolik pada tingkat Kevikepan hendaknya mendorong dilaksanakannya sosialisasi Ardas.

5. Seminari dan Tempat Bina Hidup Bakti

Rektor Seminari bersama staf dan Pimpinan rumah bina hidup bakti hendaknya mendorong para anggota komunitasnya untuk mempelajari Ardas KAS dan Nota Pastoral, agar mereka semakin mengenal dinamika hidup Gereja di Keuskupan Agung Semarang. Dengan cara demikian sejak tahap awal, para peserta bina sudah mempunyai cakrawala hidup dan pelayanan yang luas.

6. Komunitas Hidup Bakti

Para pimpinan komunitas hidup bakti (suster, bruder dan imam) hendaknya menyampaikan kepada anggota komunitasnya Ardas dan Nota Pastoral, agar semakin besarlah kesadaran komunitas menjadi bagian (= sense of belonging) dari Keuskupan Agung Semarang.
Musyararah Pemimpin Religius Keuskupan Agung Semarang (MUPERKAS) dalam kerja sama dengan Ikatan Karya dan Hidup Religius Antar Rohaniwan-Rohaniwati (IKHRAR) hendaknya memastikan bahwa sosialisasi sungguh dilaksanakan.

7. Kelompok-kelompok Doa

Pengurus kelompok-kelompok doa di Keuskupan Agung Semarang telah membangun Jaringan Persaudaraan Antar Kelompok Doa di Keuskupan Agung Semarang (JARINGAN KODOK). Dengan sosialisasi Ardas dan Nota Pastoral tentang Ardas pada seluruh anggota kelompok-kelompok doa diharapkan spiritualitas khas masing-masing kelompok mendapatkan perwujudan nyata dalam konteks Keuskupan Agung Semarang. Dengan demikian hidup beriman seluruh umat pada tingkat lingkungan, paroki, kevikepan dan keuskupan diperkaya.

8. Penggerak Umat dan Masyarakat

Banyak umat yang menjadi penggerak umat dan masyarakat. Melalui berbagai jalur (pemerintah maupun non pemerintah), Ardas dan Nota Pastoral dapat ditawarkan sebagai bahan pembelajaran untuk mengadakan gerakan-gerakan sesuai dengan visi/misi dan kekhasan program yang dilakukan.
Melalui jaringan-jaringan pemberdayaan umat dan masyarakat, Komisi-Komisi DKP KAS hendaknya melakukan sosialisasi Ardas KAS dan Nota Pastoral Ardas. Sosialisasi juga diharapkan dikerjakan oleh Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang bekerjasama dengan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) dan organisasi massa Katolik (seperti Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pemuda Katolik (PK) dan tim kerja yang lain (Jaringan Mitra Perempuan (JMP), Forum Refleksi Gender (FRG), dan lain-lain). Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) hendaknya mensosialisakan Ardas dan Nota Pastoral ini, bekerjasama dengan gerakan-gerakan pemberdayaan masyarakat akar rumput (misalnya Paguyuban Penggerak Swadaya Masyarakat (PPSM) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

9. Pusat Pastoral/Spiritual dan Rumah Retret

Pusat Pastoral maupun Spiritual serta rumah-rumah retret/khalwat atau panti semedi hendaknya menyediakan naskah Ardas dan Nota Pastoralnya di perpustakaan untuk menjadi bahan bacaan bagi mereka yang datang. Mendoakan Doa Arah Dasar menjadi sumbangan yang berharga bagi pengembangan karya pastoral di Keuskupan Agung Semarang.

10. Tempat-tempat Peziarahan

Devosi umat kepada Maria bertumbuh dan berkembang subur di Keuskupan Agung Semarang. Kenyataan tersebut diteguhkan dalam Ardas, agar umat didorong untuk bertekad bulat melaksanakan Ardas.
Dianjurkan agar acara-acara di tempat-tempat peziarahan dikemas sedemikian, sehingga dapat dijadikan kesempatan untuk sosialisasi Ardas bagi para peziarah. Peziarahan umat menjadi simbolisasi peziarahan seluruh Gereja bersama menuju tujuan akhir, rumah Allah.

11. Lembaga Media Komunikasi Sosial

Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Semarang (Komsos KAS) bertanggungjawab terhadap terlaksananya sosialisasi Ardas dan Nota Pastoral kepada seluruh umat. Dalam jaringan kerjasama dengan lembaga penerbitan/percetakan serta pusat audio visual hendaknya dilakukan sosialiasi Ardas dan Nota Pastoralnya. Tim Sosialiasi yang dibentuk diharapkan menyusun program-program yang menyapa dan menggerakkan seluruh umat, agar umat bangkit dan bergerak.

12. Semua Orang Yang Berkehendak Baik

Umat Katolik Keuskupan Agung Semarang bersyukur karena dikaruniai Allah teman seperjalanan mengarungi hal ihwal kehidupan masa kini. Perhatian, kepercayaan dan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik hendaknya ditingkatkan terus, agar kebaikan Allah semakin dapat dialami oleh semakin banyak orang.
Marilah kita melakukan gerakan bersama, dengan berbagai macam cara dan dalam kerja sama dengan siapa pun, membangun keadaban publik: menuju habitus baru bangsa, agar seluruh bangsa Indonesia berkenan kepada Allah. Ardas dan Nota Pastoral tentang Ardas dapat dijadikan bahan pembelajaran untuk melakukan gerakan bersama tersebut. Berpegang pada kata-kata St. Fransiskus Assisi, “Mari kita mulai lagi, karena sampai sekarang kita belum berbuat apa-apa”.

G. AGENDA KERJA 2006–2010

Mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan dalam konteks masyarakat Indonesia merupakan gagasan besar. Namun dalam kenyataan setempat gagasan besar itu hendaknya kita jabarkan dengan tindakan konkret. Think globally, act locally! Tindakan kita harus strategis, sebagaimana kita makan sepiring bubur panas. Berani menentukan pilihan yang tepat, meskipun pilihan tersebut suatu langkah kecil dan sederhana. Sepiring bubur panas bisa kita habiskan mulai dengan menyantap bagian pinggir yang sudah tidak panas. Tindakan tersebut merupakan opsi strategis, karena bisa jadi tradisinya tidak begitu. Dari tradisi kepada opsi!
Dalam Ardas KAS ada tema-tema yang berkelanjutan, yaitu roh Ardas yang harus menjiwai hidup dan pelaksanaan Ardas (alinea 1), pola pastoral (alinea 3) bagaimana roh Ardas dilaksanakan, dan ungkapan tekad bulat kita (alinea 4) serta keyakinan iman kita bahwa Allah tetap bekerja bersama kita (alinea 5). Agar rencana mewujudkan Kerajaan Allah secara bertahap dapat dilaksanakan, maka dengan tetap mengutamakan yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir (alinea 2), ditentukan fokus tahunan yang dijadikan benang merah agenda kerja lima tahun, sebagaimana tercantum pada agenda kerja 2006–2010 (alinea 2): 2006 untuk sosialisasi Ardas, 2007 untuk keluarga, 2008 untuk anak dan remaja, 2009 untuk kaum muda, dan 2010 untuk syukur atas habitus baru. Agenda kerja 2006–2010 tetap terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru sejauh dituntut oleh perkembangan situasi.



DOA ARAH DASAR UMAT ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 2006–2010

Bapa, Maha Pemurah, Pemelihara alam semesta,
kami bersyukur kepada-Mu
karena penyertaan-Mu yang bersahabat dengan kami
umat Allah Keuskupan Agung Semarang.

Kami bersyukur atas bimbingan Roh Kudus
yang meneguhkan dan mempererat paguyuban-paguyuban kami
sebagai murid-murid Yesus Kristus.

Bantulah kami untuk sanggup
mewujudkan Kerajaan Allah yang memerdekakan.

Semoga kami semakin erat bersatu dengan-Mu,
giat mengangkat martabat pribadi manusia,
dan mengupayakan keutuhan ciptaan
di bumi pertiwi Indonesia.

Bantulah kami agar mampu membangun habitus baru
berdasarkan semangat Injil.

Semoga keluarga-keluarga semakin menjadi basis hidup beriman;
anak-anak, remaja dan kaum muda
semakin terlibat untuk pengembangan umat-Mu.

Bersama dengan yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir
tumbuhkanlah dalam diri kami semangat untuk saling memberdayakan.

Semoga dalam hidup umat-Mu di keuskupan kami
berkembanglah pola penggembalaan yang mencerdaskan,
melibatkan perempuan dan laki-laki,
memberdayakan paguyuban-paguyuban pengharapan,
memajukan kerja sama dengan semua yang berkehendak baik
dan melestarikan keutuhan ciptaan.

Bersama Santa Maria, hamba Allah dan bunda Gereja,
teladan kesetiaan dan kerendahan hati,
kami persembahkan doa, niat dan upaya kami kepada-Mu
melalui Yesus Kristus Putera-Mu, Tuhan dan Pengantara kami.
Amin.


SEMBAHYANGAN KANGGO SEDYA JATI

UMATING ALLAH KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

2006–2010



Allah Hyang Rama Ingkang Mahamirah, Ingkang Murbèng Jagad,
kawula munjuk sembah nuwun,
awit pangreksa Dalem ingkang rumengkuh dhateng kawula,
para umat Dalem ing Keuskupan Agung Semarang.

Kawula matur nuwun awit tuntunan Dalem Hyang Roh Suci
ingkang neguhaken lan ngraketaken paguyuban-paguyuban kawula
minangka murid-murid Dalem Sang Kristus.

Paringa pitulungan supados kawula kwagang
mbangun Kraton Dalem ingkang paring merdika.
Mugi-mugi kawula sami sangsaya raket manunggil kaliyan
Sampéyan Dalem, sumanggem ngangkat drajating manungsa,
lan ngupadi lestantuning tumitah ing bumi Indonésia punika.

Paringa pitulungan supados kawula saged mbangun gesang énggal
adhedhasar jiwaning Injil.

Mugi-mugi para brayat sangsaya dados dhasaring gesang ngugemi pangandel;
laré-laré, remaja lan nèm-nèman
sangsaya grengseng ndhèrèk mekaraken pasamuwan Dalem.

Sesarengan kaliyan ingkang alit, sèkèng, miskin lan ketriwal
tuwuhna ing manah kawula semangat sami daya-dinayan.

Mugi-mugi ing gesanging umat Dalem ing Keuskupan punika
mekar pangreksaning umat ingkang damel wasis, jaler-èstri sami cawé-cawé,
paguyuban-paguyuban sangsaya kiyat ing pengajeng-ajeng,
saéka praya kaliyan ingkang sami saé kekajenganipun sangsaya raket,
lan wetahing tumitah sangsaya lestantun.

Sesarengan kaliyan Ibu Dèwi Mariyah,
abdining Allah lan ibuning Pasamuwan Suci,
tuladhaning kasetyan lan andhap asor kawula,
kawula unjukaken sembahyangan, niyat lan pakaryan kawula ing ngarsa Dalem, lantaran Sri Yésus Kristus Putra Dalem, Gusti lan lantaran kawula.
Amin.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home